Menurut Penelitian, Pria Zaman Sekarang Semakin Lemah dibanding Dulu

Menurut Penelitian Pria Zaman Sekarang Semakin Lemah dibanding Dulu ilustrasi (foto; Pixabay)

Covesia.com - Dalam sebuah penelitian terbaru, disebutkan bahwa pria dewasa masa kini ternyata lebih lemah dibandingkan dengan para pria yang hidup 30 tahun lalu. Tak hanya secara fisik, tetapi hal ini juga yang melibatkan pekerjaan rumah yang mengharuskan pria turun tangan untuk melakukannya. Selain itu sikap dan pendirian pria di masa kini pun belakangan mulai luntur.

Pria dulu dan sekarang

Journal of Hand Therapy menemukan, bahwa pria berusia 20 hingga 34 tahun memiliki genggaman dan kekuatan cubitan yang lebih lemah dibandingkan dengan pria yang berusia sama pada tiga dekade lalu.

Bahkan, batas kekuatan genggaman pria berusia 25-29 tahun untuk mengangkat beban tercatat lebih rendah 26 kilogram daripada sebelumnya. Genggaman anda mungkin tidak terlihat penting kecuali anda seorang atlet kompetitif, tetapi sebenarnya kekuatan genggaman dapat menandakan kekuatan dari keseluruhan tubuh anda.

Bahkan, sebuah penelitian pada tahun 2011 yang diterbitkan di Journal of Strength and Conditioning Research menemukan bahwa kekuatan genggaman dapat memprediksi kekuatan dalam melakukan push-up dan kekuatan kaki saat mengangkat beban.

Terlebih lagi, penelitian di generasi sebelumnya telah menghubungkan kekuatan genggaman dengan berbagai masalah kesehatan yang serius termasuk radang sendi, penyakit jantung, stroke, dan kondisi neurologis lainnya.

Meski demikian, penelitian ini harus dikembangkan lebih lanjut untuk benar-benar mengetahui apakah kekuatan genggaman benar-benar berpengaruh pada kesehatan seseorang.

Lemah dalam hal tugas pria

Melansir Telegraph, pria kaum milenial yang memiliki jenggot dan mengenakan kemeja flanel belum tentu bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti mengganti bola lampu. Padahal, pekerjaan ini sangat identik dengan pria.

Pria milenial secara keseluruhan dianggap telah melemah. Keterampilan teknis dan sikap yang dapat diandalkan sebagai label seorang pria sebagian besar telah hilang pada masa kini.

Pelabelan tersebut pun semakin kabur ketika masyarakat berkembang dengan isu feminis dan kesetaraan gender.

Bahkan, ada penelitian yang menyebutkan bahwa pria milenial akan pasrah saja di pinggir jalan ketika ban mobilnya bocor. Mereka lebih senang meminta bantuan yang cepat daripada berusaha membetulkannya sendiri.

Sebuah penelitian juga menegaskan betapa banyak pria milenial yang tidak berdaya saat menghadapi masalah kerusakan barang. Tercatat hanya satu dari lima pria yang akan merasa percaya diri untuk menangani keran yang rusak.

Sementara itu, kesimpulan ini juga didukung oleh penelitian lainnya. Ditemukan fakta dua pertiga laki-laki milenial tidak tahu bagaimana mengganti oli di mobil mereka.

Lalu, hanya tiga dari sepuluh pria yang merasa nyaman dengan perabotan rumah yang harus dirakit terlebih dahulu. Secara keseluruhan, pria milenial mungkin tidak cukup efektif dalam merakit lemari atau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya biasa dikerjakan oleh kaum pria.

Mengapa bisa terjadi?

Salah satu penyebab dari fenomena melemahnya pria milenial mungkin karena kurang diberdayakan dalam pekerjaan-pekerjaan manual yang menuntut kekuatan dan stamina, seperti di bidang manufaktur dan pertanian.

Hal ini dikatakan penulis Elizabeth Fain, Ed.D., asisten profesor terapi okupasi di Winston-Salem State University di North Carolina, dikutip covesia.com dari laman klikokter.

Kaum pria tiga dekade lalu, bekerja di bidang pertanian, pabrik, dan manufaktur yang menuntut mereka bisa melakukan pekerjaan fisik. Berbagai pekerjaan inilah yang kemudian cukup efektif untuk memperkuat kekuatan fisik pria, terutama di bagian tangan.

Menurut Fain, pria masa kini yang bekerja dengan mengetik di komputer atau laptop cenderung hanya mengaktifkan kelompok otot yang lebih kecil. Alhasil, pria sekarang lebih lemah secara fisik.

Nah, untuk kasus dimana pria tidak nyaman dengan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan atau biasa disebut ‘pekerjaan pria’, bisa jadi karena emansipasi wanita juga telah menggesernya.

Bisa diperhatikan, pria di beberapa keluarga semakin mengambil peran aktif dalam mengasuh anak serta menangani pekerjaan yang lebih feminin seperti memasak dan mencuci pakaian.

Dengan demikian, anak-anak pun dibesarkan dengan konsep tersebut dan diberi tahu bahwa melakukan kegiatan wanita adalah hal yang wajar. Akibatnya, pelabelan terhadap kaum pria yang pernah ada pun lama-kelamaan pudar.

Telah dijelaskan mengapa pria milenial dianggap lebih lemah daripada kaum pria yang hidup 30 tahun lalu. Penelitian ini masih butuh penyempurnaan, karena pastinya para pria tidak ingin dianggap lemah. Yang pasti, dalam menghadapi perubahan zaman seperti sekarang ini, pria memang harus lebih kuat.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga