Ingat Anak, Pertimbangkan Hal Berikut Sebelum Putuskan Bercerai

Ingat Anak  Pertimbangkan Hal Berikut Sebelum Putuskan Bercerai Ilustrasi

Covesia.com - Seorang bocah berusia 11 tahun di kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) di rantai oleh ibu kandungnya sendiri karena menolak saat disuruh mengemis.

Bocah malang bernama Zahra tersebut, berhasil melarikan diri dari rumahnya hingga ia sampai ke rumah salah seorang anggota polisi di Kecamatan Padang Barat.

"Anak ini cerdas, dia berhasil melarikan diri dari rumah dan menuju rumah salah seorang petugas di Padang Barat, kemudian baru diantarkan ke Polresta Padang," sebut Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Daeng Rahman,  Jumat (12/1/2018).

Berdasarkan pengakuan ayah Zahra, Moriz, ia tidak tau sama sekali jika Zahra dirantai oleh ibu kandungnya, karena ia sudah seminggu pergi melaut.

Selain itu kata Moris, dia dan ibu Zahra telah lama bercerai dan keduanya sudah memiliki pasangan baru.

Orangtua yang bercerai, jelas menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan anak. Banyak penelitian yang menyebutkan dampak buruk perceraian orangtua terhadap psikis anak.

Dikutip covesia.com dari alodokter, bagi anda para orangtua, pertimbangkan hal berikut sebelum memutuskan bercerai:

Tidak hanya orang tua yang tersakiti. perceraian juga dapat menyisakan luka pada anak yang mungkin saja akan terus dibawanya hingga dewasa. Dampak yang mungkin terjadi pada setiap anak bisa berbeda-beda. Hal ini tergantung dari usia anak pada saat perceraian, kondisi perceraian, dan kepribadian anak.

Sebagian anak akan mengalami kemunduran dalam belajar, sebagian anak mungkin akan merasa tidak akrab dengan orang tua ketika mereka sudah dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang orang tuanya bercerai pada saat berusia 5 tahun atau lebih kecil, tidak merasa memiliki ikatan khusus atau memiliki perasaan tidak nyaman bersama orang tuanya lebih besar dibandingkan anak yang orang tuanya bercerai setelah ia berumur 5 tahun.

Namun yang pasti, anak yang menghadapi orang tua bercerai akan merasakan kaget, sedih, cemas, marah, atau bingung pada saat yang bersamaan. Anak juga akan lebih mungkin untuk mengalami masalah dalam bersosialisasi. Ini adalah kondisi di mana anak akan merasa rendah diri dan merasa iri pada anak lain yang memiliki keluarga yang utuh. Walau sebagian anak juga mungkin untuk bisa melewati masa stres dan justru tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Masa Sulit Akan Lebih Mudah Dilewati dengan Bantuan Anda

Anda pasti tidak pernah mengharapkan perceraian, namun keadaan memaksa Anda untuk memilih perceraian sebagai jalan keluar. Pada saat ini, tidak hanya Anda yang membutuhkan pertolongan, anak juga memerlukan Anda dalam menghadapi kenyataan bahwa keluarganya tidak lagi utuh.

Bicarakan pada anak dengan tepat

Memberikan alasan kenapa Anda dan pasangan memutuskan untuk pisah mungkin bisa menjadi hal yang tidak mudah. Dalam membicarakan hal ini dengan anak dan pasangan Anda, penting untuk mengesampingkan perasaan marah. Bicarakan dengan tenang mengapa Anda dan pasangan perlu berpisah, meski tidak semua alasan perlu dibeberkan kepada anak. Atau bahkan menyalahkan salah satu pihak. Berilah pemahaman bahwa meski bercerai, anak akan tetap mendapatkan kasih sayang kedua orang tua dan ikatan orang tua dan anak tidak akan putus.

Jika anak Anda masih terlalu kecil untuk memahami ini, maka berilah pemahaman yang sederhana, misalnya Anda dan pasangan harus tinggal di rumah yang berbeda agar tidak bertengkar.

Pahami dan dengarkan anak Anda

Pada saat ini anak Anda juga merasa kacau dan mereka perlu merasa dimengerti. Cobalah untuk mengesampingkan kegalauan Anda, dan mulai dengarkan anak Anda secara seksama, lalu berikan respon spesifik terhadap apa yang ia bicarakan.

Hindari konflik dengan pasangan di depan anak

Peceraian sudah menyisakan luka di hati anak. Maka, jangan tambahkan dengan berdebat atau bertengkar di depan anak. Hindari hal ini sebisa mungkin karena dapat meningkatkan stres pada anak.

Jangan ganggu rutinitas anak

Perceraian berarti tinggal di lokasi terpisah dari mantan pasangan dan bisa berarti pindah tempat tinggal. Sebisa mungkin, kurangi beberapa hal yang bisa menganggu rutinitas anak. Contohnya sering berpindah tempat yang mengakibatkan anak perlu berpindah sekolah atau hal lain yang mengganggu rutinitas anak.

Perbaiki hubungan dengan anak

Rasa sakit akan sembuh melalui perasaan dimengerti dan hubungan kasih sayang. Ungkapkan permohonan maaf Anda kepada anak atas apa yang terjadi. Selain itu, sebisa mungkin Anda dan mantan pasangan tetap terlibat dalam kehidupan anak. Hilangkan ego dan biarkan anak tetap merasa bahwa ia tidak kehilangan kedua orang tuanya.

Sebagian orang tua juga melakukan kesalahan yang dapat memperburuk kondisi anak. Hindari berkeluh kesah pada anak Anda, karena mereka tetaplah anak-anak. Jika Anda ingin berbagi cerita, carilah orang dewasa yang bisa mendukung Anda menjalani masa sulit. Jangan jadikan anak sebagai perantara atau pengantar pesan Anda. Kondisi ini cenderung membuat anak lebih membenci salah satu pihak. Bagaimanapun, pada saat ini anak juga memerlukan bantuan Anda.

Perceraian bagaimanapun tetap akan menyisakan luka, baik bagi anak maupun orang tua. Dampak perceraian sendiri bisa menciptakan rasa hilangnya harapan anak untuk memiliki keluarga yang utuh. Jika perceraian adalah jalan satu-satunya cara, maka Anda dan pasangan sebaiknya melakukan pendekatan yang dapat membantu anak dalam melalui masa sulit ini.

(sea) 

Baca

Tolak Mengemis, Ibu Kandung Tega Rantai Anak di Padang

Kak Seto Mintak Cabut Hak Asuh Ibu yang Rantai Anaknya di Padang

Berita Terkait

Baca Juga