Curah Hujan Tinggi, Produsen Ikan Asin di Agam Merugi

Curah Hujan Tinggi Produsen Ikan Asin di Agam Merugi Ilustrasi - Foto: Johan Utoyo

Covesia.com - Produksi ikan asin di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat berkurang drastis, dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah setempat dalam sepekan terakhir

Salah seorang produsen ikan asin di Tanjung Mutiara, Rodi mengatakan, proses pengeringan ikan asin sangat mengandalkan cahaya matahari, curah hujan berkepanjangan selama sepekan terakhir membuat para produsen tidak bisa menjemur ikan.

"Cuaca cerah proses penjemuran ikan membutuhkan waktu minimal 2 hari, namun sepekan terakhir kami tidak bisa menjemur. Jika dalam 5 hari tidak kering lanjutnya, ikan tidak kunjung kering maka terpaksa dibuang karena akan membusuk," ujarnya Kamis (17/11/2022).

Selain itu lanjutnya curah hujan dan gelombang di tengah laut membuat para nelayan juga enggan untuk mencari ikan, hal ini juga berdampak kepada sulitnya mendapatkan bahan baku ikan segar.

"Bahan baku yang kita gunakan merupakan ikan hasil tangkapan nelayan di Pasia Tiku sekitar. beberapa minggu ini banyak yang tidak melaut jadi sulit untuk mendapatkan ikan untuk ikan asin," jelasnya lagi.

Dalam satu pekan dalam kondisi cerah, Rodi bisa menghasilkan 130 kg hingga 150 kg. Namun, jika cuaca buruk maksimal hanya bisa memproduksi 80 kg ikan asin.  

Untuk Ikan asin yang kualitas bagus biasanya dijual dengan harga Rp60 Ribu/kg sementara kualitas buruk hanya terjual dengan harga Rp30 ribu/kg. 

"Tidak ada yang kering dalam dua hari jadi harga jual anjlok, otomatis kami rugi," tuturnya.

Hal tersebut dibenarkan, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Agam, Arman menambahkan dalam tiga pekan terakhir banyak para nelayan tidak mencari ikan. 

Kondisi curah hujan tinggi dan angin kencang memicu gelombang besar hal ini sangat berisiko jika dipaksakan. " Pekan ini  Gelombang laut sangat tinggi jika dipaksakan maka akan berisiko terhadap keselamatan atau pun kapal," katanya.

Dengan kondisi gelombang seperti ini biasanya para nelayan memperbaiki kapal dan jaring ikan yang rusak. 

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka akan kerja serabutan dan setelah gelombang kecil. Para nelayan akan kembali melakukan aktivitas menangkap ikan dengan kondisi kapal dan alat tangkap sudah bagus.

(jhn)


Baca Juga