RumBaLa dan Budaya Literasi Keluarga Indonesia di Negeri Seribu Menara

RumBaLa dan Budaya Literasi Keluarga Indonesia di Negeri Seribu Menara Silvani Yuzarni dan anak-anak beraktivitas di Rumah Baca Latania. Foto: Dok. pribadi

Covesia.com - Rabu siang itu (8/5/2019) selepas zuhur di Distrik Nasr City Cairo, Mesir, aktivitas warga masih berlangsung dalam rutinitas sehari-hari. Sementara, siswa sekolah dasar sudah memasuki masa liburan. 

Di kawasan Hay Asyir—di mana mayoritas para mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan tinggi di Kairo tinggal—seorang anak 7 tahun, Latania, sedang duduk di rumahnya, menunggu penuh harap, akankah hari itu menjadi masa libur paling istimewa baginya? 

Ditemani ibunya Silvani Yuzarni dan adiknya Adam Muhammad Isa (1 tahun 7 bulan), mereka sedang menanti para tamu istimewa untuk datang ke rumahnya di apartemen Cairo Build 85 A No.1 Swissry B Gami' 10th. Latania menunjukkan mimik ragu, seolah-olah tak ada teman yang datang.  

Tak lama berselang, anak dengan nama lengkap Latania Zikralla Ansori seketika bangkit dari duduknya, menyambut sekitar sepuluh teman-teman di lingkungan komunitas masyarakat Indonesia di Mesir, yang datang berkunjung dan berkumpul membaca buku-buku yang sudah tersedia di RumBaLa, Rumah Baca Latania. 

Anak yang lahir di Kairo, 1 Februari 2012 itu, senang bukan kepalang. Suasana riuh riang gembira seketika tercipta di hari pertama RumBaLa dibuka. Latania pun seketika sibuk, mengambil dan membawakan buku untuk teman-temannya. Ia bertindak bak mentor andal, membacakan buku kepada anak-anak yang belum lancar membaca. Tak lupa, Latania mencatat setiap nama pengunjung yang datang ke RumBaLa. 

“Hari itu menjadi hari yang membahagiakan buat Latania dan Adam, juga buat saya dan suami,” ungkap Silvani, dalam surat elektronik yang diterima Covesia.com, pada Minggu (1/9/2019).

Saat ini Vani panggilan akrab Silvani, ikut suaminya merantau yang bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo. Hadirnya RumBaLa merupakan perwujudan cita-citanya sejak kecil yang kini sudah menjadi nyata.

“Saya terinspirasi dari kawan yang membuka tempat penyewaan buku. Kalau bisa dibaca gratis oleh anak-anak sekitar, kenapa tidak? Begitu pikiran yang sering saya utarakan kepada orang tua waktu itu,” kenang putri berdarah Minang.

Cita-cita semasa kecil wanita kelahiran Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau, 31 tahun silam ini muncul kembali ketika Latania berumur 6 bulan. Sejak saat itu dia mulai mencicil membeli buku. Saat dirasa cukup banyak dia mulai menyusun rencana mendirikan RumBaLa. 

“Tepat saat saya berulang tahun yang ke 31 pada tanggal 13 Februari 2019, saya ajak suami dan anak-anak berdiskusi mengenai hal ini,” sebutnya.

Rumah baca ini dicanangkan olehnya selain sebagai pendidikan literasi bagi Latania, juga sebagai pembelajaran dalam mengatur dan mengelola sesuatu. Dari rencana inilah rumah baca yang dirintis Vani dan keluarga diberi nama Rumah Baca Latania. Latania tentunya tetap dalam bimbingan Vani, diajak menyampaikan pendapat, mendata koleksi buku, mengajak teman-temannya, hingga menentukan bagaimana proses berjalannya RumBaLa. 

Saat persiapan, Vani nyaris tak menemukan kendala berarti. Vani dan suaminya Anshori menyisihkan dana Rp 7 juta untuk keperluan rak, penjilidan majalah dan menambah koleksi buku. Gagasan dan persiapan lainnya juga terinspirasi dari teman-temannya di komunitas Institut Ibu Profesional (IIP). 

“Saya belajar banyak dari komunitas ini dalam hal pendidikan anak, pengembangan potensi anak, salah satunya di bidang literasi,” ungkap Vani.

Kecondongan Latania terhadap buku menjadi poin penting. Vani selalu memenuhi permintaan Latania untuk dibacakan buku cerita. Menginjak usia 5 tahun 6 bulan, Latania sudah mulai lancar membaca. Ketika itu, Adam lahir dan kesibukannya bertambah. “Dia sempat sedih dan kesal ketika itu. Mungkin juga cemburu karena waktunya mulai terbagi,” ujarnya. 

Pada akhirnya Latania mulai terbiasa membaca sendiri. Meski begitu, Vani masih sering membacakan buku atau menemaninya membaca. 

Vani sangat beruntung, karena kecenderungan pada buku juga mengalir kepada si bungsu. Adam sejak kecil sudah mulai menampakkan ketertarikan pada buku. Seringkali Adam tiba-tiba mengambil buku dan meminta ibu atau ayahnya membacakan buku. “Kadang Adam duduk sendiri melihat-lihat gambar di buku sambil komat-kamit meniru kakaknya ketika membaca,” kata Vani. 

Berdirinya RumBaLa tak terlepas dari dukungan suaminya. Vani mangaku sempat tak ditanggapi serius oleh Anshori. Dukungan Anshori baru muncul saat Vani menyampaikan tujuan, sasaran dan anggaran yang dibutuhkan. 

“Suami lantas mendorong saya untuk menentukan deadline. Di sela-sela kesibukannya, ia menyempatkan diri membuat logo Rumah Baca Latania, menjilid majalah-majalah, dan membuatkan rak buku,” jelasnya.  

Anshori mendukung ide Vani secara moril dan materil karena dinilai bermanfaat bagi banyak orang, khususnya anak-anak. “Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Anshori, pria 33 tahun yang hobi melukis, fotografi dan desain. 

Dia juga memberikan motivasi dan berusaha semampunya memenuhi kekurangan-kekurangan yang ada di RumBaLa. 

Vani lalu menyebar informasi kepada rekan-rekan komunitas, serta lewat media sosial.  Semangatnya kian bertambah saat rekan-rekan dan para tetangga memberi tanggapan positif hadirnya RumBaLa di lingkungan komunitas masyarakat Indonesia di Mesir. 

“Menurut saya ini merupakan ide yang sangat bagus dan kreatif. Kita perlu berpartisipasi dengan membantu kegiatan Rumah Baca Latania,” ungkap Ling (38), ibu dua anak.

Hal senada juga diungkap rekan Vani lainnya, Ai Sulastri. “Ini ide kreatif yang anti mainstream. Dengan kondisi Mesir di mana anak-anak jarang bertemu satu sama lain, rumah baca ini menjadi mempermudah anak-anak saling bertemu,” ungkap inisiator Markaz Tahfiz Al-Fatih untuk anak-anak Indonesia yang berada di Kairo.

Hari pertama dibuka, RumBaLa cukup ramai pengunjung, meski masih sedikit orang tua yang proaktif ikut membaca bersama anak-anak. “Sebagian mereka masih dalam kesibukan masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan,” ujarnya. 

Kegiatan Rumah Baca Latania diadakan setiap Rabu dan Sabtu, pukul 13.00 hingga 16.00 waktu Kairo. Sementara, buku hanya boleh dibaca di tempat. 

Budaya Literasi Ala RumBaLa

Kecenderungan terhadap buku yang ditanamkan kepada Latania sejak balita telah berbuah manis. Latania memiliki kemampuan linguistik yang baik. Mampu menyampaikan pikirannya lewat kata-kata, memiliki perbendaharaan kata yang beragam, senang bercerita, berdiskusi dan dinilai kritis. 

“Dia juga cepat mempelajari bahasa baru, suka karya sastra seperti novel dan puisi. Juga menyukai sains, menggambar dan rekreasi. Penilaian para guru tentang Latania yang paling signifikan adalah kemampuan analisa yang baik dan unik. Kemungkinan besar disebabkan oleh kebiasaannya membaca dan berdiskusi,” terang Vani.

Sementara Adam yang saat ini berusia 1 tahun 10 bulan tentunya masih senang bermain, mempelajari hal baru seperti gerakan, lagu, ayat Alquran. 

Vani menilai anak yang kecanduan gawai bukan berarti tidak menyukai buku atau cerita. Tetapi Vani sendiri lebih memilih tidak memberi gawai kepada anak-anaknya. 

“Tidak seperti anak-anak Indonesia yang bebas bermain di halaman bersama tetangga dan saudara. Mungkin karena di Kairo, kurang lahan bermain, sehingga waktu mereka dihabiskan di rumah dan gawai sering kali menjadi pilihan hiburan bagi anak-anak,” ungkap lulusan S2 Filsafat Islam di Universitas Cairo.


Kehidupan masa kecil menjadi faktor lain yang berpengaruh pada capaiaannya saat ini. “Mungkin didukung kondisi di mana sedari kecil kami tidak memiliki televisi dengan banyak channel. Listrik di kampung kami juga kurang memadai. Sehingga buku dan majalah menjadi hiburan sehari-hari yang menyenangkan,” kenang wanita yang penah menjadi kontributor dalam penulisan buku “Peta Pemikiran Sosial Keagamaan di Mesir” (2017) dan “Asyiknya Belajar di 5 Benua” (2018).

Kepada Latania dan Adam, Vani menanamkan bahwa membaca adalah hiburan yang menyenangkan, buku adalah benda istimewa yang membuat mereka mengetahui banyak hal. 

“Karena pada dasarnya anak-anak suka semua hal yang menyenangkan, seru dan menarik,” imbuhnya. 

Beberapa langkah bisa diterapkan di rumah agar kegiatan membaca menjadi seru dan menyenangkan. Orang tua perlu rutin membaca, agar ini jadi contoh. Lalu tentukan jadwal membaca bersama anak-anak. “Pilihlah buku sesuai benda favoritnya, bisa hewan, mobil, robot, boneka, bola, laut atau luar angkasa,” lanjut Vani. 

Menciptakan tempat dan suasana yang menarik perlu dilakukan. Membaca dengan suara keras akan menarik perhatian anak. Walau anak tampak acuh dan tidak mendengarkan, namun ada saatnya anak akan tertarik pada apa yang dibaca. 

“Bacalah dengan gaya dan intonasi yang menarik, sampaikan makna yang ada dalam buku tersebut. Jika perlu, gunakan media seperti boneka tangan, wayang dan lainnya,” tambahnya.

Kebiasaan menaruh atau menyebar buku di tiap sudut rumah bisa menarik perhatian anak dan dengan mudah mengakses buku tersebut. “Jika anak masih suka merobek buku, board book adalah pilihan yang tepat,” sarannya. 

Jadikanlah buku sebagai hadiah saat anak berprestasi sehingga anak berpikir bahwa buku itu istimewa dan berharga. Buku juga bisa diberikan saat momen-momen atau fase-fase penting sehingga anak berpikir bahwa buku adalah sumber inspirasi. 

“Hal ini bisa diterapkan seperti saat anak pertama kali mempunyai adik, pertama kali masuk sekolah, belajar bersepeda, berenang dan lain sebagainya,” ulas Vani. 

Terakhir, ajaklah anak untuk proaktif dengan mengajukan pertanyaan sederhana terkait cerita dalam buku tersebut. Tanyakan pendapatnya, perasaan dan pengalamannya. “Ini akan mengasah daya analisa dan pemahaman anak,” ujarnya.

RumBaLa dan Cita-cita Generasi Literat 

Empat bulan RumBaLa berjalan, Vani merasa sudah mendapat hasil cukup baik, terutama pada kemampuan anak-anak bersosialisasi dan bertanggung jawab. Sementara, dampak positif pada Latania adalah ketika dia dengan senang hati menemani para pengunjung, membantu membacakan buku kepada temannya yang belum lancar membaca dan merapikan buku-buku pada tempatnya. 

Selain itu, kecenderungan anak-anak kepada buku semakin terlihat sejak ada RumBaLa. Anak-anak yang awalnya hanya bermain, sudah mulai fokus dan serius membaca. Dari yang awalnya hanya suka melihat gambar, sudah beralih kepada aktivitas membaca buku yang berbentuk cerita panjang. 

“Anak-anak juga bertambah pengetahuannya tentang banyak hal, berani menyampaikan pendapat dan mengambil kesimpulan tentang cerita yang mereka baca,” tambahnya. 

Hingga kini, sebanyak 30 anak sudah berkunjung dan berpartisipasi dalam aktivitas di RumBaLa. Sementara ada 10 anak yang rutin datang setiap pertemuan. Daya baca juga mulai meningkat dan bervariasi, dengan rata-rata membaca 20 buku setiap pertemuan.

Terkait koleksi buku, Vani belum membuat target jumlah tertentu karena saat ini masih mengandalkan keuangan keluarga. “Kalau ada rezeki, beli lagi. Kalaupun belum ada, ya bisa ditunda,” sebutnya.

RumBaLa memiliki 245 buku, sebanyak 116 buku berbahasa Indonesia, 78 buku berbahasa Arab dan 51 buku berbahasa Inggris. Kategori buku juga sudah cukup beragam, mulai dari sirah dan pengetahuan Islam, sains, komik, novel anak dan majalah. 

“Yang paling disukai anak-anak adalah jenis komik. Sedangkan rak buku, kami membuatnya sendiri,” tambah Vani.


Vani mengonsep RumBaLa dengan kegiatan lain berupa kerajinan atau keterampilan yang sudah diadakan pada awal Juli lalu. Diskusi sederhana seputar buku yang dibaca juga sudah terlaksana setiap pertemuan. 

“Pada acara crafting bulan Juli lalu, kami membuat pembatas buku ciamik dari kertas, setelah sebelumnya kami memberi penjelasan pada anak-anak tentang pentingnya menjaga buku beserta tips-nya. Sekitar 20-an anak dan beberapa orang tua meramaikan acara ini,” ungkapnya.

Dalam aktivitas RumBaLa, ada dua mahasiswi yang bersedia membantu mendampingi anak-anak. Ke depan, Vani ingin membentuk klub diskusi dan melatih serta mewadahi anak-anak yang mempunyai minat menulis, seperti majalah anak. 

“Pelatihan ini diharapkan dapat menggali minat anak-anak dalam menulis baik fiksi maupun nonfiksi,” sebutnya. 

Perjalanan RumBaLa masih panjang. Masih banyak pula rencana-rencana yang harus direalisasikan, guna memberi dampak besar pada kemanfaatan yang lebih luas. Latania dan Adam adalah sosok saat ini yang diharapkan Vani dan Anshori, menginspirasi anak-anak lainnya untuk tumbuh menjadi generasi literat, meski jauh dari kampung halaman, Indonesia.

Berita Terkait

Baca Juga