Cuaca Buruk Hasil,Tangkapan Nelayan Di Tanjung Mutiara Agam Berkurang 50 Persen

Cuaca Buruk HasilTangkapan Nelayan Di Tanjung Mutiara Agam Berkurang 50 Persen
Covesia.com - Cuaca buruk yang terjadi di sebagian wilayah di Sumatera barat (Sumbar) beberapa pekan terakhir berdampak sangat kepada hasil tangkapan nelayan di pesisir pantai, 
Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Agam, Arman mengatakan, pengurangan hasil tangkapan berkisar 50 persen dari 15 sampai 20 keranjang menjadi 7 sampai 10 keranjang dalam sekali melaut.

"Berkurang banyak dari hasil biasanya, untuk nelayan pukat kalau hari-hari biasanya  bisa dapat sampai 20 keranjang kalau hari ini kadang 7 paling banyak 10 keranjang," ujarnya Kamis (22/9/2022).

Dikatakannya, sejak awal Agustus 2022 kondisi curah hujan tinggi disertai angin kencang kerap memicu gelombang besar di tengah laut, hal itu membuat pergerakan mencari ikan menjadi terbatas bahkan sangat beresiko kepada mesin kapal.

Selain itu, tidak stabilnya gelombang membuat ikan-ikan lebih memilih bersembunyi di peraian laut dalam dan sulit ditangkap.

Sebelum melaut biasanya para nelayan melihat pergerakan awan, untuk memprediksi kondisi cuaca. Meski terpantau ada potensi badai para nelayan masih ada yang nekad mencoba melaut.

Mereka biasanya mencari ikan di sekitar Pulau Tangah dan Pulau Ujuang, (dua pulau yang berada tidak jauh dari pantai Tiku Tanjung Mutiara). "Ada juga yang masih mencari ikan, tapi tidak jauh ke tengah, hanya disekitar pulau, jadi jika cuaca buruk bisa lansung berlindung," lanjutnya.

Kondisi berkurangnya hasil tangkapan nelayan juga berdampak kepada harga jual ikan paut di pasar tradisional di Agam, saat ini kenaikan harga jual ikan laut berkisar Rp5ribu /Kg.

Tercatat harga ikan tongkol Rp35 ribu /Kg, ikan tuna Rp35 ribu /Kg, ikan sarden Rp35 ribu/Kg, ikan kembung Rp40 ribu.

(Jhn)

Berita Terkait

Baca Juga