Mbah Parno, 'Orang Kepercayaan' Arsitek Mesjid Istiqlal Dihadiahi Rumah Oleh Kemenag

Mbah Parno Orang Kepercayaan Arsitek Mesjid Istiqlal Dihadiahi Rumah Oleh Kemenag Menag memberikan hadiah secara simbolis sebuah rumah untuk pegawai tertua Istiqlal (Dok. Kemenag)

Covesia.com - Suparno atau Mbah Parno (90) mendapat hadiah sebuah rumah dari Kementerian Agama (Kemenag). Hadiah tersebut merupakan bentuk apresiasi Kemenag atas pengabdian dan semangat Suparno, yang merupakan pegawai Masjid Istiqlal yang tertua.

"Semoga membawa berkah dan manfaat. Ini ada bantuan dari ASN Kementerian Agama," kata Menag Lukman Hakim Saifuddin, dikutip dari press release Kemenag, Sabtu (5/1/2019).

Acara penyerahan hadiah secara simbolik berlangsung di gedung Kementerian Agama, Jl MH Thamrin, Jakarta, Jumat (4/1), bertepatan dengan Hari Amal Bakti (HAB) Kemenag ke-73.

Berdasarkan catatan Humas Kemenag, Mbah Parno adalah pelayan Friedrich Silaban, yang merupakan arsitek Masjid Istiqlal. Dia disebut sebagai saksi sejarah berdirinya Istiqlal.

Dikutip dari hasil wawancara Humas Kemenag dengan Mbah Parno, Rabu (28/9/2016), Mbah Parno lahir di Desa Kalimati, Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah, pada 1928. Dia merantau ke Ibu Kota sebagai kuli bangunan pada 1951.

Pada 24 Agustus 1952, saat Presiden Sukarno meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Istiqlal, Mbah Parno turut hadir karena diajak mandor bangunan yang merekrutnya. Saat itu usianya 24 tahun.

Setelah itu, Mbah Parno mendapat tugas merekrut kuli-kuli bangunan untuk membangun masjid dengan upah Rp 15 per hari. Karena Mbah Parno dinilai cekatan dan berkinerja bagus, Friedrich Silaban menjadikannya pelayan pribadi. Setelah masjid berdiri dan siap digunakan, Suparno diangkat menjadi pegawai Istiqlal. Tugas utamanya adalah mengantar surat.

Saat ini Mbah Parno bertugas mengomandoi jemaah untuk merapatkan dan meluruskan saf (barisan) saat salat jemaah Zuhur dan Asar, dengan gaji Rp 3,4 juta per bulan.

(dtc)

Berita Terkait

Baca Juga