Viral Cerita Pendaki Atasi Hipotermia dengan Bersetubuh, ini Cara yang Benar Menurut Dokter

Viral Cerita Pendaki Atasi Hipotermia dengan Bersetubuh ini Cara yang Benar Menurut Dokter ilustrasi

Covesia.com - Di media sosial ramai beredar soal cerita penanganan hipotermia oleh seorang pendaki di Gunung Rinjani. Disebut bahwa pendaki tersebut menolong teman wanitanya yang mengalami hipotermia dengan cara disetubuhi.

"Gw prnah ada kasus cwek hipotermia hampir mninggal di gunung rinjani, segala cara udh dicoba tpi cewek ini gak membaik, akhirnya ada anak mapala yg berpengalaman yg nyaranin untuk menyetubuhi cewek ini agar suhu tubuhnya hangat...," cuplikan cerita tersebut.

Apakah cerita benar terjadi atau hanya guyonan tidak diketahui pasti. Namun tangkapan layar cerita beredar di media sosial ramai jadi perbincangan netizen. Ada yang menyebut cerita tersebut salah kaprah terkait metode penghangatan skin to skin.

Hipotermia sendiri adalah kondisi yang terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah normal secara drastis. Normalnya suhu tubuh berada di kisaran 36-37 derajat celcius, nah bila terlalu rendah maka ada risiko terjadi penurunan fungsi organ vital.

dr Wisnu Pramudito D. Pusponegoro, SpB dari Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menjelaskan bahwa untuk mengatasi hipotermia pada dasarnya ada dua cara. Pertama adalah dengan penghangatan aktif (active warming) yaitu dengan mengaplikasikan sumber panas eksternal ke tubuh dan cara kedua penghangatan pasif (passive warming) yaitu mempromosikan panas dari dalam tubuh lewat lingkungan.

Metode penghangatan aktif contohnya dilakukan oleh dokter pada kasus hipotermi berat dengan operasi memasukkan cairan penghangat ke rongga tubuh. Sementara itu passive warming dilakukan menggunakan selimut, pakaian tebal, hingga mengonsumsi minuman hangat.

"Kalau hipoterminya ringan sampai sedang itu dengan cara pasive warming disuruh minum hangat, pakaian lembab atau basah diganti yang kering, kemudian diselimutin," kata dr Wisnu kepada detikHealth pada Selasa (23/7/2019).

"Kalau menurut saya sih berlebihan skin to skin," pungkasnya.

Sumber: DetikHealth

Berita Terkait

Baca Juga