Soal Polemik Kasus Renjana, Begini Penjelasan Kanit Reskrim Polsek Koto Tangah

Covesia.com – Terkait kasus gadis berusia 16 tahun, Renjana (bukan nama sebenarnya), asal Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), mendapat kekerasan seksual dari pacarnya sendiri. Kemudian keluarganya dituduh menggelapkan uang. Kapolsek Koto Tangah, Kompol Indra Junaidi, melalui Kanit Reskrimnya, Ipda Mardianto Padang, membenarkan kejadian pelaporan itu.

“Iya, keluarga pelaku melaporkan kejadian itu kepada kami. Laporannya terhadap keluarga korban atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan. Bagi kami kalau ada masyarakat yang melapor tentu akan diterima laporan tersebut. Terkait duduk perkaranya atau tidak, itu kan harus ada proses dulu,” sebut Mardianto saat dihubungi Covesia.com pada Selasa (23/3/2021).

Baca Juga: Kisah Renjana, Gadis 16 Tahun yang Menjadi Korban Kekerasan Seksual dan Keluarganya Dituduh Gelapkan Uang

Mardianto mengatakan, intinya dalam proses kasus yang pertama Renjana yang mendapat kekerasan seksual dari pacarnya itu kasusnya sudah jalan dan pelakunya juga sudah ditahan sekarang.

“Ternyata antara keluarga korban dan pelaku ini di luar sepengetahuan kami, membuat perdamaian dengan memberikan uang,” ucapnya.

Dikatakan Mardianto, seminggu setelah mereka mengatakan berdamai, keluarga si pelaku mendatangi Mapolsek Koto Tangah, dengan membawa kuitansi bukti memberikan uang Rp 20 juta kepada keluarga korban, dan mengatakan bahwa antara keluarga korban dan pelaku ini sudah berdamai.

Kemudian keluarga pelaku ini juga mengatakan kalau sudah memberikan uang, dan anaknya sudah bisa dibebaskan.

“Kami dari pihak polsekpun menjawab, kalau masalah itu kami tidak tau, kami fokus masalah proses kasus sebelumnya,” jelasnya.

Jadi, kata Mardianto, karena tidak sesuai dengan harapannya, keluarga pelaku membuat laporan diduga penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh keluarga korban.

“Dalam kejadian itu pengakuan korban perdamaian itu untuk biaya obat anaknya, namun kata keluarga pelaku perdamaian itu sekalian untuk mengeluarkan anaknya dari sel tahanan,” katanya.

“Karena ada laporan itu tentu kami melakukan penyelidikan, dan pendalaman apakah memang benar adanya indikasi penipuan dan penggelapan tersebut,” ungkapnya.

“Jadi sampai sekarang kami masih melakukan penyelidikan, apakah benar uang itu untuk biaya pengobatan atau bagaimana,” ujarnya.

Mardianto menyebutkan, terkait kasus itu pihaknya kecewa, bahwa keluar di salah satu stasiun televisi lokal bahwa keluarga korban mengatakan ada oknom polisi yang bermain dalam kasus tersebut.

“Inikan kalau mereka tidak bisa buktikan itu, dan kami disudutkan yang kami tidak tau perkaranya, jadi nantinya tidak segampang itu,” katanya.

“Bagi kami kalau ada yang kurang jelas, silakan saja datang ke Mapolsek. Jangan mengeluarkan statemen yang tidak bertanggungjawab. Karena proses penyidikan masih jalan, dan terkait laporan kami proses,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, malang menimpa keluarga Renjana. Gadis berusia 16 tahun asal Padang itu mendapat kekerasan seksual dari pacarnya sendiri. Kemudian keluarganya dituduh menggelapkan uang.

Pelaku berinisial R (22) menurut ayah Renjana membawa Renjana tanpa sepengetahuan keluarga Renjana.

“Kejadiannya awal Februari lalu, anak kami tidak pulang dan saya cek GPS ternyata anak saya berada di sebuah hotel di Kota Padang,” ungkap ayah Renjana, Senin (22/3/2021).

Sang ayah langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Koto Tangah, Padang. Akhirnya pelaku ditahan karena terjerat pasal melarikan anak di bawah umur.

Setelah beberapa waktu keluarga pelaku tidak terima pelaku ditahan dan terus menerus mendatangi rumah Renjana. Keluarga pelaku terus membujuk dan membuat Renjana menjadi merasa bersalah karena pelaku ditahan.

Tindakan tersebut akhirnya membuat Renjana depresi dan secara terpaksa keluarga melakukan upaya perdamaian dengan keluarga pelaku dan menerima uang sejumlah Rp 20 Juta untuk biaya pengobatan korban.

Keluarga Renjana akhirnya menulis surat perjanjian perdamaian. Namun surat perjanjian perdamaian tidak serta merta bisa menghapus atau mencabut pelaporan kasus. Berkenaan kasus ini adalah delik biasa dan atas perjanjian damai batal demi hukum karena mengandung klausa tidak halal karena melawan peraturan perundang-undangan.

Kemudian Ibu Renjana mengatakan bahwa dari pihak keluarga korban tidak pernah sama sekali meminta uang pengobatan tersebut. Uang pengobatan tersebut dipakai oleh keluarga Renjana untuk pengobatan Renjana.

Bahkan keluarga korban dilaporkan ke Polsek Koto tangah atas Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan.

Atas laporan tersebut keluarga korban mendapatkan surat panggilan dari Polsek koto Tangah. Tak hanya itu, keluarga korban juga terus mendapatkan tindak intimidasi dari keluarga pelaku yang terus menerus minta mengembalikan uang yang pernah diberikan.

“Bahkan saat penyidik datang juga menanyakan perihal uang tersebut. Kami hanya bisa mengembalikan 12 juta dan satu emas, tapi mereka tetap meminta seluruhnya,” ungkap Ayah Renjana.

Tak hanya itu, keluarga korban juga bertemu keluarga pelaku dan mengatakan harus segera mengembalikan uang tersebut. Jika tidak maka ibu Renjana bakal dipenjara.

Sementara itu, Pihak pengacara Renjana dari LBH Padang, Decthree Ranti Putri mengatakan, bahwasanya uang 20 juta yang diberikan keluarga pelaku adalah hak korban. Seperti PP 43 tahun 2007 tentang restitusi untuk anak. Setiap anak yang menjadi korban tidak pidana berhak mendapatkan restitusi (pembayaran ganti rugi).
(pri/lif)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password