Didampingi LBH, Keluarga Dugaan Kekerasan di Lapas Klas IIB Lubuk Basung Kunjungi Polres Agam

Didampingi LBH Keluarga Dugaan Kekerasan di Lapas Klas IIB Lubuk Basung Kunjungi Polres Agam

Covesia.com - Keluarga Korban kasus kematian di Lapas Klas II B Lubuk Basung, didampingi Lembaga Bantuan Hukum Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (LBH PBHI) Sumatera Barat kunjungi Polres Agam, Selasa (25/1/2022).

Paralegal PBHI, A Yani mengatakan, kunjungan tersebut untuk meminta kejelasan dan proses yang sudah dilakukan terkait laporan keluarga korban yang sudah diajukan Sabtu (15/1/2022) lalu.

"Kita datang kesini dari LBH PBHI Sumbar mendampingi keluarga korban yang melapor untuk menanyai kejelasan kasus adanya dugaan pelanggaran HAM yang menyebabkan kematian di Lapas Klas II B Lubuk Basung Beberapa waktu yang lalu. Sejauh mana proses dan tahapan yang sudah dilakukan," ujarnya.

Dilanjutkannya, untuk proses penyidikan pihak keluar menyatakan siap untuk melakukan otopsi terhadap jasad korban. Ia tidak menampik sebelumnya pihaknya sudah menandatangani surat pernyataan tidak melakukan otopsi guna mengetahui penyebab kematian korban.

Akan tetapi Keluarga merasa curiga setelah menemukan luka memar dan lebam pada tubuh korban saat memandikan jenazah. "Banyak memar di tubuh korban, baik itu di wajah, tangan, pinggang, punggung dan kepala korban," ujarnya. 

Kasat Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Agam, AKP Fahrel Hariz yang menyambut langsung kedatangan menyatakan siap menindak lanjuti  laporan keluarga warga binaan yang menduga ada kejanggalan penyebab kematian di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Klas II B Lubuk Basung yang dilaporkan bunuh diri. "Laporan sudah kita tindak lanjuti. Kita sudah melakukan observasi, introgasi serta ambil hasil visum saat di luar maupun di TKP," lanjutnya.

Dijelaskannya, dalam proses penyelidikan pihaknya juga membutuhkan hasil otopsi, tentunya dalam hal ini barang bukti yang merupakan jasad korban harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. "Ini tentunya harus ada kerjasama dengan pihak keluarga agar proses bisa berjalan maksimal," katanya lagi.

Dijelaskannya, Korban Syahrial (34) merupakan warga binaan yang divonis penjara 5 tahun subsider 6 bulan atas kasus penyalahgunaan Narkoba. Pada Sabtu 28 Agustus 2021 lalu, pihak Lapas Klas II B Lubuk Basung melaporkan bahwa Napi atas nama tersebut diketahui kabur dari lingkungan Lapas.

Mendapat laporan ini pihak kepolisian lansung membuat surat perintah penangkapan dan korban masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). "Pada Sabtu (8/1/2022) kami mendapat informasi bahwa Saudara Syahrial sedang berada di Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, dan lansung kita lakukan pengintaian," jelasnya.

Pada saat penangkapan lanjutnya, napi tersebut sempat melakukan perlawanan dan mencoba kabur dari kejaran petugas sehingga petugas terpaksa memberikan tindakan tegas terukur.

"Usai kami amankan napi ini langsung kita berikan pertolongan medis dan pada Minggu dini harinya sesuai hasil pemeriksaan napi tersebut sudah bisa kembali dibawa ke Lapas Klas II B Lubuk Basungm Akan tetapi pada seninnya kami kembali mendapat laporan korban meninggal karrna bunuh diri," katanya lagi.

(jhn)

Berita Terkait

Baca Juga