Ini Penyebab Banyak Orang Jadi Tidak Cepat Tanggap Saat Situasi Darurat

Ini Penyebab Banyak Orang Jadi Tidak Cepat Tanggap Saat Situasi Darurat ilustrasi

Covesia.com - Apabila anda menyaksikan keadaan darurat (misalnya kecelakaan atau perampokan) yang terjadi tepat di depan mata, anda mungkin akan langsung berlari ke lokasi kejadian dan membantu korban.

Namun, tentu tidak semua orang akan melakukan hal yang sama. Beberapa di antaranya bahkan hanya menjadi penonton karena percaya bahwa ada orang lain yang akan membantu. Sikap tidak peka yang satu ini dikenal dengan bystander effect.

Apa itu bystander effect dan apakah bisa dihindari? Berikut penjelasan lengkapnya dikutip covesia.com dari laman hellosehat. 

Kenali bystander effect, saat anda tidak cepat tanggap dalam situasi darurat

Bystander effect, dikenal dengan efek pengamat, adalah istilah saat seseorang memilih untuk tidak melakukan apa pun dan hanya menjadi penonton ketimbang mengambil tindakan. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa banyak jumlah orang yang ada di lokasi kejadian pada saat itu.

Semakin banyak jumlah orang yang ada, dia akan semakin percaya bahwa ada orang lain selain dirinya yang akan tergerak membantu. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot untuk turun tangan langsung.

Dalam sebuah penelitian, tim ahli menemukan bahwa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk memberikan bantuan tergantung pada berapa banyak orang lain yang ada di sekitarnya. Sejumlah peserta penelitian dibagi dalam tiga kondisi percobaan, yaitu sendirian di sebuah ruangan, dengan dua peserta lainnya, atau dengan dua orang penguji yang berpura-pura menjadi peserta normal.

Saat peserta duduk dan mengisi kuesioner yang ada di ruangan, peneliti mencoba menghadirkan suasana darurat dengan mengalirkan asap ke ruangan. Pada peserta yang sendirian, 75 persennya melaporkan asap tersebut kepada para peneliti. Sedangkan dalam ruangan yang terdapat dua peserta lainnya, hanya 38 persen yang melaporkan kejadian asap.

Pada kelompok terakhir, dua penguji dalam ruangan menyadari dan mengabaikan asap, ini menyebabkan hanya 10 persen peserta yang melaporkan asap tersebut. Maka terlihat jelas perbedaannya bahwa semakin banyak jumlah orang yang ada di sekitar, maka seseorang akan semakin tidak cepat tanggap terhadap situasi darurat.

Pada penelitian yang terpisah, Latane dan Rodin menemukan bahwa sebanyak 70 persen orang akan membantu wanita yang berada dalam kesusahan saat mereka hanya menjadi satu-satunya saksi. Namun, angka ini menurun dan tersisa hanya 40 persen yang benar-benar beranjak menolong saat ada orang lain di sekitar mereka.

Penyebab orang menjadi tidak tanggap dalam situasi darurat

Ada dua faktor utama yang memengaruhi sikap seseorang saat berada di situasi darurat yang membutuhkan pertolongan. Pertama, kehadiran orang lain memicu pembagian tanggung jawab.

Karena ada orang lain, anda pun tidak terdesak untuk segera mengambil tindakan. Anda menganggap semua orang yang ada di lokasi kejadian memiliki porsi tanggung jawab yang sama untuk membantu.

Kedua, anda mengacu pada reaksi orang lain. Bila orang lain gagal membantu, anda akan menganggap bahwa sebenarnya situasi darurat tersebut tidak membutuhkan respon.

Atau apabila seseorang melihat kerumunan dan tidak ada satu orang pun yang bereaksi, tubuhnya mengirimkan sinyal bahwa mungkin kondisi tersebut memang tidak membutuhkan bantuan anda.

Beberapa peneliti menganggap hal ini wajar, apalagi jika situasinya tidak memungkinkan untuk dibantu. Anda mungkin cenderung memilih untuk membantu dalam situasi darurat jika anda:

  • Mengenal korban 
  • Memiliki pengalaman atau kemampuan bela diri
  • Memiliki pengalaman pelatihan medis
  • Sudah memastikan orang itu memang layak mendapat pertolongan

Bagaimana caranya agar kita lebih tanggap dalam situasi darurat?

Bila anda dihadapkan pada situasi darurat yang membutuhkan tindakan, pahami kondisi sekitar dan ambil langkah segera untuk membantunya. Ingatlah bahwa orang lain pun kemungkinan besar berpikiran seperti anda, yaitu menunggu orang lain untuk bertindak. Karena itu, lebih baik segera tawarkan bantuan atau paling tidak periksa kondisi orang yang membutuhkan bantuan.

Bagaimana bila anda yang berada di posisi membutuhkan bantuan dan takut tidak ada yang menolong? Salah satu cara yang bisa Anda lakukan adalah dengan untuk memilih satu orang saja dari sekian banyak orang di kerumunan.

Lakukan kontak mata dan mintalah bantuan secara khusus terhadap yang bersangkutan. Dengan demikian, orang lain akan lebih sulit untuk menolak permintaan anda, bahkan mengajak orang lain untuk ikut membantu anda.

Tidak hanya menguntungkan bagi orang yang dibantu, si penolong sebenarnya juga mendapatkan keuntungan yang tidak disadarinya. Bersikap mulia dengan membantu orang lain dapat mengaktifkan bagian otak yang bertanggung jawab atas rasa penghargaan.

Selain itu, ini juga dapat mengurangi aktivitas otak yang berkaitan dengan tingkat stres. Alhasil, tingkat stres akan berkurang dengan suasana hati lebih nyaman.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga