- Advertisement -
BerandaNewsMUI Soal Kemunculan Aliran yang Diduga Sesat di Solsel: Tunggu Kajian FKUB

MUI Soal Kemunculan Aliran yang Diduga Sesat di Solsel: Tunggu Kajian FKUB

- Advertisement -

Covesia.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok Selatan segera melakukan kajian bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) terkait adanya temuan di daerah setempat tentang aliran “Pelindung Kehidupan” yang diduga sesat. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solok Selatan, Syarkawi Aziz kepada Covesia.com, mengatakan bahwa saat ini pihaknya menunggu data valid dari pihak FKUB setempat sebelum nantinya dilakukan sidang di majelis MUI setempat.

“Kami sudah mendapat informasi itu tentang adanya aliran pelindung kehidupan yang dinyatakan sesat dari Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan (Pakem) di daerah Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan yang beranggotakan 20 orang. Makanya kami minta data valid dari FKUB agar nanti dibawa ke sidang majelis MUI,” terang Syarkawi Aziz, Kamis (14/10/2021).

Syarkawi Aziz mengaku baru kali ini menerima informasi aliran tersebut dan belum pernah ada di daerah setempat. “Kami juga sangat terkejut mendapat informasi ini. Selama ini kegiatan amal ibadah umat muslim di Solok Selatan baik-baik saja. Kita juga tidak tahu persis dari mana aliran tersebut berasal hinga bisa berkembang beranggotakan 20 orang ini,” katanya.

Syarkawi menyatakan terkait persoalan itu tidak akan dibiarkan berlarut-larut sebelum jauh berkembang. “Persoalan ini harus diatasi segera. Jangan sampai nanti berkembang luas. Ini jelas sangat meresahkan masyarakat,” katanya.

Pihaknya belum bisa memastikan seperti apa amal ibadah yang dilaksanakan para penganut aliran “pelindung kehidupan” itu sehari-hari.

“Secara aqidah, jika amalan itu sudah melenceng (menyimpang) dari yang prinsip dalil qad’i (wajib), itu jelas menyimpang (sesat). Kecuali dalam khilafiah biasa saja. Akan tetapi kita belum memiliki data validnya. Makanya setelah didapatkan data valid nantinya akan segera dikaji dan disidangkan di majelis MUI,” ungkapnya.

Sementara Ketua FKUB Solok Selatan, Yusriadi mengatakan Aliran Pelindung Kehidupan ini sesuai penelitian Pakem sudah meresahkan masyarakat, salah satunya terkait salat yang dianggap tidak terlalu perlu.

“Dalam waktu dekat kami akan turun ke lapangan untuk melihat bagaimana ajaran pelindung kehidupan ini,” ujarnya.

Dari segi kerukunan umat beragama, katanya, ajaran itu sudah meresahkan masyarakat. Setelah turun ke lapangan, katanya, kalau diketahui itu sesat maka akan dilakukan pembinaan agar pengikutnya kembali berjalan sesuai syariat Islam.

“Tugas kami hanya menjaga dan membina kalau sangsi itu hak pemerintahan,” ujarnya.

(hri/rdk)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -