AJI Makasar: Polisi Penganiaya Wartawan dan Mahasiswa Harus diseret ke Pengadilan

Makasar-Aksi penganiayaan yang dilakukan aparat kepolisian di Kota Makassar saat melakukan pengamanan aksi demonstrasi mahasiswa menolak rencana kenaikan harga BBM di Kampus Universitas Negeri Makassar Jalan AP Pettarani, Kamis (13/11/2014) menuai kecaman dari berbagai pihak. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Makasar meminta penegak hukum bertindak tegas dengan menyeret pelaku penganiayaan ke pengadilan.

Akibat aksi brutal penegak hukum tersebut, hingga malam ini sudah 7 jurnalis yang teridentifikasi mengalami kekerasan. Satu di antaranya, yakni Waldy dari Metro TV, mengalami luka robek dan pendarahan di bagian kepala kiri depan. Ia terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit untuk penanganan serius.

Enam wartawan lainnya masing-masing Iqbal Lubis (Koran Tempo), dan Ikrar Assegaf (Celebes TV), Asep (Rakyat Sulsel), Zulkarnain “Aco” (TV One), Rifki (Celebes Online), serta Fadly (media online kampus). Rata-rata, mereka dianiaya dengan cara ditendang, ditinju, dijambak, dan peralatan kerja jurnalistik dirampas, disita, lalu dirusak dan disabotase.

Dilaporkan, masih ada jurnalis lain yang mengalami kekerasan serupa namun belum teridentifikasi.

“Atas kejadian ini, ada dua hal mendasar yang menjadi catatan. Pertama, kasus penyerangan hingga ke dalam kampus. Ini merupakan aksi kelewat batas yang menginjak-injak wilayah otonom kampus, terlepas luka yang dialami Wakalporestabes Makassar, AKBP Toto Lisdiarto. Perusakan sepeda motor mahasiswa yang sedang kuliah dan penyiksaan dengan sistem pukul rata, merupakan aksi vandal, sabotase, dan patut diduga melanggar HAM,” ujar Plt Sekretaris AJI Makasar Ridwan Marzuki dalam rilis yang diterima covesia, Kamis (13/11/2014).

Kedua, lanjut Ridwan, penganiayaan kepada jurnalis. Sangat disayangkan, polisi yang mengklaim diri pengayom, justru melakukan pelanggaran terhadap regulasi, terutama UU Nomor 40/1999 tentang Pers. Seenaknya mereka merampas, menyita, memukul, dan menyiksa wartawan yang secara regulasi, dilindungi oleh undang-undang. Tentu saja, para pelaku juga melanggar KUHP karena melakukan penganiayaan.

Terkait masalah itu, AJI Makasar sudah menyampaikan sejumlah tuntutan diantaranya meminta agar seluruh aparat yang terlibat dalam penganiayaan itu diseret ke pengadilan. (ys)

0 Comments

Leave a Comment

2 × 4 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password