Transparansi Seleksi Tenaga Asisten Ahli KI Sumbar Dipertanyakan

Covesia.com – Pada 2 Februari lalu, Dinas Komunikasi dan Informasi Sumatera Barat membuka lowongan untuk menempati posisi sebagai Tenaga Asisten Ahli Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat tahun 2021 . Setidaknya 2.000 lebih peserta mendaftar dalam rentang waktu 2-4 Februari. 

Namun, setelah pelaksanaan Tes Pengetahuan Umum CAT melalui virtual meeting, peserta mengeluhkan proses seleksi yang dinilai tidak transparan. Dari 1.261 peserta yang mengikuti ujian, hanya 10 peserta yang dinyatakan lolos. 

Dari pantauan covesia.com di akun instagram Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi Sumatera Barat, @kominfosumbar, ratusan komentar memenuhi postingan pengumuman hasil tes pengetahuan umum untuk calon tenaga asisten ahli kominfo Sumbar. Rata-rata mengeluhkan proses seleksi. 

Salah satunya akun @angg_dyan, ia menuliskan tidak bermaksud untuk mengujar kebencian. Namun hanya ingin mengutarakan kekecewaannya terhadap pihak pelaksana proses rekrutmen Tenaga Asisten Ahli Komisi Informasi Sumbar. 

“Saya menghargai atas terlaksananya rekruitmen ini yang mungkin harapan bagi pihak pelaksananya hingga proses rekruitment berakhir. Tapi, sangat disayangkan jika rekruitmen ini dilaksanakan hanya untuk “kebutuhan” formalitas saja,” tulisnya.

Jika pihak yang bersangkutan menunjukkan transparansinya dalam proses rekruitmen ini, ujarnya, mungkin tidak akan pernah terjadi “komentar yang berisi kekecewaan”. “Peserta disini saya yakin pasti bisa menerima dengan lapang dada jika semuanya dilakukan dengan semestinya,” ujarnya.

Ia heran karena beberapa hal. Pertama, peserta diloloskan banyak pada seleksi administrasi, padahal yang dibutuhkan hanya lima orang. Kedua, lebih efektif peserta yang diterima memang sesuai kualifikasi atau berkompeten pada posisi yang dilamar, sehingga ujian berbasis CAT bisa dilaksanakan secara langsung di tempat dengan mematuhi protokol kesehatan (COVID19) untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang seperti saat proses ujian berlangsung. 

Ketiga, soal tidak terlalu sulit, karena hanya bersifat pengetahuann umum dan pemahaman, sehingga banyaknya soal (200 soal) dengan waktu yang diberikan (120 menit) cukup ideal. Namun, ketidaktercapaian peserta dalam menjawab soal dengan baik karena panitia terlalu berisik saat proses ujian berlangsung, itu sangat mengganggu konsentrasi peserta. 

“Sangat disayangkan tidak ada penambahan waktu bagi yang mengalami kendala saat ujian, sedangkan peserta yang tidak melakukan registrasi dan absensi diberi perpanjangan waktu, sehingga itulah yang menyebabkan peserta lain menunggu sangat lama sampai kuota internet kami hampir “kritis”. Keempat,Nomor nik dengan nama peserta tidak sesuai, kenapa bisa terjadi,” imbuhnya.

Dari komentar yng di tinggalkan di akun Kominfo Sumbar tersebut diketahui banyak peserta yang mengganggap pelaksanaan seleksi tenaga ahli ini tidak profesional dan bertentangan dengan visi instansi sebagai garda terdepan keterbukaan informasi pada lembaga pemerintahan. 

Seperti yang dituliskan akun @fdhlsml “Judulnya tentang keterbukaan informasi, tetapi hasil ujian saja tidak terbuka,” tulisnya. 

Senada dengan @fdhlsml, akun milik @yopiofiza “Saran mohon untuk ditampilkan nilai peserta yang ikut ujian agar tidak menimbulkan curiga dan fitnah dari masyarakat”#salamtransparansi, “tulisnya. 

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Sumatra Barat Jasman Rizal, ketika dikonfirmasi covesia.com, mengungkapkan saat ini tengah sakit dan menyarankan untuk melakukan konfirmasi kepada ketua pelaksana ujian tersebut. 

(ila/lif)

0 Comments

Leave a Comment

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password