Pengamat Politik Nilai Pernyataan Megawati Bentuk Perhatian Kepada Sumbar: Saatnya Instropeksi Diri

Pengamat Politik Nilai Pernyataan Megawati Bentuk Perhatian Kepada Sumbar Saatnya Instropeksi Diri Ilustrasi

Covesia.com - Pengamat politik Universitas Andalas, Asrinaldi turut menanggapi pernyataan dari Presiden ke 5 RI, Megawati Soekarno Putri yang menilai Sumatera Barat sudah berubah. Dalam pernyataan Megawati, dia merasa budaya musyawarah dan mufakat sudah hilang di Ranah Minang. 

"Saya lihat apa yang disampaikan Presiden ke-5 RI tersebut adalah bentuk perhatian untuk Sumbar. Diketahui dia keturunan dan memiliki darah Minang, bagaimana ketokohan Minangkabau dia merasakan. Jadi ambil sisi positif saja," ungkap Asrinaldi saat dihubungi Covesia.com, Selasa (11/1/2022). 

Asrinaldi mengatakan, musyawarah dan mufakat memang tidak ada lagi di Sumbar. Kebanyakan keputusan diambil melalui "one men on vote" dan ini bukan ciri Minangkabau.

"Nilai ABS-SBK memang berkurang. Ambil sisi positif dari pernyataan tersebut dan saatnya Sumbar instropeksi diri," tambahnya. 

Dia menyampaikan, perubahan di Sumbar tak lain karena daerah tersebut dicekoki dengan demokrasi liberal, seakan-akan demokrasi itu "one men one vote" adalah yang paling benar. 

"Musyawarah dan mufakat kini hanya menjadi pilihan kedua. Karena, ideologi 'one men one vote' dinilai paling demokratis, ini sering terjadi, makanya tak ada lagi musyawarah," jelasnya. 

Selain itu, pengaruh zaman yang sudah berubah. Generasi muda pun demikian, mereka juga terdampak pada hak mereka memilih melalui voting. 

"Kita apresiasi kepedulian dia terhadap Sumbar. Sebab dia tahu betul bagaimana nasionalisme dan dirinya bagian dari sejarah tersebut," ujarnya. 

Terkait tokoh di Sumbar, menurut Asrinaldi, masih banyak. Tapi, jika untuk jabatan Presiden dan Wakil Presiden memang tidak, tapi untuk yang sifatnya kolektif kolegial masih banyak. 

Dia menambahkan, seharusnya masyarakat Minang menunjukkan apresiasi, karena Sumbar seringkali disebut di kegiatan Nasional. " Itu luar biasa," pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri bicara tentang Daerah Sumatera Barat (Sumbar). Megawati menyebut Sumatera Barat berubah.

Hal itu disampaikan Megawati saat memberi arahan di HUT ke-49 PDIP yang disiarkan secara langsung, Senin (10/1/2022) lalu. Awalnya, Megawati berbicara mengenai tantangan negara dari masa ke masa, dia mengutip kalimat Bung Karno.

"Bung Karno menegaskan lebih mudah karena melawan penjajah tinggal diusir, tapi kalau kita menjadi lebih sulit karena berhadapan dengan bangsa sendiri," ujar Megawati dalam acara itu.

Kemudian, Megawati bicara tradisi yang ada di Indonesia. Dia pun bercerita pernah berdiskusi dengan anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Ahmad Syafii Maarif tentang perubahan Sumatera Barat.

"Pertanyaan saya, kan kita sebetulnya berbeda ya, artinya Bhineka Tunggal Ika, tapi sebetulnya kita punya tradisi 'Niniak Mamak' lho. Saya sering bicara dengan Buya Syafii Maarif karena beliau juga di Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, saya tanya kenapa sih Sumatera Barat kembali berubah ya Buya? Bukankah sudah tidak adakah yang namanya tradisi bermusyawarah mufakat oleh Niniak Mamak itu," ucap Megawati.

"Sekarang saya tanya saja sama orang di Sumatera Barat, rasanya kok kaya jadi sepi gitu ya di sana," ujarnya.

(ila/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga