Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial Terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Covesia.com - Anak usia dini adalah anak yang masa perkembangannya harus distimulasi. Dalam perkembangannya terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan sejak dini, salah satunya yaitu aspek  perkembangan sosial emosional.

Aspek sosial emosional  ini juga erat kaitannya dengan perkembangan fisik, kognitif, bahasa, kreatifitas dan seni serta perkembangan moral dan agama. 

Aspek sosial ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan intelegensi serta psikologis anak. Aspek tersebut harus dikembangkan secara maksimal agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik ditahapan usia selanjutnya.

Aspek sosial  emosional adalah aspek yang sangat menentukan apakah anak dapat berkomunikasi atau berinteraksi baik dengan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Ketika  memberikan stimulasi, anak harus sering di ajak bersosialisasi dan belajar untuk mengenal diri sendiri baik secara fisik maupun psikologis agar potensi yang ada dalam dirinya dapat berkembang secara optimal.

Semua potensi yang ada dalam diri anak sangat tergantung pada orang tua. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam memenuhi kebutuhan dan hasrat untuk memperoleh kecukupan kebutuhan anak.

Saat ini fenomena yang terjadi di masyarakat, orang tua bahkan memanfaatkan anak sebagai sumber kesenangan dan sumber keuangan. Hal ini tentunya tidak hanya dilakukan di dunia nyata tapi juga di dunia maya.  Oleh sebab itu, orang tua harus berusaha memenuhi kebutuhan anak semaksimal mungkin.

Perkembangan teknologi yang semakin pesat  juga mendukung orang tua untuk melakukan berbagai cara agar kehidupannya berubah. Hal ini dapat digolongkan kepada tindakan eksploitasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksploitasi adalah pengusahaan,pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri, atau pemerasan  tenaga atas  diri orang  lain yang merupakan  tindakan yangtidakterpuji. 

Eksploitasi anak merupakan perbuatan yang dilarang oleh Undang-undang, karena perbuatan ini melanggar hak-hak anak dan memberikan dampak buruk bagi perkembangan anak. Pasal 13 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak disebutkan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan eksploitasi baik secara ekonomi atau seksual.

Saat ini eksploitasi tidak hanya dilakukan secara langsung namun dapat dilakukan melalui dunia maya. Media sosial adalah salah satu media yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan eksploitasi, dengan tampilan dan fitur yang beragam.

Berbagai jenis media sosial yang seringkali digunakan untuk melakukan eksploitasi ini diantaranya adalah facebook, Instagram, youtube. Tidak sedikit juga orang mendapatkan penghasilan melalui media ini, mulai dari ratusan, jutaan bahkan milyaran rupiah. Tentunya hal ini sangat menggiurkan bagi orang tua, sehingga mau menjadikan anaknya sebagai alat penghasil uang dari media sosial.

Tercatat hampir 150 juta penduduk Indonesia telah menggunakan smartphone dengan pengguna terbanyak berada di Pulau Jawa yaitu sebesar 67%. Selain itu, sebanyak 62% pengguna internet di Indonesia mengaku bahwa mereka hanya menggunakan smartphone dalam mengakses internet, dan tidak ada alat lain untuk mengakses internet.

Menurut CNN Indonesia pengguna Instagram pada bulan September 2015 mencapai 400 juta orang pengguna, pihak Instagram menyatakan ada sebanyak 95 juta foto dan video yang dipublikasikan ke Instagram setiap hari dengan 4,2 milliar like perharinya.

Sementara data pada tahun 2016 menyebutkan bahwa Instagram memiliki 500 juta pengguna setiap bulannya, dimana 300 juta merupakan pengguna aktif setiap hari. (http://cnnindonesia.com/Ada-22-Juta-Pengguna-Aktif-Instagram-dari Indonesia).

Fenomena Instagram  kini telah menjadi trend di kalangan masyarakat luas, tidak dapat dipungkiri Instagram menjadi aplikasi yang paling sering di akses pada saat ini. Tidak hanya Instagram, media sosial yang juga menjadi wadah untuk tindakan eksploitasi saat ini adalah youtube.

Dilihat dari fenomena yang terjadi saat ini, banyak anak usia dini yang dijadikan orang tuanya sebagai selebgram ataupun youtuber, seperti anak selebritis internasional maupun lokal.

Selain itu kasus serupa juga pernah dikemukakan oleh peneliti Fitri pada tahun 2017 dimana berdasarkan penelitiannya di Sekolah Dasar Negeri Tugu 3 Gunung Jawa Cihideung Tasikmalaya diperoleh hasil bahwa media sosial media berdampak negatif dalam pergaulan anak seperti anak menjadi anti sosial yaitu tidak mau sering berinteraksi dengan teman real secara nyata karena sudah nyaman dengan dunia maya.

Dewasa ini,aktivitas daring yang dilakukan oleh khalayak diseluruh penjuru dunia terbilang masif dan intensif. Ada banyak motif dan tujuan yang mendasari khalayak dalam penggunaan media sosial yang relatif menyita perhatian para akademisi dan peneliti, yaitu  swafoto (selfie),cyberwar, belanja daring, personalisasi diri pengguna, dan budaya share tentunya hal tersebut didasari oleh berbagai tujuan baik positif maupun negatif, salah satu tujuannya juga ada untuk melakukan tindakan eksploitasi. 

Dilatarbelakangi hal tersebutlah, penulis tertarik menyusun makalah yang berjudul “Dampak Eksploitasi Melalui Media Sosial terhadap Perkembangan Sosial Anak Usia Dini”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa rumusan masalah yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimanakah konsep ekploitasi dan media sosial?

2. Bagaimanakah perkembangan social anak usia dini?

3. Apa saja faktor yang menyebabkan eksploitasi anak?

4. Bagaimana dampak eksploitasi terhadap perkembangan social anak?

5. Bagaimana solusi atau upaya mengatasi eksploitasi anak melalui media sosial?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengertian eksploitasi dan media sosial.

2. Untuk mengetahui konsep perkembangan anak usia dini.

3. Untuk mengetahui faktor penyebab eksploitasi anak

4. Untuk mengetahui dampak eksploitasi terhadap perkembangan social anak.

5. Untuk mengetahui solusi atau upaya mengatasi eksploitas anak melalui media sosial.

PEMBAHASAN

A. Konsep Eksploitasi

Menurut KamusBesarBahasa Indonesia  (KBBI) eksploitasi adalah pengusahaan,pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. atau pemerasan  tenaga atas  diri orang  lain  merupakan  tindakan yangtidakterpuji.

Menurut Undang-Undang Republik  Indonesia  Nomor  23 Tahun  2002 pasal 13  ayat  (1) huruf b tentang perlindungan anak menyebutkan tentang perlakuan eksploitasi merupakan tindakan atau perbuatan yang memperalat memanfaatkan, atau memeras anak untuk memperoleh keuntungan pribadi, keluarga,ataupun goIongan.

Menurut pasal 13UU no.23 tahun 2002 menyatakan setiap anak yang dalam pengasuhan orang  tua  atau   wali,  dari perlakuan,a) Diskriminasi,b) Penelantaran, c) Kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan,d) Eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual, e) Ketidakadilan dan f) Perlakuan salah lainnya.

Makna eksploitasi menurut terminologi adalah kecenderungan yang ada pada seseorang untuk menggunakan pribadi lain demi pemuasan kebutuhan orang pertama tanpa memeperhatikan kebutuhan pribadi kedua (Kartono, 2001:180).  

Berdasarkan uaraian dan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa  eksploitasi merupakan tindakan pemanfaatan anak untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Terdapat beberapa bentuk-bentuk eksploitasi dan bentuk pekerjaan terburuk anak berdasarkan Undang-undang No.1 Tahun 2000, dan berdasarkan konvensi ILO No.128 adalah

(1) Segala bentuk perbudakan atau praktik sejenis perbudakan seperti penjualan dan perdangan anak, kerja ijon, perhambahaan (kerja paksa) atau wajib  kerja, termasuk pengerahan anak secara paksa dan untuk dimanfaatkan dalam konflik senjata.

(2) Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran untuk pelacuran, produksi  pornografi, atau pertunjukan-pertunjukan porno.

(3) Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk kegiatan terlarang, khususnya untuk produksi dan perdagangan obat-obatan terlarang sebagaimana diatur dalam perjanjian internasional yang relevan

(4) Pekerjaan yang sifat atau keadaan tempat pekerjaan itu dapat  membahayakan kesehatan, keselamatan atau moral anak.

Dari uraian di atas, eksploitasi melalui media sosial ini dapat dikategorikan dalam berbagai bentuk tindak eksploitasi yang tergolong sebagai pemanfaatan anak dan eksploitasi sosial, yaitu segala sesuatu yang dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan emosional anak, dapat berupa kata-kata yang mengancam atau menakut-nakuti anak, penghinaan anak, penolakan anak, menarik diri atau menghindari anak, tidak memperdulikan perasaan anak, perilaku negatif pada anak, mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk perkembangan emosi anak, memberikan hukuman yang ekstrim pada anak seperti memasukkan anak pada kamar gelap, mengurung anak di kamar mandi, dan mengikat anak, juga termasuk pada sektor jasa, terutama hotel dan hiburan, anak-anak direkrut berdasarkan penampilan, dan berkemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain. 

B. Konsep Media Sosial

Istilahmediasosialtersusundaridua kata, yakni “media” dan “sosial”.“Media” diartikan  sebagai  alat  komunikasi  (Laughey,2007;McQuail, 2003).Sedangkankata “sosial” diartikan sebagai kenyataan sosial bahwa setiap individu melakukan aksi yang memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pada kenyataannya, media dan semua perangkat lunak merupakan “sosial” atau dalam makna bahwa keduanya  merupakan produk dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs,2014).

Dari pengertian masing-masing kata tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang digunakan oleh pengguna dalam proses social, sedangkan jika digabungkan kedua istillahnya eksploitasi anak melalui media sosial dapat diartikan sebagai salah satu bentuk tindakan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dengan memanfaatkan anak sebagai dan pendayagunaan anak untuk kepentingan pribadi melalui perangkat komunikasi.

Saat ini eksploitasi tidak lagi terjadi secara terang-terangan atau terkesan kasar, tapi eksploitasi sudah lebih halus dan sekilas tidak terlihat seperti tindakan eksploitasi, yakni menjadikan anak sebagai selebgram dan youtuber tanpa memikirkan dampaknya terhadap perkembangan anak itu sendiri.

Penggunaan instagram sebagai komunikasi pembelajaran merupakan suatu fenomena baru yang ada didalam penggunaan media sosial,karena biasanya menggunakan cara komunikasi kelompok, komunikasi  publik,  ataupun  komunikasi konteks sejarah di mana pengalaman itu terjadi.

Ada berbagai macam media sosial yang booming saat ini yang paling mendominasi dan paling banyak digunakan untuk tindakan eksploitasi adalah instagram dan youtube.Instagram 

Salah satu media sosial yang saat ini sedang sangat diminati adalah Instagram. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna menggambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikan ke berbagai layanan jejaring sosial termasuk Instagram itu sendiri.

Instagram berhasil meraih kepopulerannya tak lain karena kebiasaan masyarakat sekarang yang cenderung narsis. Fitur kamera pada smartphone yang semakin meningkat dari segi kualitas menjadi salah satu penyebabnya.  

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ramadhanti dan Ridho (2016) dalam menggunakan instagram informan melakukan personal branding tanpa sadar dengan menata galeri instagramnya sesuai dengan image yang ia ingin tampilkan dan tanpa sadar membangun brand-nya yaitu “ketekogleng”. 

Informan berusaha menampilkan ke-khas-annya  dengan mengunggah foto-fotoyang menunjukkan kemampuan fotografinya dengan aliran landscape, culture dan  human interest.

Dalam kegiatannya melakukan personal  branding informan mendapatkan beberapa keuntungan dari instagram,seperti mendapatkan popularitas,dapat bergabung dan pengakuan dari komunitas fotografi, serta keuntungan finansial dari  lomba yang diadakan di Instagram.

Dilihat dari perkembangannya, Instagram adalah salah satu media social yang sangat digemari saat ini.

1. YouTube 

Media sosial ini mengedepankan layanan bertukar video antarpengguna. Awalnya, Youtube dipandang sebagai wadah untuk “menyiarkan diri”, serta menampung wacana budaya partisipasi dan kemunculan generasi konsumen baru yang lebih kreatif dan berdaya (Burgess & Green, 2009a, h. 4). Namun, seiring perkembangannya, Youtube menjelma menjadi sebuah media besar yang konten-konten videonya tidak hanya ditonton oleh anggotanya saja, tetapi juga oleh banyak orang dari seluruh penjuru dunia. (Mahameruaji dkk:2018).

Dilihat dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa youtube adalah salah satu media social yang bisa menyalurkan dan menyebarkan video-video pemilik akun.

C. Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Untuk mewujudkan dan mengoptimalkan potensiyang ada, anak usia dini tentunya harus distimulasi dari berbagai aspek. Aspek penting yang harus distimulasi yaitu aspek perkembangan social.

Dalam hal ini perkembangan perilaku social anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatkan keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Anak tidak lagi puas bermain sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan anggota-anggota keluarga anak ingin bersamaan teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.

Dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma, moral, dan tradisi: Meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerjasama.

Menurut Dini Sujiono(2009), ciri-ciri perkembangan social anak usia tiga sampai enam tahun ialah : menjadi lebih sadar akan diri sendiri , mengembangkan perasaan rendah hati, menjadi sadar akan rasial dan perbedaan seksual, dapat mengambil arah, mengikuti beberapa aturan, memiliki perasaan yang kuat ke arah rumah dan keluarga, menunjukkan suatu perubahan dalam hal perasaan atau pengertian dari kepercayaan pada diri sendiri, bermain parallel; mulai bermain permainan yang memerlukan kerja sama, menyatakan gagasan yang kaku peran jenis kelamin,  memiliki teman baik, meskipun untuk jangka waktu yang pendek, sering bertengkar tetapi dalam waktu yang singkat, dapat berbagi dan mengambil giliran, ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan pengalaman disekolah, mempertimbangkan setiap guru merupakan hal yang sangat penting, ingin menjadi yang nomor satu, menjadi lebih posesif terhadap barang-barang kepunyaannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial AUD(Hurlock,1995) ialah : factor lingkungan keluarga, factor dari luar rumah, dan factor pengaruh pengalaman social. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tugas perkembangan ataupun ciri-ciri perkembangan social akan berjalan dengan optimal apabila anak mampu belajar tahapan awal atau dasar sosialisasi dan komunikasi yang baik dan juga didukung oleh ligkungan yang baik.

D. Faktor Penyebab Eksploitasi Anak

Beragam faktor penyebab terjadinya eksploitasi anak melalui media sosial, dan yang sangat mendukung tentunya adalah kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, juga diciptakannnya berbagai aplikasi seperti facebook, intagram, whatsapp dsb.

Melalui media sosial orang tua dengan leluasa menjadikan anaknya sebagai alat pemenuhan kebutuhannya bahkan berdalih ingin menjadikan anaknya sebagai tokoh utama yang difigurkan, ditambah lagi oleh fisik anak yang mendukungnya menjadi selebritas atau public figure di media sosialnya, tidak hanya memfigurkan anaknya namun juga banyak yang memeras, menjadikan pengemis, memanfaatkan anak semata-mata demi kepentingan pribadi. Maraknya tindakan eksploitasi yang terjadi pada anak tentunya disebabkan oleh berbagai hal.

Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya eksploitasi anak, berdasarkan penelitian dari KPAI: 

1. Ekonomi

2. Lingkungan  

3. Pendidikan 

4. Lemahnya Penegakan dan Perlindungan Hukum

5. Keretakan dan Kekerasan Kehidupan Rumah Tangga

6. Perubahan Sosial dan Budaya

Terjadinya eksploitasi anak juga didorong dengan adanya prilaku manusia yang saat ini sudah menjadi budaya seperti pernikahan dini dan hutang. Faktor tersebut juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap terjadinya praktik eksploitasi anak.

Salah satu factor yang juga mempengaruhi adalah perubahan kualitas individu sat ini seperti maraknya budaya selfie, vlogger, youtuber tentunya juga menjadi faktor yang sangat mendukung selain itu juga di dukung oleh lemahnya controlling oleh berbagai lapisan masyarakat seperti psikolog, KPAI dsb.

Berkaitan dengan hal ini,khalayak lebih diperlakukan sebagai objek eksploitasi bagi kepentingan pasar,yakni media dan pengiklan. Namun,khalayak sendiri tidak merasa ‘dieksploitasi’ karena adanya anggapan atau ide mengenai masyarakat yang saling terkoneksi (networkedsociety), yang diterima sebagai suatu konsekuensi logis dari kemajuan teknologi dan dianggap sebagai suatu kewajaran, walaupun sesungguhnya merupakan bagian dari ideologi kapitalisme.

Disinilah konsep hegemoni dari Gramsci bisa dipakai untuk menjelaskan ide yang dianggap sebagai suatu kewajaran oleh masyarakat.

Selain factor negative tersebut terdapat juga faktor positif yang menjadi peluang terjadinya eksploitasi anak salah satunya adalah adanya keinginan dan ambisi orang tua yang  ingin menjadikan anaknya sebagai tokoh terkenal, sehingga dorongan itu mampu membuat orang tua melakukan berbagai cara yakni melalui media sosial. Juga bahkan factor yang ada dalam diri anak seperti  kecanduan anak bermain di dunia maya, hal ini membuat anak merasanyaman dengan dunia gadgetnya, dan lebih sering berselancar dengan dunia maya sehingga ia mau mengikuti keinginan orang tuanya untuk terus di ekspos ke media social.

D. Dampak Eksploitasi terhadap Perkembangan Sosial Anak

Dari berbagai factor tersebut dapat dipahami bahwa keluarga dapat menjadi faktor tunggal yang terpenting apakah seorang anak dilindungi atau tidak. Tentunya banyak kerugian yang dialami oleh anak akibat dari eksploitasi ini yang menyangkut fisik, psikologis, spiritual anak.

Tindakan eksploitasi anak melalui media sosial ini tentunya akan berdampak pada perkembangan social anak yaitu sebagai berikut:

a. Anak berbohong, ketakutan, kurangdapat mengenal cinta atau kasih sayang, dan sulit percaya kepada orang lain. 

b. Hargadirianak rendah dan menunjukkan perilakuyangdestruktif.

c. Mengalami gangguan dalam perkembangan psikologis dan interaksisosial.

d. Pada anakyanglebih besar anak melakukan kekerasan padatemannya, dan anakyanglebih kecil.

e. Kesulitan untuk membina hubungan dengan oranglain karena terbiasa dengan dunia maya.

f. Kecemasan berat, panik,dan depresi bermasalah disekolah.

g. Hargadirianak rendah sehingga tidak merasa percaya diri dalam berkomunikasi dengan orang lain.

h. Gangguanpersonality.

i. Kesulitan dalam membina hubungan dengan oranglain

j. Mengalami masalahyangserius padausiadewasa.

k. Tugas perkembangan sosial anak tidak berkembang dengan optimal dan tidak sesuai dengan usia.

Anak dituntut untuk bergaya dan berpose, adakalanya apa yang diarahkan tidak sesuai dengan usia anak sebagai bintang iklan tersebut, misalnya anak diminta sebagai bintang iklan harus bergaya layaknya orang dewasa memakai pakaian minim dan didandani menggunakan make-up.

Hal ini tentu sudah melampaui fitrah anak-anak yang pada dasarnya masih polos bertingkah apadanya namun dikontruksi sedemikian rupa agar dapar menyampaikan pesan dari produk yang diiklankan.

Menurut (Ngafifi,2014) salah satu dampak negative media social bagi anak adalah pola interaksi antar manusia berubah.  Hal ini tentunya dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan yaitu anak akan bersikap anti sosial dan akan sibuk dengan dunianya sendiri.

Namun, tidak hanya berdampak negative, eksploitasi anak melalui media sosial juga memiliki dampak positif, yaitu seperti anak akan memperlihatkan bakatnya dan meningkatkan kepercayaan dirinya.

E. Upaya  Mengatasi Eksploitasi Anak Melalui Media Sosial

Melihat hal ini, tentunya harus ada upaya yang dilakukan agar tindakan ini tidak menjadi masalah, beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah harmonisasi interaksi dalam keluarga, dikeluarga anak pertama-tama belajar memperhatikan keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja-sama, bantu-membantu, dengan kata lain ia pertama-tama belajar memegang peranan sebagai mahluk sosial yang memiliki norma-norma dan kecakapan-kecakapan tertentu dalam pergaulannya dengan orang lain.(W.A. Gerungan, 2004).

Jadi keluarga adalah lembaga yang berperan penting dalam pengembangan aspek sosial anak, karena jika hubungan dalam keluarga terjalin dengan harmonis dan fungsi keluarga dapat terjalankan secara optimal maka sikap antisosial ini tidak akan berkembang dalam diri seorang anak. Sebagai solusi atau upaya eksternal yang dapat dilakukan untuk mencegah tindakan eksploitasi anak melalui media sosial ini adalah sebagai berikut:

(1) Penegasan hak dan perlindungan anak, dalam arti anak harus mendapat perlindungan dari semua pihak terutama orang tua;

(2) Memaksimalkan pengawasan media sosial oleh berbagai pihak;

(3) Mengadakan sosialisasi tentang bahayanya penyalahgunaan media sosial bagi orang tua termasuk juga upaya sosialisi pentingnya menjaga privasi ataupun kerahasiaan tentang hal pribadi, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua terhadap bahayanya tindakan eksploitasi anak, serta agar orang tua dapat meningkatkan pengawasan terhadap anaknya dan meningkatkan proteksi terhadap anaknya;

(4) Psikolog dapat memberikan psikoedukasi berbasis keluarga dan masyarakat, merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh psikolog dalam mencegah tindakan eksploitasi ini;

(5) Memberi wawasan penggunaan media sosial dengan bijak kepada masyarakat umum oleh pihak terkait seperti kemkominfo dan lembaga lainnya. 

PENUTUP

a. Kesimpulan

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Eksploitasi merupakan tindakan yang sangat dilarang baik melalui tindakann nyata maupun melaui dunia maya. pelaku eksploitasi dapat diancam pidana sesuai dengan aturan yang ada di Undang-Undang. bahwa mediasosialadalah alatkomunikasiyang digunakanolehpenggunadalam proses sosial.

2. Perkembangan social merupakan proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma, moral, dan tradisi: Meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerjasama.

3. Faktor penyebab eksploitasi anakadalah kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat, juga  diciptakannnya berbagai aplikasi seperti facebook, intagram, whatsapp dsb. Selain itu juga karena ekonomi, lingkungan, pendidikan, lemahnya penegakan dan perlindungan hukum, keretakan dan kekerasan rumah tangga, serta perubahan sosial dan budaya

4. Upaya  mengatasi eksploitasi anak melalui media social adalah pembatasan pemberian fasilitas oleh orang tua terhadap anak, penegasan hak dan perlindungan anak, memaksimalkan pengawasan media sosial oleh berbagai pihak, mengadakan sosialisasi tentang bahayanya penyalahgunaan media sosial bagi orang tua, meningkatkan peluang belajar, psikolog dapat memberikan psikoedukasi berbasis keluarga dan masyarakat, meningkatkan pemahaman orang tua terhadap bahayanya tindakan eksploitasi anak,memberi wawasan penggunaan media sosial dengan bijak kepada masyarakat umum, penyediaan lapangan pekerjaan yang cukup, hal ini agar orang tua tidak menjadikan anak sebagai sumber penghasilan.

b. Saran

1. Orang tua

Orang tua dapat menjalin komunikasi yang harmonis dengan anak dan harus selalu mengawasi tingkah laku anak.

2. Masyarakat 

Peran serta masyarakat sangat di butuhkan baik secara kelembagaan maupun perserorangan yang dapat di mulai dari orangtua, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, harus bahu membahu menyadarkan para pihak yang berpotensi terjadinya tindak eksploitasi. 

3. Komnas HAM dan Perlindungan Anak (lembaga terkait)

Sosialisasi tentang media sosial dan eksploitasi harus di berikan secara intensif   kepada masarakat luas.  

DAFTAR PUSTAKA

Mayar, Farida.2013. “Perkembangan Sosial Anak Usia Dini Sebagai Bibit Untuk 

Masa Depan Bangsa”.Jurnal Al-Ta’lim,Jilid1,Nomor6November 2013,hlm.459464(online),http://www.journal.tarbiyahiainib.ac.id/index.php/attalim/article/viewFile/43/50, diakses 20 februari 2019) 

Mulawarman Dan Nurfitri. 2017. “PerilakuPenggunaMediaSosialbeserta

Implikasinya DitinjaudariPerspektifPsikologiSosialTerapan”. Buletin Psikologi, Vol.25, No. 1,36– 44 (online), (https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi, diakses 16 Februari 2018)

Ramadhanti. TatiaRidho .2016. “FenomenaPemanfaatanInstagramSebagai Media

PersonalBranding”. skripsi. JurusanIlmuKomunikasi FakultasIlmuSosialDanIlmuPolitik UnivesitasDiponegoroSemarang

Aminudin.2018. Eksploitasi Hak Anak Oleh Orangtua Sebagai Pengemis Di Kota 

Makassar Perspektif Hukum Nasional ( Telaah dengan Pendekatan Hukum Islam ). Skripsi. Jurusan PeradilanFakultas Syariah dan Hukum  UIN Alauddin Makassar.

Iryani danPriyarsono. “EksploitasiterhadapAnak yangBekerja diIndonesia

ExploitationofWorking Children inIndonesia”. JurnalEkonomi dan PembangunanIndonesiaVol. 13No. 2,Januari2013: 177-195ISSN1411-5212 (online), diakses20 februari 2019.

Ike Herdiana. “Media Sosial dan Human Trafficking: Sebuah Ulasan” Fakultas 

Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

http://www.perfspot.com/blogs/blog.asp?BlogId=121153).

http://www.kpai.go.id/artikel/temuan-dan-rekomendasi-kpai-tentang-perlindungan-  

anak-di-bidang-perdagangan-anak-trafficking-dan-eksploitasi-terhadap-anak

Fitri, Sulidar.2017.  Dampak Positif dan Negatif Sosial Media Terhadap 

Perubahan Sosial Anak. Naturalistic: Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran 1, 2 (April 2017): 118-123. http://journal.umtas.ac.id/index.php/naturalistic/article/view/5/14 (online)

http://cnnindonesia.com/Ada-22-Juta-Pengguna-Aktif-Instagram-dariIndonesia 


Komentar