Sejarah Agama Baha’i yang Mendapatkan Ucapan Selamat Hari Raya dari Menag Yaqut

0
346
Salah satu rumah ibadah penganut Baha'i di New Delhi, India. Sumber: bahai.id

Covesia.com – Beberapa waktu lalu umat Agama Baha’i mendapat ucapan selamat hari raya Naw Ruz dari Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas. Hal tersebut mendapat perhatian warganet dan mereka mempertanyakan terkait agama tersebut.

Di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui secara resmi, yaitu Islam, Hindu, Budha, Protestan, Katolik, dan Konghucu. Sementara untuk agama Baha’i tidak ada diantara 6 agama tersebut.

Berikut Covesia.com ulas terkait agama Baha’i dari berbagai sumber.

Sejarah Agama Baha’i. Kata Baha’i berasal dari bahasa Arab ﺑﻬﺎﺋﻴﺔ ; Bahaiyyah adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia.

Agama Baha’i lahir di Persia sekarang Iran pada tahun 1863. Pendiri agama ini yakni Mirza Husayn Ali Nuri yang bergelar Bahaullah (kemuliaan Tuhan, kemuliaan Alláh).

Awalnya, Baha’i berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah lain di Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani.

Dalam ajaran Baha’i, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan yang disebut para “Perwujudan Tuhan”. Bahaullah dianggap sebagai perwujudan Tuhan yang terbaru.

Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya.

Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan fondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Baha’i pasti akan datang.

Ada 3 prinsip ajaran Baha’i yakni keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Baha’i.

Agama Baha’i Masuk ke Indonesia

Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam situs bahai.id dijelaskan, agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

Penyebaran agama Bahá’í di Indonesia yang melalui asimilasi budaya terus menerus mencapai pengikut hingga mereka memiliki Majelis Rohani Nasional (MRN) Baha’i sebagai pusat administrasi dan pusat kegiatan keagamaan.

Saat ini pemeluk Baha’i di Indonesia belum diketahui jumlahnya dengan pasti. Agama ini sempat dilarang di Indonesia pada tahun 1962. Larangan tersebut telah dicabut dalam Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 2000.

Sementara itu, peneliti utama Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kemenag, Nuhrison M. Nuh mengungkapkan, agama Baha’i merupakan agama yang independen, bersifat universal, ia bukan sekte/aliran dari agama lain, termasuk Islam.

Hal tersebut disampaikan dalam acara seminar hasil penelitian yang diselenggarakan Puslitbang Kehidupan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, pada 22 September 2014 lalu di Jakarta.

Salah satu temuan dari penelitian itu kata Nuhrison adalah tidak ditemukannya fakta tentang keterkaitan antara agama Baha’i dengan agama apapun, termasuk Islam.

Konsep ajaran agama Baha’i memiliki ciri khas yang berbeda dengan konsep keagamaan di dalam Islam. Begitu pula dalam tata cara peribadatan.

Meskipun tampaknya ada kesamaan dengan peribadatan Islam seperti sembahyang, puasa, ziarah dan lainnya, tetapi pada praktiknya tata cara peribadatan yang mereka lakukan sama sekali berbeda.

Nuhrison mencontohkan dalam pelaksanaan sembahyang misalnya, para penganut Baha’i mengerjakan sembahyang sebanyak tiga kali dalam sehari.

Kiblat yang dijadikan sebagai arah sembahyangpun juga berbeda. Umat Islam menghadap ke arah Mekah, umat Baha’i sembahyang menghadap Barat Laut (kota Akka-Haifa).