4,9 Juta Bibit Lobster NTB Diekspor ke Vietnam

Mataram – Sebanyak 4,9 juta ton bibit lobster yang ditangkap dengan cara pocong berhasil dikirim ke Vietnam. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan
Nusa Tenggara Barat Aminollah, Vietnam sudah mengimpor
sebanyak 4,9 juta bibit lobster hasil tangkapan nelayan di Pulau Lombok,
pada periode Januari-Oktober 2014.”Itu data dari Kantor Karantina Ikan di Mataram, yang kami terima,” katanya di Mataram, Senin (17/11/2014).

Dia mengatakan, bibit lobster itu dikirim oleh eskportir dari Bali
yang bermitra dengan para nelayan di Pulau Lombok. Mereka melakukan
pengiriman melalui Jakarta. Menurut Aminollah, jumlah bibit
lobster asal Pulau Lombok yang diekspor terus mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun. Misalnya, pada 2012 sekitar satu juta ekor, meningkat
menjadi lebih dari tiga juta ekor pada 2013, dan lebih banyak lagi pada
2014, yakni mencapai 4,9 juta ekor. “Perkiraan kami kemungkinan bibit lobster yang diekspor hingga akhir 2014 mencapai lebih dari lima juta ekor,” ujarnya.

Dia mengatakan, benih lobster yang dijual para nelayan merupakan
hasil tangkapan dari perairan laut dengan menggunakan alat sederhana
terbuat dari karung warna putih yang disebut “Pocong”. Alat
tangkap ini dipasang dalam keramba jaring apung yang seharusnya
digunakan sebagai media budi daya pembesaran ikan atau udang laut.

Lokasi penangkapan benih lobster tersebar di tiga titik, yakni di
Teluk Bumbang, Teluk Awang dan Gerupuk. Seluruhnya berada di wilayah
Kabupaten Lombok Tengah. Ada juga di Teluk Ekas, Serewe, dan
Telong-elong, Kabupaten Lombok Timur, serta perairan laut Sekotong,
Kabupaten Lombok Barat.

Nelayan menjual bibit lobster dengan
harga Rp20 ribu per ekor untuk jenis benih lobster mutiara, sedangkan
benih lobster pasir Rp17.000/ekor. “Para nelayan menjual kepada para pengumpul yang merupakan mitra dari para eksportir dari Bali,” ucap Aminollah. Menurut dia, penangkapan menggunakan “Pocong” termasuk kategori
ramah lingkungan. Hanya saja tingkat penangkapan sudah sangat massif
tanpa kendali karena tidak ada regulasi.

Untuk itu,
Pemerintah Provinsi NTB menyarankan agar ada semacam aturan adat yang
membatasi kuota penangkapan untuk mencegah terjadinya kepunahan populasi
bibit lobster. “Kami sarankan ada semacam awig-awig (aturan
adat) yang disepakati oleh para nelayan. Kalau menekan penggunaan
“Pocong” itu jelas tidak boleh karena termasuk ramah lingkungan,”
katanya sebagaimana dilaporkan Antara, dilansir covesia.com. (ant/cal)

0 Comments

Leave a Comment

19 + nineteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password