Selain Batang Arau, Sungai Batang Kuranji Juga Tercemar Mikroplastik, Ini Dampak yang Ditimbulan dan Pencegahannya

Selain Batang Arau Sungai Batang Kuranji Juga Tercemar Mikroplastik Ini Dampak yang Ditimbulan dan Pencegahannya Kondisi terkini sungai Batang ditumpuki sampai plastik

Covesia.com - Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) dan WALHI Sumatera Barat (Sumbar) melakukan pengujian kualitas air dan mikroplastik terhadap Sungai Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.

Hal ini dilakukan setelah Tim ESN menemukan pencemaran mikroplastik di Batang Arau, Kota Padang, Sumbar.

Menurut penelitian Farhan Hanieve, Budhi Primasari dan Yommo Dewilda dari Teknik Lingkungan Universitas Andalas, sungai yang menjadi sumber irigas dan PDAM Kota Padang, mengandung mikroplastik 1670-10.000/m3 air.

Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Barat (Sumbar), Tommy Adam menyebutkan, mikroplastik di Batang Arau dan Batang Kuranji bersumber dari timbulan sampah liar di tepi sungai dan di dalam badan air sungai.

Selain timbulan sampah, lanjut Tommy, pencemaran juga disebabkan dari limbah domestik kegiatan mandi dan cuci rumah tangga yang tidak diolah.

"Sekitar 98% jenis mikroplastik berasal dari polyester atau bahan pakaian yang di-laundry. Selanjutnya, dari sumber lain berpotensi datang dari mikroplastik di udara," tutur Tommy, Kamis (12/5/22).

Lalu apa itu mikroplastik dan bagaimana langkah pengendaliannya?

Menurut Peneliti Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN), Prigi Arisandi mengatakan, mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 mm. Serpihan ini berasal dari hasil pecahan plastik ukuran besar yang terbuang di media air.

Proses pecahan ini, lanjut Prigi, disebabkan oleh radiasi sinar matahari, pengaruh fisik gerakan atau arus air.

“Mikroplastik yang masuk dalam air mengikat polutan di air, seperti pestisida, detergen, bakteri patogen. Jika ini (mikroplastik) dikonsumsi manusia melalui ikan, kerang, air, maka polutan beracun akan berpindah ke tubuh manusia. Sehingga menyebabkan gangguan hormon," papar Prigi.

Penemuan dua sungai yang tercemar mikroplastik di Kota Padang tersebut, WALHI dan ESN menyarankan Pemko Padang untuk memprioritaskan masalah ini dengan mengambil kebijakan yang tegas.

Langkah pertama yang disarankan WALHI dan ESN yaitu Pemko Padang sebaiknya menjadi teladan dalam perubahan perilaku pengurangan plastik sekali pakai (PSP), seperti melakukan pemilahan dan pengolahan sampah organik.

Langkah kedua Pemko perlu meninjau kembali dan merivisi Perda pengelolaan sampah dan menerapkan sesuai dengan aturan.

"Pemko perlu menyusun Perda terutama mengenai regulasi pengurangan PSP (tas kresek, Sachet, Styrofoam, Botol air minum dalam kemasan/AMDK, popok dan sedotan)," tulisnya.

Selain itu, Pemko Padang juga perlu membuat dan menerapkan Rencana Teknis Pengelolaan Sampah (RTPS) di masing-masing kawasan (seperti kelurahan atau desa).

"Pemko perlu meningkatkan fasilitas pengelolaan sampah, khususnya pengelolaan sampah organik di tingkat kawasan," tulisnya.

Pemko Padang juga perlu melakukan pembinaan bagi usaha-usaha informasi pengolahan sampah organik, mendukung kampanye Zero Waste atau kampanye pengurangan dan pengelolaan sampah kepada masyarakat.

Selanjutnya, menurut WALHI dan ESN, Pemko Padang turut serta mendorong produsen untuk redesigm packaging produk, sehingga tidak menimbulkan sampah sekali pakai.

(Periyadi Syaputra)

Berita Terkait

Baca Juga