Psikolog: Belum Ada Teori Tunggal untuk Simpulkan Kenapa Perilaku Homoseksual Dilakukan Seseorang

Psikolog  Belum Ada Teori Tunggal untuk Simpulkan Kenapa Perilaku Homoseksual Dilakukan Seseorang Kasandra Putranto (Antara)

Covesia.com - Oknum dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) digerebek warga. Penggerebekan itu didasari atas keresahan warga atas perbuatan pelaku yang diduga melakukan perbuatan mesum sesama jenis (Homoseksual) dengan seorang mahasiswa.

Penangkapan pasangan gay ini sontak menghebohkan warga Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, pada Sabtu (31/8) malam. Pasalnya perbuatan kedua pasangan di luar kebiasaan dan melanggar norma yang berkembang di masyarakat.  

Menyikapi hal demikian, apa sebenarnya yang menjadi penyebab sehingga pasangan ini mau melakukan hubungan intim yang diluar kelaziman tersebut?

Psikolog Kasandra Putranto menerangkan bahwa belum ada teori tunggal untuk menyimpulkan kenapa perilaku homoseksual ini dilakukan oleh seseorang?

Menurutnya ada beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya hubungan yang dinilai banyak pihak sebagai penyimpangan ini.

"Dari berbagai penelitian terkait perilaku homoseksual, disimpulkan tidak ada teori tunggal yang dapat menjelaskan terjadinya homoseksual," terang Kasandra dalam perbincangan via WhatsAap dengan covesia.com, Selasa (03/8/2019).

Ia merincikan terkait beberapa kemungkinan yang mendorong seseorang terjerat dalam perilaku lesbian gay, dan biseksual dan transeksual (LGBT) ini, diantaranya, yang pertama adalah faktor genetis, baik dalam hal hormon, kromosom maupun fungsi otak yang sampai saat ini ditengarai hanya mewakili prosentase yang kecil dalam populasi-populasi. 

"Kedua, faktor belajar. Ketika proses tumbuh kembang menjadi latar belakang, baik melibatkan stimulasi asosiasi maupun stimulasi reward. Sebagian mengadopsi perilaku karena ingin memperoleh kualitas-kualitas yang melekat pada gaya hidup tersebut," jelas psikolog klinis dan forensik ternama di Jakarta ini. 

Yang ketiga, Kassandra melanjutkan adalah faktor trauma. Faktor ini menurutnya sangat dramatis dan menentukan bagi para pelaku.

"Ketika seseorang pernah mengalami pengalaman seksual homoseksual di masa kecil ternyata berperan kepada fungsi otaknya dan kemudian membentuk preferensi dan perilaku homoseksual," tutur wanita kelahiran 17 Januari 1968 silam ini mengakhiri.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga