Pertama di Sumatera, Universitas Bung Hatta Luncurkan Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan

0
3900

Covesia.com – Memjawab tantangan zaman tentang kebutuhan sumber energi masa depan, Universitas Bung Hatta (UBH) meluncurkan program studi (prodi) “Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan.”

Rektor UBH, Prof. Dr. Tafdil Husni, SE., MBA mengatakan, saat ini dunia masih mengandalkan energi yang berasal dari fosil, hal itu tentunya membuat jumlah sumber energi semakin berkurang seiring semakin tingginya penggunaannya sementara itu tidak ada pembaharuan.

Sementara itu, energi terbarukan merupakan sumber energi yang berasal dari sumber daya alam dan tidak akan habis karena terbentuk dari proses alam yang berkelanjutan.

“Tentu sumber energi ini akan menggantikan sumber energi fosil yang nantinya bisa mengganti kebutuhan energi Indonesia dan tidak akan habis, katakanlah energi terbarukan adalah seperti sinar matahari, angin, dan air,” ujarnya saat launching prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan, secara virtual, Sabtu (24/7/2021).

Dalam pengembangan ini lanjut Rektor UBH, tentunya dibutuhkan tenaga-tenaga yang bisa mengelolanya sehingga membuka lapangan pekerjaan bahkan bisa membuka usaha sendiri. 

“Alhamdulillah, Pemerintah melalui Kemendikbud Ristek mempercayakan UBH sebagai salah satu universitas untuk mendidik sarjana terapan yang terampil mengelola sumber energi terbarukan,” lanjutnya.

Untuk program studi di UBH katanya lagi, selain sebagai studi lanjutan siswa yang sudah mengambil jurusan teknik, prodi ini juga bisa diikuti siswa dari jurusan lainnya dan diyakini mampu mengikuti pelajaran dan siap bersaing di dunia kerja.

“UBH Didukung tenaga pengajar yang handal, dalam mendidik, teori hanya 30 persen dan selebihnya praktek lapangan. Prakteknya pun langsung di lokasi industry yang sudah memiliki MoU dengan kita,” katanya lagi.

Sementara itu Kepala Dinas ESDM Sumbar, Herry Martinus menjelaskan, Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan ini merupakan Program studi pertama di Pulau Sumatera. 

Secara geografis terangnya, Sumbar memiliki potensi besar untuk pengembangan energi terbarukan hal itu dilihat dari luas wilayah, memiliki 202 pulau, 1.158 desa dan nagari serta potensi laut yang luas, gunung dan danau l.

“Saat ini kita hanya perlu merubah paradigma tentang orientasi energi supply side management ke orientasi energi demand side management,” terangnya.

Sebelumnya lanjut Kepala Dinas ESDA Sumbar,  energi terbarukan ini hanya sebagai energi alternatif karena selalu mengedepankan energi fosil, akan tetapi sekaranglah saatnya harus beralih dan memaksimalkan penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan.

Selain itu, pengembangan energi terbarukan ini  sesuai dengan tujuan pembangunan energi daerah serta sasaran energi daerah.” Ke depan Pemerintah akan serius dalam pengembangan energi terbarukan dan akan membutuhkan tenaga-tenaga andal di bidang tersebut,” pungkasnya.

(jhn/rdk)