Kisruh Golkar, Pengamat: Kalau Kita Jujur Kepemimpinan ARB yang Terburuk

Jakarta – Suksesi kepemimpinan di tubuh Partai Golongan Karya (Golkar) selalu menarik jadi perbincangan. Apalagi Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri bakal maju kembali untuk mempertahankan posisinya.

Pengamat politik dari Point Indonesia Karel Susetyo menilai, Partai Golkar pasca Orde Baru mempunyai tradisi bahwa ketua umum (ketum) hanya maju sekali dalam pencalonan. Meski tidak ada dalam aturan, namun hal itu menunjukan komitmen Partai Golkar terhadap proses regenerasi internal.

Sehingga musyawarah nasional (munas) partai harus menjadi media evaluasi yang efektif dalam menilai kinerja ketua umum. dan bukan hanya untuk memilih ketua umum saja.

“Kalau kita jujur, kepemimpinan Aburizal adalah yang terburuk dari sisi prestasi elektoral dan juga posisi Politik Golkar,” ujar Direktur Eksekutif Point Indonesia itu kepadaCovesia.comdi Jakarta, Rabu (13/11).

Peta politik di parlemen, Partai Golkar hanya mampu memperoleh 91 kursi. Terlebih pula Partai Golkar tak mampu berbuat banyak dalam pemilihan presiden lalu.

“Jelas ini sebuah kegagalan. Oleh karenanya para pemilik suara dalam munas nanti harus bersikap rasional dgn tidak mencalonkan lagi Aburizal sebagai ketum,” tandasnya. (hat/lif)

0 Comments

Leave a Comment

4 + twelve =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password