Sadfishing Lagi Tren di Media Sosial, Apa itu?

Sadfishing Lagi Tren di Media Sosial Apa itu ilustrasi

Covesia.com - Media sosial seperti Instagram, Facebook, WhatsApp, dan platform lainnya kini menjadi sesuatu yang tak dapat dilepaskan dari masyarakat. Hal tersebut disebabkan kemudahan memperoleh informasi tanpa harus bersusah payah seperti zaman dahulu kala.

Media sosial banyak dimanfaatkan sebagai ajang pamer. Pamer pasangan, pamer anak, pamer pakaian, pamer produk kecantikan, pamer tubuh, termasuk pamer kesedihan. Ternyata, tren pamer kesedihan ini disebut sebagai “sadfishing”. Dokter spesialis kejiwaan menyebutnya sebagai perilaku yang dapat merugikan diri.

Apa itu sadfishing?

Dirangkum dari berbagai sumber, sadfishing adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang membuat pernyataan berlebihan tentang masalah emosional mereka, demi menjaring simpati.

Istilah sadfishing diduga muncul sebagai deskripsi unggahan yang pernah dibuat selebritas seperti Justin Bieber dan Kendall Jenner. Keduanya pernah mengungkapkan secara terbuka tentang tekanan menjadi seorang figur publik sejak usia sangat muda.

Sekarang, istilah sadfishing lebih banyak digunakan untuk merujuk unggahan emosional orang-orang (umumnya menampakkan kesedihan), terutama usia muda, yang mencari dukungan dengan berbicara isu-isu seputar kecemasan dan depresi di media sosial.

Aksi menarik simpati yang penuh risiko

Dikatakan dr. Lidya Heryanto, SpKJ, dikutip covesia dari KlikDokter, membagikan kisah atau curhat sedih di media sosial bisa memicu orang lain untuk ikut merasakan kesedihan dan depresi yang serupa.

“Anda tidak pernah tahu bagaimana tanggapan orang lain yang membaca, mendengarkan, atau menyaksikan cerita tersebut di media sosial. Ada yang prihatin, ada yang bersimpati, atau mungkin ada juga yang makin frustasi atau depresi dibuatnya,” kata dr. Lidya.

“Oleh karena itu, jika memang ingin curhat atau membagikan kisah sedih di media sosial, sebaiknya perhatikan betul cara penulisan dan siapa saja yang akan membacanya,” tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Lidya juga mengatakan bahwa sadfishing adalah bentuk atau cara anak muda mengemukakan kerentanan dan kondisi psikologisnya lewat media sosial.

“Mereka ingin secara langsung mendapatkan perhatian. Bagi yang paham, mungkin akan langsung diajak diskusi dan menolong. Namun bagi orang-orang yang tidak paham, mungkin tindakan tersebut akan dianggap lebay,” tutur dr. Lidya.

Parahnya lagi, mereka yang tidak paham dengan kondisi tersebut juga mungkin melontarkan komentar negatif, yang merupakan bentuk dari perundungan siber (cyberbullying).

Saat seseorang sedang mengungkapkan emosinya dan berharap menarik simpati, tetapi yang didapat adalah komentar negatif atau diserang warganet, itu bisa berdampak buruk pada kondisi mental.

Disebut dr. Lidya, pelaku sadfishing yang justru menjadi sasaran empuk komentar negatif bisa mengalami kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, kesedihan yang makin dalam, dan merasa tidak ada yang mendukungnya.

“Jika itu semua terjadi dalam kurun waktu yang lama dan terus-terusan di-bully, bukan tak mungkin pelaku sadfishing akan menjadi depresi dan memiliki niatan untuk mengakhiri hidupnya,” dr. Lidya menerangkan.

Mencurahkan kesedihan atau emosi lainnya dengan cara lebih baik

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, dr. Lidya menyarankan untuk mencari media yang lebih baik untuk mengungkapkan kesedihan atau curahan emosional lainnya. Misalnya adalah dalam bentuk lukisan, tulisan, atau tarian.

Melukis

Menggambarkan kesedihan maupun kemarahan dengan melukis dipercaya bisa membantu melampiaskan emosi secara sehat. Tidak hanya itu, melukis juga dapat membantu tubuh melepaskan hormon bahagia. Nantinya itu akan menstimulasi perasaan relaks, sehingga pikiran bisa kembali jernih.

Menari

Kegiatan lain yang bisa dijadikan media untuk mencurahkan isi hati adalah menari. Selain pikiran jadi relaks, menari juga termasuk sebagai jenis olahraga kardio, sehingga dapat menunjang kesehatan fisik. Menari juga dapat melatih fleksibilitas dan keseimbangan tubuh dengan cara yang menyenangkan.

Menulis

Daripada berkoar-koar di media sosial, lebih baik tuangkan perasaan sedih ke dalam sebuah tulisan. Misalnya menulis jurnal harian, menuangkannya ke dalam puisi, dan lain-lain. Kegiatan ini dapat mengekspresikan diri melalui jalinan kata yang sesuai dengan apa yang dirasakan tanpa mengundang respons negatif.

Kata dr. Lidya, tren pamer kesedihan sadfisihing di media sosial bukan gangguan mental dan sah saja dilakukan. Namun, jika latar belakang sadfishing diakibatkan stres atau tekanan yang begitu besar, sebaiknya cari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Untuk anda yang melihat seseorang yang dikenal melakukan sadfising, jangan mengatai atau mempermalukannya. Jika mungkin, ajak ia bicara dari hati ke hati atau sekadar mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi. Mari manfaatkan media sosial untuk dengan lebih bijak!

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga