Studi Tiru KI Sumbar Soal Transparansi ke Jabar: "Kalau Bersih Kenapa Risih"

Studi Tiru KI Sumbar Soal Transparansi ke Jabar Kalau Bersih Kenapa Risih

Covesia.com - "Kalau Bersih, Kenapa Risih", begitulah tagline yang digaungkan di Provinsi Jawa Barat dalam keterbukaan informasi publik. Pada intinya setiap badan publik jika sudah melakukan pekerjaan sesuai aturan, tidak ada yang mesti ditakuti untuk disampaikan ke publik.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi Informasi Jawa Barat, Ijang Faisal saat menerima rombongan studi tiru KI Sumbar bersama Forum Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (FJKIP), Selasa (30/11/20210 lalu.

Keterbukaan informasi publik, ujarnya, seharusnya bukan lagi dalam pusaran sosialisasi, tapi beranjak ke literasi sehingga jadi ruh pelayanan di seluruh badan publik, terutama organisasi perangkat daerah (OPD) di pemerintahan daerah.

“Ruh pelayanan, artinya mendorong keterbukaan informasi jadi benar-benar satu tarikan nafas dengan pelayanan OPD kepada publik,” ujarnya.

Menurut Ijang, komunikasi KI dengan jurnalis di Jabar dalam mewujudkan keterbukaan informasi sebagai ruh dalam pelayanan publik sudah berlangsung. Tanpa adanya sahabat jurnalis, kata Ijang,  keterbukaan informasi tidak akan booming.

“Ke depan, ini diintensifkan lagi. Berjuang bersama membangun keterbukaan informasi jadi ruh dalam pelayanan publik. Untuk menyehatkan semua. Dorong OPD agar transparan dengan tagline kalau bersih kenapa risih,” katanya.

Apalagi, lanjut Ijang, komitmen Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk keterbukaan informasi juga tinggi. Buktinya, data seluruh badan publik diminta agar dicatat dan disampaikan langsung padanya. Mana badan publik yang masuk kategori informatif dan tidak informatif akan ketahuan untuk diberikan reward dan terapkan punishment.

“Jika semua OPD sudah terbuka, maka tak ada lagi sakwasangka antara pemerintah daerah dengan rakyatnya,” imbuhnya.

Menurutnya FJKIP Sumbar jadi inspirasi bagi mereka di Jawa Barat. Pihaknya sudah ada rencana untuk bentuk itu. Namun, saat ini berupa media online atau portal yang khusus menginformasikan perkembangan keterbukaan informasi di seluruh Indonesia. “Nantinya, tak ada berita lain di website itu. Kalau Sumbar punya FJKIP, Jabar bergerak dengan website,” jelasnya.

Sementara itu Ketua KI Sumbar, Nofal Wiska, saat memperkenalkan rombongan juga menyebutkan Jabar memang salah satu provinsi tempat KI Sumbar belajar.”Studi tiru ini bagian dari kegiatan penguatan kapasitas jurnalis keterbukaan informasi publik. KI Jabar termasuk KI terbaik di Indonesia,” ujarnya.

Dikatakan Nofal, ada faktor Gubernur Ridwan Kamil yang membuat OPD lebih terbuka melayani publik, didukung fasilitas lengkap dan telah transformasi ke digitalisasi.

“Sama dengan Sumbar yang secara tradisi sudah sangat demokratis didorong dengan Gubernur Sumbar, Mahyeldi yang sangat merespons aktivitas KI,” katanya dalam pertemuan dihadiri komisoner KI Jabar Husni Farhani Mubarak. Komisioner KI Sumbar Arif Yumardi, Adrian Tuswandi, Tanti Endang Lestari serta tim dari Diskominfo Sumbar, Kadis Komifo Bukittinggi Novri dan Kabid IKP Padangpanjang Maryulis Max.

(*)

Berita Terkait

Baca Juga