Suhatril, Pengusaha Muda Asli Lasi Agam yang Sukses Kembangkan Pabrik Keju Pertama di Sumatera

Suhatril Pengusaha Muda Asli Lasi Agam  yang Sukses Kembangkan Pabrik Keju Pertama di Sumatera Suhatril Sutan Rangkayo Basa (Foto: Istimewa)

Covesia.com - Keju, mungkin bahan makan berbahan dasar susu ini sudah sangat sering kita temui dalam makan sehari-hari. Tapi kebanyakan keju yang beredar di Indonesia merupakan komoditas Impor.

Tak banyak produksi keju dalam negeri, namun kali ini Pengusaha Muda asal Nagari Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, sukses menyedot perhatian melalui keberhasilannya mendirikan usaha pembuatan keju pertama di Sumatera.

Suhatril Sutan Rangkayo Basa yang merupakan lulusan S2 Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memulai usahanya sejak Maret 2018 silam. Beranjak dari sulitnya pengembangan susu segar, Suhatril memiliki inisiatif untuk mengolah susu dengan memperpanjang umur produk mencapai 1 tahun menjadi keju.

“Dengan mengolah susu jadi keju dapat memudahkan distribusi dan penyimpanan sehingga terciptanya jaminan pasardan kestabilan harga,” ungkap Suhatril kepada Covesia, Selasa (3/9/2019).

Pria kelahiran 38 tahun silam ini mengatakan usaha kejunya berjalan cukup baik. Dengan brand ‘Lassy Dairy Farm’ kemudian bermodalkan strategi pemasaran produk lokal dan makanan sehat tanpa pengawet, Keju produksi Lassy Dairy Farm ini dapat diterima oleh masyarakat.

"Pemasaran keju sudah merambah ke provinsi Riau dan Sumatra Utara. Sampai saat ini permintaan melebihi kesanggupan kami, dalam artian kekurangan bahan baku,” terangnya.

Suhatril mengakui tak ada persoalan dalam pemasaran. “Kita berasumsi butuh 1 tahun untuk diketahui, namun dalam hitungan bulan produk Keju Lassy Dairy Farm sudah banyak yang mengetahui,” ungkapnya.

Namun, ia menjelaskan bahwa kendala terdapat pada bahan baku. Sejauh ini produksi hanya mencapai 300 liter perhari. Sebagian diproses menjadi susu segar dan sebagian keju. Saat ini keju perhari 10-15 KG sedangkan permintaan mencapai 30-50. Kita butuh meningkatkan produksi. Tidak bisa instan, kita harus bersabar hingga produksi susu dapat ditingkatkan,” jelasnya.

“Sebenarnya, kendala bisa menjadi peluang bagi masyarakat sekitar, dengan kondisi tersebut pertenakan sapi perah bisa jadi peluang, meskipun bukan  budaya kita,” ungkapnya.

Suhatril mengatakan sampai saat ini ada 50 ekor sapi yang dimiliki, namun untuk produksi hanya 30 ekor.

“Jika persoalan bahan baku ingin diselesaikan dengan cepat, kita berharap pemerintah bisa memberi dukungan bantuan kepada kelompok tani lasi dengan jaminan produksi akan dibeli oleh keju lasi sehingga petani memiliki jaminan pasar produk mereka tidak akan laku di pasaran," tutupnya. 

Penulis: Laila Marni

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga