Derby della Madonnina, Rivalitas Kaum Buruh dan Masyarakat Papan Atas Milan

Milan – Akhir pekan ini, Kota Milan bakal diguncang laga derby dua klub besar sekota, AC Milan versus Inter Milan dalam lanjutan kompetisi Serie A pekan ke-12 pada Senin (24/11/2014).

Derby della Madonnina diibaratkan pertarungan gengsi antara klub berdarah Inggris dan klub murni asal Italia. Derby ini juga merupakan rivalitas dua stara masyarakat, Milan mewakili kalangan buruh, sedangkan Inter digandrungi masyarakat papan atas.

Derby della Madonnina mengambil nama dari patung ikonik Bunda Maria yang terletak di atas Duomo di Milano atau Katedral Milan yang biasa disebut warga Milano sebagai ‘Madonnina’.

Derby Milan pertama kali terjadi pada tahun 1908 dalam ajang Coppa Chiasso yang dimenangkan Milan 2-1.

Kedua klub awalnya bersatu di bawah nama ‘Milan Cricket and Football Club’ yang dipelopori dan dibentuk dua ekspatriat Inggris, Herbert Kilpin dan Alfred Edwards pada 16 Desember 1899.

Klub berjuluk Rossoneri (merah dan hitam) itu langsung menguasai stadion Giuseppe Meazza (San Siro) yang dimiliki pemerintah kota Milan.

Sembilan tahun berselang, muncul perseteruan dalam hal kebijakan merekrut para pemain asing sehingga berujung pada perpecahan klub.

Grup pemuda asli Italia dan imigran Swiss yang dipimpin Giorgio Muggiani, Pietro Dell’Oro dan Hintermann bersaudara (Enrico, Arturo dan Carlo) lalu membentuk ‘Football Club Internazionale’ pada 9 Maret 1908.

Klub Milan lantas menambahkan kata ‘Associazone Calcio’ (A.C.) sebagai namanya untuk menghilangkan predikat sebagai klub asing. Milan pun harus berbagi stadion dengan tetangganya.

Sejak itulah, rivalitas antara dua klub sekota ini selalu menarik untuk ditonton. Kedua klub ingin membuktikan sebagai yang terbaik di Giuseppe Meazza.

Milan meraih scudetto pertamanya pada tahun 1901 lalu tahun 1906 dan 1907. Sementara Inter baru sukses pada tahun 1910 di bawah kepemimpinan kapten dan pelatih Virgilio Fossati lalu menambah koleksi lima scudetto (1910, 1920, 1930, 1938, 1940).

Milan baru dapat kembali meraih gelar scudetto pada musim 1950-51 saat era Il Grande Milan yang dimotori Cesare Maldini, Lorenzo Buffon dan Carlo Annovazzi serta trio ikonik Gre-No-Li asal Swedia.

Gunnar Nordahl datang ke San Siro pada awal musim 1948-49 diikuti Gunnar Gren dan Nils Liedholm pada musim berikutnya dan mereka berperan besar dalam menyumbangkan empat scudetto untuk Milan.

Kini, Inter tidak mau lagi selalu dibawah bayang-bayang AC Milan. Klub yang dimiliki Erick Thohir ini berusaha mengejar koleksi gelar yang lebih banyak dimiliki Milan.

Pendukung AC Milan secara tradisional berasal dari kelas pekerja dan serikat buruh. Sementara, fans Inter cenderung berasal dari strata sosial lebih mapan dan tinggal di kota.

Derby Italia ini selalu penuh dengan suasana panas dari fans ‘hardcore’ yang memenuhi tribun stadion berkapasitas 85.000 tempat duduk. Penggemar ini dikenal sebagai ‘Ultras’, selalu menjadi bumbu yang menarik antara dua klub tua di kota Milan.

Musim ini, prestasi AC Milan dan Inter kurang begitu moncer. Keduanya masih bertengger di papan tengah Serie A, Milan menempati posisi 7, sementara Inter di urutan ke-9.

Derby della Madonnina juga akan penuh dengan ejekan antar fans. Inter yang tidak pernah terdegradasi dari Serie A selalu memakai “senjata” ini untuk meledek Milan, yang pernah terpeleset dua kali ke Serie B pada 1979 dan 1981. (rio)

0 Comments

Leave a Comment

3 × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password