110 Tahun Semen Padang Membangun Negeri Melalui Ranah Kearsipan

110 Tahun Semen Padang Membangun Negeri Melalui Ranah Kearsipan

Covesia.com- Masih hangat terasa sepekan yang lalu, tepatnya tanggal 5 Maret 2020, di Wisma Indarung Padang, PT Semen Padang baru saja menggelar Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Akreditasi Kearsipan. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dari berbagai jalan lain yang telah ditempuh PT Semen Padang untuk menyabet akreditasi A+ (bintang empat), yang ditargetkan dapat diperoleh tahun ini. 

Saat ini perusahaan telah menyandang akreditasi A (bintang tiga) yang sudah dikantongi sejak tahun 2015 dan retensinya akan berakhir pada Juni 2020. Prestasi lain yang disandang PT Semen Padang dalam ranah kearsipan adalah menjadi perusahaan semen pertama yang mendapatkan akreditasi A dari ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). 

Meloncat sedikit juga sedang ramai diperbincangkan tentang kekayaan yang bersejarah dan sangat bernilai, pusaka tinggalan Pangeran Diponegoro, Keris Nogo Siluman yang diduga telah hilang lebih dari 189 tahun yang dikembalikan ke Indonesia beberapa waktu lalu. Keris tersebut pernah berpindah dari wilayah nusantara ketika Kolonel Jan-Baptist Cleerens merampas keris tersebut dan menghadiahkannya pada Raja Willem I, pada tahun 1831.  

Menyusul kepulangannya, ternyata semakin merebak keraguan tentang keabsahaan keris Kiai Nogo Siluman itu. Anggapan bahwa senjata pusaka tersebut hilang, selama ratusan tahun tidak sepenuhnya benar. Dalam kurun waktu yang lama keris itu tersimpan di Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik) di Den Haag dan National Museum of World Cultures (NMVW) di Leiden, Belanda (Historia, 12/3/2020). 

Berarti yang sebenarnya hilang bukan kerisnya tetapi catatan atau arsip mengenai keris tersebut. Hanya ada sedikit arsip yang ditemukan dan memuat informasi ini, seperti arsip tulisan tangan Raden Saleh, yang hidup sezaman dan pernah melukis Pangeran Diponegoro beserta kerisnya. Berikutnya, arsip Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, perwira perang Diponegoro yang memuat kesaksian tentang penyerahan Kiai Nogo Siluman dari Pangeran Diponegoro kepada Clereens. Sehingga Belanda membutuhkan waktu hampir 36 tahun untuk mengidentifikasi keris tersebut. Inilah butki, keterbatasan sumber arsip bisa begitu menyulitkan dalam melacak sejarah.

Semen Padang Berkomitmen Merawat Memori Bangsa 

Rasanya tidak perlu diragukan lagi betapa komitmen dan seriusnya ihwal pengelolaan kearsipan, senada dengan slogan PT. Semen Padang, "Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan". Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1910, di masa kolonial Belanda tercatat sebagai perusahaan semen tertua di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. 

Melalui arsip dapat diketahui bagaimana besar kiprah sebuah lembaga termasuk Semen Padang ini. Dalam rentang sejarah perjalanan perusahaan, yang mana pada tahun 2020 ini genap berusia 110 tahun. Selama kurun waktu tersebut tentu begitu meruahnya pengabdian yang telah disumbangsihkan untuk negeri ini.  

Barangkali terlanjur banyak kiprah yang mustahil untuk dapat diingat atau hitung jari tanpa pencatatan yang baik. Dalam konteks ini, maka hampir dapat dipastikan bahwa aktivitas mencatat dan mengarsipkan sejarah perjalanan Semen Padang dari barbagai masa merupakan hal utama, penting dan mesti eksis secara berkelanjutan. 

Menguji bagaimana pentingnya arsip bagi intitusi termasuk perusahaan Semen Padang sebenarnya tidak sulit, cukup dengan logika sederhana. Kesadaran perusahaan hingga saat ini, perlu untuk kita apresiasi dan kumandangkan sebagai bagian dari dedikasi dalam merawat memori kolektif bangsa kita melalui jalan dokumentasi informasi dan pengetahuan.

Meneroka Semen Padang dari Ranah Kearsipan

 Dalam gejolak politik ekonomi bernegara, Semen Padang juga pernah mengalamai peristiwa gelora pengambilalihan pabrik yang berlangsung rentang akhir 1950an. Ketika itu nasionalisasi perusahaan berhasil dilakukan pihak Indonesia tetapi ternyata ada yang tidak, yaitu perihal arsip-arsinya, hampir semua diboyong habis oleh Belanda, kenegerinya. Sekali lagi, dalam pembabakan peristiwa ini terlihat jelas bagaimana urgensi arsip dalam suatu intitusi bahkan bagi bangsa dan negara di kemudian hari.

Beranjak kembali pada kearsipan PT Semen Padang. Pernah tercatat dalam lintasan sejarah perusahaan, lebih dari satu dasawarsa yang lalu, tepatnya tahun 2009. Manajemen Semen Padang pernah membentuk dan mengirim tim untuk melacak arsip-arsip perusahaan yang pernah diboyong ke Belanda tersebut. Memang ada kesadaran bahwa dokumen aslinya tak mungkin diminta, namun informasi dalam bentuk reproduksi. Informasi yang terdapat dalam arsip tersebut akan memperkaya pemahaman tentang Sejarah PT Semen Padang dan sumber untuk berbagai kajian akademis lainnya.

Salah seorang dosen dan peneliti di The Leiden University Institute for Area Studies, Leiden University Belanda, Dr. Suryadi, selaku dosen berkebangsaan Indonesia dan berdarah Minang yang sudah hampir 22 tahun mengajar di sana. Dalam artikelnya, mengungkapkan arsip-arsip yang terkait dengan PT Semen Padang ada di Belanda dan tersimpan paling tidak di lima tempat, yakni  di Algemeene Rijk Archief, Den Haag, Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam, Gemeente Amsterdam Stadarchief, Univrsteitsbibliotheek, Tilburg, dan Arsip keluarga Perusahaan Dagang Veth Bersaudara yang kini tersebar di tujuh daerah, Sliedrecht, Papendrecht, Lekkerkerk, Schiedam, Noord-Holland, Serooskerke, dan Middleburg (Singgalang, 6/10/2016).

Arsip-arsip tersebut  memuat informasi tentang PT Semen Padang kurun periode antara 1907-1970,  seperti statuta pendirian dan jaarverslag (laporan tahunan)  PT Semen Padang, neraca keuangan, nama-nama direktur dan susunan direksi, jumlah produksi per tahun, perusahaan pemegang hak monopoli perjualan produknya, negara-negara tujuan ekspor produknya dan 350 foto serta sketsa lama, mengenai fasilitas PT Semen Padang. 

Beberapa Arsip tinggalan Belanda tersebut sudah ada di Sentral Arsip PT Semen Padang yang juga memiliki staf-staf pengelola arsip yang professional di bidangnya. Merawat dan mengorganisasi arsip-arsip penting dan bernilai sejarah bukanlah suatu perkara mudah. Kebanyakan koleksinya dalam bahasa Belanda dan secara fisik sudah sangat rapuh. Memerlukan waktu dan energi lebih untuk terus menerjemahkan dan mempelajari berbagai arsip-arsip tersebut.

Semoga apa yang telah dijalankan Semen Padang saat ini dapat menjadi komitmen terus menerus sebagai jalan panjang ranah kearsipan. Arsip tersebut sudah begitu lengkap dan mendalam cakupannya, seperti yang juga pernah diungkapkan Suryadi, bahwa Jam Gadang yang dibangun pada tahun 1926 prediksinya dibangun dengan menggunakan Semen Padang dan berapa sak semen yang dihabiskan? Jawabannya, ada diarsip-arsip tersebut yang ada di Belanda. Dalam rangka mengumpulkan arsip-arsip yang masih di sana juga membutuhkan waktu yang panjang untuk mencarinya, memerlukan keseriusan dan biaya yang juga tidak sedikit.

Belajar Kearsipan dari Belanda

Belanda memang sudah terkenal masyhur sebagai negara dengan tradisi pencatatan yang istimewa berkenaan dengan buku dan arsip. Barangkali ini merupakan salah satu tinggalan positif yang seharusnya turut kita lestarikan. PT Semen Padang juga sangat bisa belajar untuk mewujudkan kultur kearsipan sesuai dinamika gerak maju masyarakat, bangsa dan negara dimasa depan.

Pernah suatu waktu, di Museum Adityawarman Kota Padang, Dr. Suryadi,  berujar kita bangsa Indonesia memang sudah semestinya belajar pada negeri Kincir Angin tersebut berkenaan pentingnya pengelolaan arsip yang andal dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sejauh ini jamak terdengar bahwa kesadaran arsip bangsa Indonesia masih rendah. Tradisi pengarsipan lembaga pemerintahan setali tiga uang dengan instansi swasta yang sama lemahnya. Namun, ini tidak berlaku untuk PT Semen Padang sebagai perusahaan BUMN kebanggaan 'Urang Awak'.

Ditengah berbagai tantangan dan stigma yang terlanjur dialamatkan kepada berbagai intitusi kita. PT Semen Padang dengan segala derap upaya yang sangat konsen

dengan arsipnya demi kemajuan organisasi. Keberadaan arsip dibutuhkan sebagai alat bukti atas kegiatan bisnis dengan unsur dasar yang harus terpenuhi, yaitu andal, lengkap, otentik, dan dapat dipertanggungjawabkan.  Pengelolaan kearsipan atas dasar kesadaran berbakti pada bangsa dan tanah air. 

Hal ini seyogyanya menjadi jaminan bagi masyarakat sebagai bentuk pengabdian perusahaan dalam membangun karakter bangsa dengan meciptakan kekuatan budaya kearsipan yang kuat. Semoga apa yang telah dilakukan PT Semen Padang agar kedepannya bisa diterima dan menjadi contoh bagi intitusi lain dalam mengelola arsip nya, menghargai segala jenis dokumen dan buku yang mengandung nilai budaya.

Penulis: Purwanto Putra (Dosen Prodi D3 Perpustakaan, Universitas Lampung)

Komentar