Soal Temuan ''Mark Up'' Nilai Siswa SMPN di Padang, Pakar Pendidikan: Telah Terjadi Pelegalan Kecurangan

Soal Temuan Mark Up Nilai Siswa SMPN di Padang Pakar Pendidikan Telah Terjadi Pelegalan Kecurangan Ilustrasi - Sumber: disdik.sumbarprov.go.id

Covesia.com - Kasus pendongkrakan (Mark up) nilai yang dilakukan oleh salah oknum guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Padang menimbulkan gejolak di masyarakat. Pasalnya, ini berakibat langsung kepada PPDB Jalur Prestasi yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Sumbar untuk masuk Sekolah Menangah Atas (SMA).

Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Dr. Muhyiatul Fadilah, menjelaskan dalam kajian pedagogik, tindakan ini jelas mencerminkan kekeliruan telak yang dilakukan guru dan sekolah dalam mengevaluasi kompetensi peserta didik.

Baca: Kasus ''Mark Up'' Nilai di SMPN di Padang Berbuah Surat Terbuka untuk Gubernur Sumbar

"Telah terjadi pelanggaran pada azas-azas 'assesment' pembelajaran yang harusnya objektif (apa adanya) dan akurat (tepat). Perbuatan mark up nilai ini jelas merugikan kepada siswa, baik siswa yang di 'mark up' nilainya, maupun siswa yang tidak di-'mark up' nilainya," ucapnya saat dihubungi, Selasa (28/6/2022).

Atas kejadian itu, Muhyiatul menilai telah terjadi pelegalan kecurangan, dan mengelabui sistem seleksi yang menjadi bekal masa depan siswa itu sendiri.

"Mereka yang diloloskan akan berada pada ruang yang tidak tepat dan waktu yang tidak tepat. Melalui proses, akan tertinggal karena tidak mampu dalam mengikuti pembelajaran yang akan dipelajari," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, bagi yang "fair" atau memang menggunakan nilai yang sesungguhnya akan sangat  mematikan impian dan harapan serta masa depan, karena tidak bisa mengantarkan siswa yang berbakat pada tempat yang tepat.

Dia berharap, temuan ini dapat menjadi bahan evaluasi besar bagi semua pihak, bagaimana sistem seleksi dalam PPDB telah memancing ambisi yang berlebihan di lingkungan sekolah.

"Bagi perguruan tinggi penyelenggara pendidikan calon guru, harus menyikapi ini dengan sigap dan menunjukkan langkah antisipatif, agar calon guru memegang teguh kejujuran dalam menilai. Jika boleh beranalogi, kesalahan dan kekeliruan pendidik dalam menilai akan mewariskan dosa jariyah, mengalir, dan bersambung ke generasi berikutnya," tutupnya.

Berita Terkait

Baca Juga