BMKG: Diprediksi Cuaca Ekstrem Masih Akan Terjadi Saat Nataru

BMKG Diprediksi Cuaca Ekstrem Masih Akan Terjadi Saat Nataru Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Stasiun BMKG BIM Padang Pariaman memprediksi curah hujan yang masih tinggi pada bulan Desember 2022 di Sumatera Barat, yakni pada 10 hari pertama Desember dan 10 hari kedua Desember.

Kepala Stasiun BMKG BIM Padang Pariaman, Sakimin mnyebutkan, berdasarkan data, intensitas sedang-lebat diperkirakan mengguyur Sumbar jelang Natal dan Tahun baru.

"Peluang hujan dengan intensitas sedang-lebat pada saat menjelang Natal dan menurun antara Natal hingga Tahun Baru dan awal Januari 2022," kata Sakimin saat dihubungi pada Rabu (7/12/2022).

Sakimin menerangkan hujan dengan intensitas tinggi dan visibilitas rendah masih dapat terjadi pada saat masa Natal dan Tahun Baru dikarenakan Desember-Januari merupakan musim hujan di Sumbar. 

Sakimin mengatakan agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan akan terjadinya bencana hidrometeorologis terutama titik-titik rawan longsor.

"Untuk itu masyarakat siap siaga terutama titik-titik rawan longsor dan banjir seperti di Agam, Padang Pariaman, Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan serta kewaspadaan terhadap daerah lainnya di Sumbar," jelasnya.

Sedangkan untuk perkiraan tinggi gelombang laut untuk Perairan Selat Mentawai masih dalam kondisi normal hingga menjelang Nataru. 

Sakimin menjelaskan karakteristik cuaca Sumbar yang lembab dan dinamis berpengaruh terhadap kenyamanan tubuh, sehingga perlu untuk tetap menjaga imunitas terhadap perubahan kondisi cuaca. 

Perubahan kondisi cuaca ini juga berdampak terhadap transportasi darat, laut, dan udara. Untuk transportasi darat berdampak di daerah seperti Padang, Pesisir Selatan, Agam, dan Padang Pariaman akan bencana hidrometeorologi.

"Meningkatnya titik genangan di jalan akibat hujan dengan durasi lama dan kelembaban yang tinggi berpotensi merusak jalan yang dapat juga mengganggu kelancaran lalu-lintas terutama pada saat terjadi peningkatan debit kendaraan selama masa libur natal dan tahun baru," terangnya. 

Dampak kondisi cuaca untuk transportasi laut mencapai tunggi gelombang 2,5 meter untuk Selat Mentawai. Sehingga perlu kewaspadaan perahu-perahu tradisional dan kecil.

"Bibit siklon tropis di perairan Samudera Hindia barat daya Sumatera, sehingga dapat meningkatkan tinggi gelombang laut dan angin di Selat Mentawai yang berdampak terganggunya lalu lintas perairan yang menguhubungkan antara Sumatera dengan Kepulauan Mentawai," jelasnya. 

Sakimin meminta masyarakat untuk meningkatkan perhatian terhadap prakiraan cuaca sebagai antisipasi keterlambatan penerbangan dan pergerakan di sisi darat.

"Kemudian ancaman petir dapat menimbulkan gangguan terhadap peralatan Sintelis (Sinyal, Telekomunikasi, dan Listrik) meskipun potensi gangguan tersebut bersifat minim," tutupnya.

Baca Juga