Ada Temuan Baru, Ikan Kering Asal Pasbar Berbahaya Dikonsumsi

Ada Temuan Baru Ikan Kering Asal Pasbar Berbahaya Dikonsumsi Kepala Dinas Pangan Sumbar, Ir. Efendi MP saat menjadi pemateri dalam acara Strategi dan Aksi Pengawasan Pangan di hadapan Dewan Ketahanan Pangan Kota Payakumbuh di Hotel Bundo Kanduang, Padang Tiakar, Kota Payakumbuh, Rabu (5/12/2018) (Foto: Hajrafiv Sat

Covesia.com - Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat saat ini tengah melirik peredaran dan produksi ikan kering yang dilakukan oleh para produsen di Kabupaten Pasaman Barat. Pasalnya, hasil laboratorium memperlihatkan kandungan pestisida yang tinggi pada seluruh ikan kering yang dijadikan sampel. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Hal ini diuraikan oleh Kepala Dinas Pangan Sumbar Efendi di depan Dewan Ketahanan Pangan Kota Payakumbuh di Hotel Bundo Kanduang, Padang Tiakar, Rabu (5/12/2018).

“Ada temuan terbaru kami soal ikan kering asal Pasaman Barat. Para produsen melakukan pengawetan tidak lagi dengan formalin. Tetapi menggunakan pestisida. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan yang mengkonsumsinya,” kata Efendi.

Diliriknya ikan kering asal Pasaman Barat ini dikarenakan sekitar 80 persen ikan kering yang beredar di Sumatera Barat ini berasal dari Pasaman Barat. Karena itulah perlu dilakukan pengawasan terhadap salah satu jenis pangan ini karena menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat.

Untuk pengambilan sampel, Dinas Pangan mengambil ikan kering dari seluruh daerah di Sumbar yang didistribusi dari Pasaman Barat. Termasuk mengambil sampel dari beberapa produsen dan agen di Pasaman Barat.  

Kemudian, Dinas Pangan melakukan pengujian dengan meletakkan sampel ini disebuah ruangan di Kantor Dinas Pangan selama 8 bulan. Ternyata didapati ikan ini tidak busuk sama sekali dan tetap awet. Penasaran akan hal ini, Efendi melakukan uji labor terkait kadar formalin yang terdapat pada ikan. Ternyata hasilnya negatif.

"Awalnya kami melakukan pengujian kadar formalin, ternyata hasilnya negatif,” katanya.

Penasaran, Efendi kembali mencoba pengujian labor dan mengambil sampel untuk pestisida dengan melibatkan BPPOM. Didapati kandungan pestisida yang sangat tinggi.

"Labor yang kami pakai untuk pengujian ini adalah Labor milik Pemda DKI Jakarta. Itu labor terbaik se-Asia," katanya.

Usai mendapatkan hasil ini, Efendi mengaku langsung meminta dinas pangan setempat agar penyuplaian ikan kering ke daerah Sumbar dihentikan sementara waktu. Namun, sampai saat ini hal tersebut belum ditindaklanjuti.

"Hasilnya baru kami ketahui pertengahan November 2018 ini dan langsung memberikan laporan kepada dinas pangan setempat. Saya harap pemda setempat bisa menanggapi hasil labor kami ini dengan serius. Ini terkait dengan ekonomi dan kesehatan orang banyak," kata Efendi.

Baginya, kandungan pestisida jika masuk ke dalam tubuh manusia ini bisa meracuni darah. Bagi anak di bawah usia 15 tahun, hal tersebut sangat rawan karena ketahanan tubuhnya masih belum seimbang secara total. Karena itulah data rumah sakit se-Sumbar, sebanyak 35 persen adalah pasien di bawah usia 15 tahun.

"Dulu rumah sakit itu biasanya untuk orang usia lanjut. Tapi sekarang jangan heran banyak anak-anak jadi pasien di rumah sakit. Bahkan ada anak-anak sekarang sudah mulai banyak yang harus cuci darah atau terkena kanker usus. Ini akibat makanan yang dikonsumsi itu tidak sehat," katanya.

Kontributor Payakumbuh : Hajrafiv Satya Nugraha 

Berita Terkait

Baca Juga