Polda Sumbar Tanggapi Desakan LBH Terkait Kasus “Renjana”

Covesia.com – Lembaga bantuan hukum (LBH) Padang meminta Polda Sumbar untuk mengambil alih kasus kekerasan seksual yang dialami “Renjana” (16), bukan nama asli, melalui surat permohonan supervisi yang telah dikirimkan ke Polda Sumbar 30 Maret 2021 lalu.

LBH juga meminta Polda Sumbar unuk menghentikan perkara dugaan penipuan dan penggelapan uang pengobatan atas korban dari orang tua tersangka kepada orang tua Renjana.

Menanggapi surat permohonan supervisi dari LBH Padang tersebut, Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Stefanus Satake Bayu mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Polsek Koto Tangah Padang yang menangani kasus itu.

“Kita akan lakukan komunikasi dulu sejauh ini kasus itu sudah sampai mana,” katanya, Selasa (6/4/2021).

Baca Juga: LBH Desak Polda Sumbar Ambil Alih Kasus Renjana

Saat Covesia menanyakan terkait uang ganti rugi pengobatan korban yang diberikan oleh orangtua tersangka yang juga meminta pencabutan laporan dan pada akhirnya kasus itu tidak bisa dicabut, Satake Bayu berkata “loh uang untuk pengobatan korban kenapa dilaporkan kembali,” sebutnya.

Atas surat yang diajukan LBH Padang, Setaku Bayu menyampaikan Polda Sumbar siap saja untuk menangani kasus itu.

“Nanti akan kita coba bicarakan dengan Reskrimsus Polda (Sumbar) terkait penanganan kasus ini,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, malang menimpa keluarga Renjana. Gadis berusia 16 tahun asal Padang itu mendapat kekerasan seksual dari pacarnya sendiri. Kemudian keluarganya dituduh menggelapkan uang.

Pelaku berinisial R (22) menurut ayah Renjana membawa Renjana tanpa sepengetahuan keluarga Renjana.

“Kejadiannya awal Februari lalu, anak kami tidak pulang dan saya cek GPS ternyata anak saya berada di sebuah hotel di Kota Padang,” ungkap ayah Renjana, Senin (22/3/2021).

Sang ayah langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Koto Tangah, Padang. Akhirnya pelaku ditahan karena terjerat pasal melarikan anak di bawah umur.

Setelah beberapa waktu keluarga pelaku tidak terima pelaku ditahan dan terus menerus mendatangi rumah Renjana. Keluarga pelaku terus membujuk dan membuat Renjana menjadi merasa bersalah karena pelaku ditahan.

Tindakan tersebut akhirnya membuat Renjana depresi dan secara terpaksa keluarga melakukan upaya perdamaian dengan keluarga pelaku dan menerima uang sejumlah Rp 20 Juta untuk biaya pengobatan korban.

Keluarga Renjana akhirnya menulis surat perjanjian perdamaian. Namun surat perjanjian perdamaian tidak serta merta bisa menghapus atau mencabut pelaporan kasus. Berkenaan kasus ini adalah delik biasa dan atas perjanjian damai batal demi hukum karena mengandung klausa tidak halal karena melawan peraturan perundang-undangan.

Kemudian Ibu Renjana mengatakan bahwa dari pihak keluarga korban tidak pernah sama sekali meminta uang pengobatan tersebut. Uang pengobatan tersebut dipakai oleh keluarga Renjana untuk pengobatan Renjana.

Bahkan keluarga korban dilaporkan ke Polsek Koto tangah atas Tindak Pidana Penipuan dan Penggelapan.

Atas laporan tersebut keluarga korban mendapatkan surat panggilan dari Polsek koto Tangah. Tak hanya itu, keluarga korban juga terus mendapatkan tindak intimidasi dari keluarga pelaku yang terus menerus minta mengembalikan uang yang pernah diberikan.

“Bahkan saat penyidik datang juga menanyakan perihal uang tersebut. Kami hanya bisa mengembalikan 12 juta dan satu emas, tapi mereka tetap meminta seluruhnya,” ungkap Ayah Renjana.

Tak hanya itu, keluarga korban juga bertemu keluarga pelaku dan mengatakan harus segera mengembalikan uang tersebut. Jika tidak maka ibu Renjana bakal dipenjara.

Sementara itu, Pihak pengacara Renjana dari LBH Padang, Decthree Ranti Putri mengatakan, bahwasanya uang 20 juta yang diberikan keluarga pelaku adalah hak korban. Seperti PP 43 tahun 2007 tentang restitusi untuk anak. Setiap anak yang menjadi korban tidak pidana berhak mendapatkan restitusi (pembayaran ganti rugi).

(deb/lif)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password