Ekonom: Bila BBM tak Naik, Utang Membengkak

Kupang – Ekonom Universitas Widya Mandira
Kupang Nusa Tenggara Timur, Dr Thomas Ola Langoday mengatakan utang luar
negeri Indonesia akan semakin membengkak jika pemerintah tidak
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). “Saat ini subsidi
untuk sektor energi mencapai Rp330 triliun. Angka itu sangat memberatkan
anggaran yang defisit dan untuk menutupnya harus dengan utang,” kata
Thomas di Kupang, Rabu (12/11/2014).

Ia menyebutkan Indonesia harus membayar Rp400 triliun untuk membayar utang yang dilakukan sebelumnya. Bukan cuma itu, menurut Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widya
Mandira itu, angka subsidi BBM itu lebih besar daripada subsidi
kesehatan dan infrastruktur. “Setiap tahun negara harus
mengeluarkan uang yang lebih besar untuk subsidi BBM, dan lebih sedikit
untuk untuk kesehatan dan untuk infrastruktur. Padahal subsidi yang
sangat penting seharusnya untuk kesehatan dan infrastruktur,” katanya.

Karena itu, katanya tidak ada pilihan lain, kecuali harga BBM
dinaikkan dengan besaran yang terlebih dahulu mempertimbangkan banyak
aspek, terutama aspek kemampuan dan daya beli masyarakat, ketika
kebijakan itu diberlakukan. Menurut dia, fakta juga
menunjukkan bahwa sekitar 70 persen lebih yang menikmati subsidi
tersebut kelas menengah atas, karena tidak ketatnya pengawasan, dan
mental pelaksana program kompensasi BBM itu belum direvolusi.

Mantan Direktur Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Widya
Mandira (Unwira) Kupang itu menyebut riset terkini perusahaan riset dan
penyedia informasi mengenai konsumen, Nielsen, menyebutkan pada kuartal
ketiga 2014 ini, perhatian masyarakat yang pertama itu soal kenaikan
harga BBM, baru kemudian ekonomi dan politik. Tapi fokus utama konsumen
yaitu harga BBM. (ant/cal)

0 Comments

Leave a Comment

twelve + seven =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password