- Advertisement -
HomeMultimediaTower Datang, Berburu Rupiah Pun Makin Gampang

Tower Datang, Berburu Rupiah Pun Makin Gampang

- Advertisement -

Covesia.com – Laju teknologi komunikasi dan informasi hari ini yang semakin pesat, membuka mata batin masyarakat untuk bersaing di era Industri 4.0. Setiap masyarakat lambat laun akan beradaptasi untuk mencapai passion-nya masing-masing. Entah mereka dari pedesaan atau perkotaan, yang terisolir atau tidak. Yang jelas mereka akan saling berlomba mencari akses informasi sebanyak mungkin. Bukan sekadar memuaskan rasa keingintahuan, tetapi mencari peluang untuk menaklukkan zaman.

Di era digital seperti hari ini, jaringan seluler dan internet memang sudah seperti kebutuhan primer. Seiring pertumbuhan zaman, kini manusia tak perlu lagi bersusah payah mencari informasi dari koran, majalah, buku dan famplet. Hanya menggunakan kata dan kalimat (keyword) yang ingin dicari, mesin pencari langsung mendeteksi apa yang perlukan. Sangat efisien untuk membantu menyelesaikan keingintahuan sebuah informasi dalam waktu singkat.

Kehadiran jaringan seperti ini amatlah dinanti oleh mereka yang hidup jauh dari hiruk pikuk perkotaan atau yang berada di zona 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Seperti halnya di Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota. Puluhan tahun masyarakat Simpang Kapuak menginginkan jaringan seluler dan internet hadir di tanah kelahirannya ini. Mereka hanya ingin menghapus tangis sebagai orang terbelakang dan merasakan sebagai orang yang merdeka.

Barulah pada tanggal 22 Juni 2020, sebuah tower Base Transceiver Station (BTS) berdiri di tengah hamparan sawah di Jorong Simpang Goduang, Nagari Simpang Kapuak setelah bekerja sama dengan PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Bersama Group). Sinyal Telkomsel terpancar anggun. Lembah-lembah jadi saksi, sinyal masuk hingga pelosok nagari. Sebuah pemberian yang memiliki arti mendalam di tengah kepungan belantara rimba dan pandemi Covid-19. Pintu kebebasan dari era ketertinggalan.

Pukul 23.00 WIB, suasana sunyi senyap begitu terasa di Jorong (kampung-red) Simpang Goduang, Nagari Simpang Kapuak. Nyanyian jangkrik terangkai merdu sebagai pengantar tidur. Hawa dingin menyergap setelah beberapa jam yang lalu hujan deras menguyur sepanjang nagari.

Rendion Pratama (25), masih memandang laptopnya dengan sahaja. Jemarinya lincah memainkan mouse untuk mengedit beberapa video hasil shooting yang akan diunggah ke Youtube. Di balik meja dari kayu jati, Rendion harus memakai jaket tebal berwarna biru. Di kamarnya yang berukuran 5×6 meter kerap disengat dinginnya malam.

Enam bulan terakhir, Rendion memang selalu sibuk bercinta dengan laptop, handphone, kamera dan pena. Biasanya selepas salat Isya, ia sudah tak keluar kamar lagi. Malam ini dua orang sahabat, Ebit dan Nandi tidur di rumahnya. Membantu menyelesaikan video.

Tidak mudah pekerjaan yang dilakoni Rendion sekarang. Ia sudah alih profesi sejak kampung halamannya memiliki sinyal telepon dan internet. Dulu ia kerap mengisi acara stunt freestyle, sekarang jadi editor video dan sutradara “Kalitok.” Sebuah grup komedi pendatang baru berbahasa Minang yang tengah naik daun di Sumatera Barat.

Lewat kreasi tangannya, Kalitok sudah merilis 22 video komedi ke Youtube. Subscriber juga sudah 3 ribu lebih. Setiap video ditonton sampai belasan ribu kali. Bahkan satu videonya sempat ditayangkan oleh stasiun TV Nasional Trans 7.

“Sejak video kami masuk di Program Kelakuan Warga +62 Trans 7, banyak warganet yang meminta kami lebih sering diupload video. Jadi setiap hari Jumat, pasti ada video baru dirilis. Malam ini saya bakal upload video baru lagi,” sebut Rendion kepada Covesia.com, Kamis (18/2/2021).

Setiap bulan, “Kalitok” yang digagasnya bisa meraup pendapatan Rp20-25 juta. Harga yang besar jika dibandingkan penghasilan anak-anak muda yang tinggal di sudut Kabupaten Limapuluh Kota. Uang ini nantinya dibagi untuk seluruh personel dan biaya operasional Kalitok.

Dalam proses finishing, Rendion terkadang harus begadang hingga subuh. Saat langit-langit Simpang Kapuak mulai memerah menyambut pagi. Nyanyian jangkrik dan kodok malam hari, sudah berganti dengan kicau burung kutilang.

Edit video pun telah selesai dan diunggah ke Youtube. Nandi (22) sahabatnya yang juga editor video membuka percakapan. Di tangannya sudah siap dengan buku dan pena.

“Apa tema dan alur cerita Kalitok untuk episode minggu besok?” sebut Nandi kepada Rendion dan Ebit.

Sejenak Rendion hanya diam mendengar pertanyaan Nandi. Ia menuangkan kopi hitam ke gelas kecil berwarna kuning. Menyeruput perlahan sembari menikmati kopi hangat malam ini. Pandangannya tertuju ke pena yang dipegang Nandi.

“Bagaimana tentang tower? Apa yang dihasilkan anak-anak millenial setelah adanya tower di nagari ini. Gimana?,” sebut Rendion.

Spontan Ebit (20) yang mendengar ucapan Rendion langsung tertawa. Apa yang disampaikan Rendion begitu menggelitik perut. Tak disangka sahabatnya ini mengajukan tema tentang Tower. Seakan Rendion ingin mengangkat kisah mereka sendiri yakni Kalitok.

“Jadi abang mau ngangkat kisah Kalitok? Kan Kalitok ada karena sinyal sudah masuk di nagari ini,” sebut Ebit kepada Rendion yang lebih tua lima tahun darinya sambil menahan tawa.

Rendion kembali menyeruput kopinya. Kali ini parasnya tak serius lagi seperti tadi. Malah seperti orang menahan tawa. Suasana kamar tampak lebih cerah dibandingkan beberapa jam yang lalu. Lebih rilek, cair dan hangat.

Hehehe. Tadi aku mikirnya gak sampai ke sana. Tapi boleh juga Bit,” kata Rendion pada Ebit.

Terkenang oleh Rendion bagaimana awal mula Kalitok bisa hadir ke hati masyarakat. Sekelompok anak muda Simpang Kapuak yang mencairkan suasana hati mereka yang tengah gundah gulana akibat pandemi Covid-19. Magnet pundi-pundi di tengah ekonomi sedang mati suri. Dan penangkal stigma work from home (WFH).

Tak bisa disalahkan, kebijakan PSBB Pemerintah yang membatasi gerak-gerik masyarakat. Sekolah dan kampus diliburkan. Setiap pintu keluar masuk nagari dijaga Satgas. Semuanya untuk keselamatan masyarakat agar tak terjangkit virus mematikan.

Rendion melihat remaja Simpang Kapuak sedikit kehilangan gairah hidup. Lesu dan stress. PSBB membuat mereka kaku. Kebosanan menghampiri, tak bisa lagi kemana-mana. Jikapun bisa keluar dari Kampung, sama saja menyiksa diri. Di nagari-nagari lain juga menutup akses masuk ke tempat mereka. Itu pun harus menyusuri jalan kerikil di antara bukit dan lembah selama dua jam untuk ke Nagari Tetangga. Bila langit telah gelap, jangan harap akan bersua penerangan jalan.

Kemudian, Rendion berinisiatif mengumpulkan beberapa adik-adik pelajar dan mahasiswa yang terkurung di rumah dan disibukkan dengan segudang tugas online. Tak ada hiburan dan kreasi. Diajaklah berpikir untuk membuat hal yang bisa mencairkan kebekuan hari-hari ini. Akhirnya terlintas untuk membuat grup komedi berbahasa Minang, Kalitok.

Ide ini tidak terlepas dari kehadiran sinyal Telkomsel di Nagari Simpang Kapuak. Rendion sendiri turut menyaksikan betapa khidmatnya peresmian tower tanggal 22 Juni 2020 oleh Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi dan Pimpinan PT Tower Bersama Cabang Pekanbaru, Dasrizal.

Sempat beberapa teman meragukan ide Rendion. Tak mudah rasanya membuat grup komedi. Mulai menulis naskah, menyusun skrip, peralatan, perlengkapan, editor dan lainnya.

Rendion sadar akan hal ini. Tapi  ia coba segala cara agar adik-adik pelajar dan mahasiswa tak terpenjara oleh corona. Sekaligus bisa memanfaatkan jaringan internet sebagai media belajar otodidak.

Dipanggillah Nandi, sahabat yang tengah kuliah  di Jurusan Televisi dan Film di Institute Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sumatera Barat. Perlahan Nandi mengajar beberapa dasar-dasar acting dan menulis scrip. Jika ada yang terbentur, internet jadi solusi. Buka google dan youtube, di sana lah guru mereka sebenarnya. Sedangkan peralatan dan perlengkapan acting dicari bersama-sama seadanya.

Daya jelajah di dunia maya, sangat ampuh menutup berbagai sekat keraguan dan keterbatasan pengetahuan. Apalagi di tengah Pandemi Covid-19 ini, cuma Internet yang bisa diandalkan. Untuk belajar tatap muka sangat susah. Di cek sana sini oleh satgas di pintu keluar masuk setiap nagari. Akhirnya, Kalitok hanya belajar sendiri di kampung bergurukan Internet.

“Bermodal niat yang sungguh-sungguh, kami bisa membesarkan grup komedi ini. Walaupun di masa gerak-gerik selalu dibatasi dan di bawah bayang-bayang Covid-19,” ucap Rendion.

Meskipun masih pendatang baru, Kalitok berhasil memanfaatkan keterbatasan yang mereka miliki. Kegigihan dan kejelian mereka melihat peluang, berhasil membawa nama Kalitok ke kancah YouTuber papan atas Sumatera Barat.

Mengangkat fenomena sosial, ekonomi dan pola hidup masyarakat Nagari Simpang Kapuak, Kalitok berhasil mengenalkan nagarinya yang selama ini tak begitu dikenal orang luar. Apalagi, sajian humor nan kocak menjadi bumbu pelezat penonton dalam menikmati setiap alur cerita video.

Youtube sudah menjadi ruang hidup yang baru bagi millenial Simpang Kapuak. Membantu anak-anak muda kreatif menarik pundi-pundi rupiah di tengah keterbatasan Pandemi Covid-19. Selain itu, menjadi wadah mengharumkan kampung halaman yang puluhan tahun menangis darah sebagai daerah pinggiran. Sebuah wadah berkreasi, bermimpi dan mendidik. Mendobrak keterbelakangan dan memutus dogma lama kampung halaman.

Tak Lagi Sekadar Mengharapkan Gambir

Ketika menara yang didirikan Tower Bersama Infrastructure (TBI, Kode Bursa : TBIG) menjadi fondasi bagi pemancar jaringan operator seluler, di sinilah cikal bakal tumbuh kembangnya usaha baru. Tak hanya kaum millenial, lewat kreatifitasnya yang melahirkan Kalitok. Kaum emak-emak dan bapak-bapak pun tak mau kalah. Mereka yang biasa menggantungkan hidup dari gambir, sudah punya income sampingan yang lain dan lebih menjanjikan. Termasuk membuka lapangan kerja.

Wali Nagari Simpang Kapuak, Felliadi mengatakan kehadiran sinyal seluler dan internet di Simpang Kapuak sangat berdampak positif. Baru 7 bulan, sudah banyak kreasi dan usaha baru di masa pandemi Covid-19.  Seakan masa ini tidak menghalangi masyarakat untuk meraup pundi-pundi rupiah. Mayoritas mereka memanfaatkan internet sebagai media untuk membangun UMKM dan mendapatkan penghasilan lebih layak dibandingkan sebagai petani gambir.

Memang Gambir merupakan warisan dan wasiat dari terdahulu. Setiap kepala keluarga punya ladang gambir. Hampir 80 persen penduduk Simpang Kapuak berprofesi sebagai petani Gambir. Jika harga gambir anjlok, meranalah ekonomi mereka. Gambir hanya bisa memberikan mereka makan sepagi dan sepetang. Biasanya, harga gambir tetap anjlok di bawah harga Rp25 ribu per kilogram. Naiknya hanya sekali-kali. Bahkan cuma sekali dua tahun. Itupun naiknya tak begitu fantastis.

“Gambir memang pekerjaan pokok masyarakat. Tapi tidak menjamin perbaikan ekonomi. Makanya sejak ada sinyal seluler, masyarakat membangun jaringan usaha. Antara yang muda dan tua menjalin hubungan,” sebut Felliadi.

Bak jamur di musim hujan, usaha baru tumbuh subur. Kaum emak-emak memanfaatkan potensi alam dan budaya untuk membuat ragam produk industri rumahan. Sedangkan anak-anak muda yang melempar ke pasar konvensional maupun online.

“Ada yang buka usaha secara mandiri, UMKM  dan berkelompok. Seperti membuat tas, souvenir, batik, pakaian, makanan dan lainnya,” kata Felliadi.

Data Nagari, ada 22 UMKM dan belasan kelompok usaha sejak adanya sinyal. Termasuk usaha counter seluler. Walaupun dihantam pandemi Covid-19, usaha-usaha baru ini bisa menyerap 349 tenaga kerja baru. Untuk keseimbangan usaha, setiap UMKM diorganisir oleh Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag).

Selain itu di tahun 2021 ini, pemerintah nagari juga memprioritaskan program pengembangan potensi wisata. Alam yang indah dan jejak historis nagari ini punya nilai jual. Contohnya saja Air Terjun Lubuk Bulan dan Air Terjun Tanjaro yang begitu memesona. Termasuk sebuah benteng pasukan Paderi saat melawan penjajah Belanda dulu. Spot-spot ini tak pernah terpublikasi ke dunia luar. Tapi sekarang menjadi magnet wisatawan untuk menghabiskan weekend bersama keluarga.

“Tahun ini, kami fokus pengembangan potensi objek-objek wisata. Masyarakat bisa ambil untung dari program ini. Produk-produk UMKM dan rumahan bisa menjadi oleh-oleh bagi wisatawan. Sebelum ada internet, tidak ada peluang seperti ini,” ucap Felliadi lagi.

Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan UMKM Kabupaten Limapuluh Kota, Ayu Mitria Fadri mengatakan pertumbuhan UMKM memang selalu didorong oleh peluang dan infrastruktur umum sebagai penunjang dasar. Apalagi antara UMKM dengan Pariwisata adalah senyawa yang tak bisa dipisahkan.

Terkhusus masa pandemi Covid-19, memang cukup berat bagi UMKM untuk berkembang. Bahkan satu tahun terakhir, sekitar 75 persen UMKM mengalami kemerosotan di Kabupaten Limapuluh Kota.

Namun, UMKM di Simpang Kapuak berhasil memanfaatkan internet untuk membangun dan mengembangkan usaha. Keinginan keluar dari ketertinggalan, berhasil mengasah pola pikir mereka untuk sukses dan disiplin. Hal ini yang membawa satu produknya menembus pasar internasional, yakni batik.

“Sejak beberapa bulan terakhir, Batik Simpang Kapuak cukup terkenal. Di tengah Pandemi Covid-19, tetap banyak permintaan. Sampai menembus pasar di Singapura dan Malaysia,” kata Ayu.

Di setiap nagari, Dinas Koperasi, Perdagangan dan UMKM Kabupaten Limapuluh Kota membangun Jaringan pembinaan usaha yang dibantu oleh Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT). Setiap pelaku UMKM diberikan pelatihan manajemen dan IT.  Selain mengasah mental dan kemampuan untuk pengembangan usaha, bisa membuka pasar sendiri.

Kajian Badan Pusat Statistik (BPS)  juga memberikan gambaran jelas tingkat kesejahteraan Simpang Kapuak meningkat ke angka 87 persen dari 76 persen. Seiring waktu berjalan, para usia produktif menjadi tulang punggung ekonomi. Saat ini pun bisa dilihat peran mereka di berbagai lini perekonomian. Dari manajemen, produksi hingga marketing. Jaringan telekomunikasi sudah menjadi pondasi untuk menggerakkan perekonomian hari ini.

Namun, pelaku UMKM yang baru tetap didampingi oleh tenaga pendamping. Tujuannya untuk melayani persoalan pembiayaan, kelembagaan atau legalitas, pemasaran, produksi dan sumber daya manusia. Hal ini sangat diperlukan karena bayang-bayang Pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman serius.

Cukup memakai ponsel dan laptop, hari ini sudah bisa menjalankan usaha berbasis digital. Tidak bisa dipungkiri, bahwa kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah membentuk watak masyarakat secara alami untuk bisa mencapai mimpi maupun standar kehidupan pada umumnya.

Menuju Kemerdekaan yang Hakiki

Kehadiran jaringan telekomuniasi di bumi nusantara ini, tidak terlepas dari andil Tower Bersama Infrastructure (TBIG). Mereka bahu membahu dengan semua operator seluler untuk menyediakan jaringan telepon dan internet hingga pelosok negeri.

Jalan masif TBI untuk menyisir setiap jengkal tanah Indonesia ini cukup panjang. Mereka hadir untuk melayani dan mencukupi kebutuhan masyarakat di sektor komunikasi. Kelak, layanan TBI ini yang menjadi gerbang perubahan bagi masyarakat dalam menyeimbangkan perkembangan zaman.

Sejak berdiri di tahun 2004, per 30 September 2020 TBIG sudah memiliki 31.703 penyewaan dan 16.215 site telekomunikasi. Site telekomunikasi milik Perseroan terdiri atas 6.093 menara telekomunikasi dan 122 jaringan Distributed Antenna System (DAS). Jumlah yang cukup besar agar masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke bisa menikmati era digital.

Sebagai perusahaan penyedia Infrastructure Telekomunikasi, TBIG telah menjadi pilar utama dalam membuka akses jaringan teknologi komunikasi. Infrastructure yang telah dibangun, disewa oleh Mitra TBIG yang dalam hal ini adalah operator seluler transmisi jaringan hingga ke pelosok negeri.

Tak terbantah, penyebaran jaringan seluler hari ini sudah hampir merata di Indonesia. Daerah-daerah 3T sudah mulai mendapatkan akses jaringan seluler dan internet. Interaksi masyarakat di wilayah 3T perlahan sudah meluas dengan memanfaatkan ruang digital yang disediakan operator seluler. Hal ini dikarenakan sebanyak 1.111 BTS Universal Service Obligation (USO) telah terhubung dengan jaringan 4G LTE Telkomsel. Sebuah kolaborasi TBIG dengan Mitra Kerja dalam mewujudkan pemerataan dan kesetaraan akses telekomunikasi broadband di seluruh Indonesia.

Chief Financial Officer TBIG, Helmy Yusman Santoso menjelaskan, peran TBIG yang menyediakan ruangan di menara telekomunikasi untuk transmisi operator seluler, telah memperluas dan memperkuat jaringan hingga ke wilayah-wilayah 3T. Termasuk menyediakan area-area blank spot agar masyarakat di wilayah yang belum memiliki teknologi komunikasi bisa menikmati akses digital.

“Kami menyediakan ruangan untuk operator seluler yang menjadi wadah transmisi bagi mereka. Dengan menara yang berstandar mutu tinggi, operator seluler mampu memenuhi kebutuhan jaringan komunikasi di suatu wilayah. Termasuk di wilayah 3T,” sebut Helmy.

Semester kedua tahun 2020 saja, TBIG mendapatkan penambahan penyewa sebanyak 2.517 tenant. Artinya, di masa Pandemi Covid-19 tidak ada pekerjaan yang tertunda. Angka ini membuat capaian TBIG 1,9 kali lebih tinggi dari target. Rata-rata setiap satu menara, terdapat dua penyewa.

Dengan begitu, ketersediaan jaringan di suatu wilayah di masa pandemi Covid-19 sangat membantu pertumbuhan sumber daya manusia dan ekonomi masyarakat di wilayah 3T. Fasilitas seperti ini yang dibutuhkan guna mencari solusi di tengah keterbatasan ruang gerak dan inovasi.

“Pada dasarnya masa Pandemi Covid-19 ini masyarakat dihadapkan pada kondisi yang serba susah. Jadi dengan jaringan telekomunikasi, masyarakat bisa mengembangkan kreatifitas mereka secara mandiri dan mencari solusi dengan menjelajahi dunia informasi seluas mungkin,” katanya.

Dalam menjalankan fungsi, TBIG selalu bersinergi dengan stakeholder sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku dalam mendirikan tower. Di tahun 2021 ini, TBIG menyiapkan belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) yang nilainya hingga Rp2 triliun. Nominal yang hampir sama dengan tahun 2020.

Bukti TBIG ingin kesuksesan tahun 2020 akan diulang pada tahun 2021 ini. Pastinya TBIG akan selalu terfokus pada prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas dan tanggung jawab pada setiap tower komunikasi yang berdiri di suatu daerah. Termasuk dalam pengawasan, memiliki SOP yang sangat ketat.

“Tentunya kami akan melakukan semua hal yang terbaik dalam setiap pembangunan tower. Mulai dari proses perencanaan, konstruksi, perawatan rutin dan sebagainya. Pembangunan tower dilakukan dengan mengikuti standar mutu yang tinggi dan menerapkan SOP yang ketat. Baik di internal maupun kepada mitra,” ucapnya.

Ribuan menara telekomunikasi yang telah dibangun oleh TBIG sejak tahun 2004 adalah bukti kecintaan kepada NKRI ini. Ratusan juta masyarakat Indonesia bisa mendapatkan kemerdekaan yang sebenarnya.

Mereka memoles diri, mengasah asa dan menggapai mimpi di tengah persaingan dunia yang kian sulit. Apalagi, di masa Pandemi Covid-19 seperti ini. Termasuk dengan ketersediaan jaringan telekomunikasi masyarakat memilah dan menelaah berita palsu (hoaks) yang mengancam rasa persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara.

(agg)

- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
Related News
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

19 − seventeen =