Menguak Isu Pelecehan Seksual di UIN Imam Bonjol Padang

Menguak Isu Pelecehan Seksual di UIN Imam Bonjol Padang Kampus UIN Imam Bonjol Lubuk Lintah, Padang. (Foto: Lisa Septri Melina/covesia)

Covesia.com - Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang diterpa isu dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen ke mahasiswi. Isu tersebut mencuat setelah ratusan mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di rektorat kampus pada Rabu, (23/11/2022).

Isu tersebut menjadi bola liar karena belum diketahuinya identitas mahasiswa yang menjadi korban pelecehan seksual dan juga oknum dosen yang diduga menjadi pelaku. Tak hanya itu, jumlah korbannya pun masih samar. Ada yang menyebut satu orang dan ada juga yang mengungkapkan sampai 3 orang.

Mencari tahu kebenaran kasus tersebut, Kamis (24/11/2022), tim Covesia.com berusaha mencari pihak-pihak berkompeten yang mengetahui kronologi kasus tersebut.

Covesia belum berhasil menemui korban, namun mendapatkan keterangan dari teman salah seorang diduga korban pelecehan seksual tersebut.

Mahasiswi yang tidak mau menyebutkan identitasnya itu menuturkan bahwa dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum dosen itu benar adanya, bukan sekadar isu belaka.

"Awalnya bapak (pelaku) mendekati kita, namun lebih fokus kepada korban," katanya saat berbincang dengan Covesia.com, Kamis (24/11/2022).

Diapit rasa kecewa, saksi menceritakan kronologi yang dialami korban akibat perbuatan oknum dosen itu. Ia mengatakan saat ini temannya belum berani untuk "speak up" baik itu kepada publik maupun kepada pihak kampus karena merasa takut.

Ia dan temannya yang menjadi korban itu satu kelas di kampus. Dikatakan, temannya mengalami pelecehan dari oknum dosen yang mengampu mata kuliah di kelasnya.

Ia mengatakan, oknum dosen tersebut memang sering mengajak ia dan temannya untuk berbicara dan duduk di taman fakultas. Peristiwa diperkirakan bermula sejak awal semester ganjil (sekitar Agustus 2022). Namun saksi merasa ada yang janggal bahwa ia dan korban mendapat perlakuan berbeda.

"Bapak (oknum dosen) itu pernah mengajak kita makan di area kampus, terus bapak juga mengatakan kepada kita bahwa ia sering mengajak mahasiswinya untuk jalan-jalan, keluar bersama. Namun semua ajakan tersebut tidak kita indahkan," katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan, lama kelamaan sang korban mendapat perlakuan berbeda dari temannya yang lain. Korban pernah diajak berenang dan karoke, namun semua ajakan itu ditolaknya. Kemudian pada suatu waktu oknum dosen tersebut pernah bicara kepada korban di area kampus; apakah boleh pegang pinggangnya? Namun tetap ditolak korban.

Atas semua perlakuan oknum dosen itu, korban merasa tidak nyaman dan takut, dan juga tidak berani bicara.

"Korban diajak berenang, diajak ke karaoke malam bersama. Dosen itu juga pernah bicara ke korban apakah boleh dipegang pingangnya, namun tidak dituruti," ceritanya.

Ia juga menceritakan bahwa dalam pergaulan dengan mahasiswa, oknum dosen itu bersikap tidak biasa atau berbeda dari dosen-dosen lain.

"Dari awal belajar, perilaku bapak itu memang sudah aneh dari yang lain, misalnya saat bersalaman, tangan kita dipegang terlalu lama. Saya juga dapat kabar kalau bapak itu suka gadis (perempuan lajang)," katanya.

Sementara untuk bukti tertulis, ia menyebutkan bahwa temannya itu tidak memiliki bukti percakapan di WhatsApp atau rekaman telepon. Karena, komunikasi antara dosen dan korban dilakukan secara langsung saat di kampus. Tidak pernah melalui WhatsApp.

"Kalau untuk bukti nyatanya memang tidak ada, karena pelaku melakukannya secara langsung bukan melalui pesan WhatsApp," katanya.

Tindakan Pihak Kampus

Sebelumnya Ketua Senat UIN Imam Bonjol Padang Prof Duski Samad mengatakan pihaknya menunggu bukti dari korban agar kasus ini dapat ditangani.

"Jika ada kasus pelecehan seksual maupun pungutan liar (pungli) di lingkungan kampus tentu perlu adanya bukti, hingga kini kami belum mengantongi bukti tersebut," ujarnya.

Duski juga meminta agar mahasiswa yang merasa menjadi korban untuk melapor. "Saya pastikan akan melindungi," sambungnya.

Tambahnya, jika telah ditemukan ada bukti pelecehan seksual, maka pihaknya akan segera menindalanjuti. "Agar bisa ditindaklanjuti kami menunggu bukti-bukti dari mahasiswa," katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Imam Bonjol, Welhendri Azwar juga mengatakan hal yang sama. Pihaknya juga menunggu korban melapor dan memberikan bukti.

"Kalau ada kasus itu pihak kampus minta bukti, kalau tidak ada bukti nantinya akan jadi kasus pencemaran nama baik," ujarnya.

Welhendri mengatakan jika ada mahasiswa merasa menjadi korban pelecahan seksual agar segera melapor dan pihak kampus akan melindungi korban tersebut. 

"Pastinya nanti akan kami lindungi. Ini tidak ada bukti, kalau dosen tidak terbukti nanti kami yang bisa dipidanakan," sambungnya.

Diungkapkan Welhendri, saat ini belum ada korban dan saksi yang melapor kepada pihak kampus. Berita tersebut baru muncul dari isu-isu mahasiswa di kampus UIN IB. 

"Saya tegaskan kalau melapor kami akan tindaklanjuti pelakunya, dan mahasiswi itu akan dijamin oleh pihak kampus," tegasnya. 

Sementara, untuk oknum dosen tersebut, lanjut Welhendri, apabila terbukti bersalah maka akan diusulkan sanksi administrasi Aparatur Sipil Negara dan kemungkinan bisa dipecat.

"Nanti kalau memang ada oknum dosen terbukti melakukan hal dituduhkan pastinya ada usulan sanksi administrasi untuk dosen tersebut jika memang bersalah," jelasnya.

Selain itu, Welhendri mengungkapkan, menanggapi kasus itu, Rektor UIN IB Prof. Dr. Martin Kustati, M.Pd sudah melakukan dialog terbuka dengan mahasiswa untuk berdiskusi dan menyisiri kasus ini, meskipun sampai saat ini belum ada korban yang mau buka mulut untuk melapor kepada pihak kampus.

"Kita sudah berdialog tadi dengan mahasiswa tersebut, dialog terbuka, dan rektor telah menerima semuanya tuntutan mahasiswa, termasuk mengenai Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Akan kita usahakan yang terbaik dan kita kerjakan secepatnya," imbuhnya.

Tanggapan LBH Padang

Menanggapi kasus itu, Adri selaku Bidang Isu LBH Padang menegaskan akan mempelajari dan mendalami dugaan kasus pelecehan seksual di lingkungan UIN Imam Bonjol tersebut.

Ia mengatakan, desas-desus kasus tersebut sudah sampai ke LBH, pihaknya saat ini tengah mempelajari dan mendalami kasus tersebut.

"Isunya sudah kami dengar, sekarang kani sedang selidiki, kami juga koordinasi dengan beberapa rekan di UIN untuk mendalami kasus tersebut," ujarnya 

Sejauh ini sejak kasus tersebut viral, pihaknya belum menerima pengaduan dari korban. Menurutnya korban mungkin masih trauma dan ada ketakutan untuk melaporkan peristiwa yang menimpanya.

"Laporan dari korban belum ada, mungkin karena trauma atau takut, ya. Sekarang kami lagi berusaha kumpulkan bukti dan data," jelasnya.

Reporter: 

- Lisa Septri Melina

- Pariyadi Saputra

Baca Juga