Pakar Hukum: Jika Ada Perjanjian, Laporan Kepada Keluarga Renjana Tak Penuhi Unsur Penggelapan

Covesia.com – Kasus Renjana (nama samaran-red) yang merupakan korban anak dibawah umur yang dilarikan oleh pacarnya R (22) terus bergulir di Polsek Koto Tangah, Kota Padang. Keluarga pelaku pun melaporkan balik keluarga Renjana karena merasa sebagai korban penipuan dan penggelapan uang sebesar Rp 20 juta. 

Laporan kepada keluarga Renjana ini dilihat secara hukum pidana oleh Pakai Hukum Universitas Ekasakti (Unes), Fitri Yanti harus melihat terlebih dahulu posisi perjanjian uang tersebut. Jika uang sudah diberikan dalam sebuah perjanjian, maka unsur penggelapan tidak terpenuhi.

“Lihat dulu perjanjiannya seperti apa. Jika ada perjanjian untuk memberikan uang dalam bentuk pengobatan, berarti kepemilikan uang sudah beralih tangan. Tidak terpenuhi unsur penggelapan,” sebut Dr. Fitriati SH. MH kepada Covesia.com, Selasa (23/3/2021) 

Baca Juga: Soal Polemik Kasus Renjana, Begini Penjelasan Kanit Reskrim Polsek Koto Tangah

Dalam defenisi, penggelapan adalah barang milik orang lain yang berada dalam kekuasaan seseorang. Namun kalau sudah diberikan dalam sebuah perjanjian, maka kepemilikannya sudah berpindah tangan.

“Kalau ada perjanjian antara keluarga korban dan pelaku untuk mengobati korban dan perdamaian, maka uang tersebut sudah milik keluarga korban. Jadi tidak ada unsur pidana penggelapan kepada keluarga korban,” kata Fitriati.

Kemudian melihat permintaan pengacara keluarga Renjana yang ingin kasus yang menimpa kliennya diambil alih oleh Polda Sumbar, hal tersebut harus diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Setiap instansi Polri mulai dari Polda, Polres hingga Polsek memiliki layanan dan tanggung jawab yang sama dalam menangani sebuah kasus.

“Mau di Polsek atau Polda, sama saja. Semua tingkatan memiliki unit untuk melindungi anak dibawah umur dan penanganan kasus. Fasilitas dan sarananya juga sama. Kecuali Polsek Koto Tangah tidak bisa menangani, barulah dialihkan ke Polres atau ke Polda. Atau ada permintaan dari korban,” ucapnya.

Sementara itu Pakar Hukum Universitas Andalas, Prof. Ismansyah menyebutkan pelaporan keluarga pelaku kepada keluarga Renjana bisa menjadi bumerang kepada mereka sendiri. Pasalnya, kasus ini merupakan kejahatan kehormatan dan harus di pertanggung jawabkan. 

“Ini kejahatan kehormatan dan harus di pertanggung jawabkan. Soal melaporkan balik keluarga Renjana (korban-red) dengan dalih penipuan dan penggelapan, bisa menjadi bumerang bagi pelaku,” kata Ismansyah melalui seluler kepada Covesia.com 

Dalam kacamata Ismansyah, keluarga pelaku ingin laporan kepada R dicabut dan bisa berdamai setelah membayar Rp 20 juta. Namun, karena kasus ini berkaitan anak dibawah umur, akhirnya proses tetap lanjut.

Keinginan untuk berdamai tidak terwujud, akhirnya keluarga pelaku melaporkan keluarga korban untuk serangan balik dengan dalih penipuan dan penggelapan uang Rp 20 juta. Keluarga korban yang merasa tertekan dua kali, akhirnya mengembalikan uang tersebut sebesar Rp 12 juta dan satu emas karena sebagian telah terpakai untuk biaya pengobatan Renjana.

“Saya rasa keluarga pelaku mencoba mengambil keuntungan dari uang bantuan tersebut. Lagipula yabg melanjutkan proses adalah kepolisian, bukan keluarga korban. Tapi malah keluarga korban yang dilaporkan. Ini sebuah kenistaan sebuah hukum jika laporan ke keluarga korban tetap diproses,” katanya.

Disamping itu, Ismansyah juga menekankan kepada keluarga pelaku agar paham soal Restitusi. 

“Jika saya hakim kasus Renjana, Restitusinya saya kasih Rp 300 juta. Biar korban bisa pindah dan membangun hidupnya lagi ditempat lain. Ini Rp 8 juta terlalu kecil. Masih lunak LBH Padang kayaknya,” tutupnya. 

Sebelumnya, Polsek Koto Tangah menangani kasus melarikan anak dibawah umur. Kasus ini mulai bergulir awal Februari 2021 silam. Dimana Renjana, pelajar SMA berusia 16 tahun dibawa ke hotel oleh pacarnya R (22). 

Keluarga Renjana pun tidak menerima hal ini dan melaporkannya kepada Polsek Koto Tangah. Akhirnya R ditangkap dan ditahan. Selang beberapa hari, keluarga R mendatangi rumah Renjana untuk berdamai. Kemudian memberikan uang Rp 20 juta. 

Ternyata kasus ini tidak bisa dicabut dan proses tetap berjalan. Sampai pada akhirnya, keluarga R melaporkan ibu Renjana ke Polsek Koto Tangah dengan pasal penipuan dan penggelapan.

(Agg/lif)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password