Istri Brigadir Rudy, Minta Keadilan Pada Presiden Dan Kapolri

Kupang – Pasca ditahannya Brigadir Rudy Soik, anggota Polda Nusa Tenggara Timur karena dugaan penganiayaan, istrinya, Wellinda Juliatni Wonlele, tidak tinggal diam.

Wellinda merasa, suaminya telah di kriminalisasi oleh kesatuan tempatnya bekerja, gara-gara sang suami berani melaporkan perbuatan atasannya yang diduga kuat terlibat dalam kasus Human Trafficking atau perdagangan manusia di Nusa Tenggara Timur.

Dia mengatakan, suaminya itu ditahan karena berani mengadukan atasannya yang diduga kuat terlibat dalam kasus Human Trafficking, selain itu juga karena suaminya Rudy pernah muncul di acara Talk Show Mata Najwa yang ditayangkan Metro TV beberapa waktu lalu.

Karena pada acara itu Rudy juga membeberkan keterlibatan atasannya di Polda NTT, yang diduga kuat ikut terlibat dalam kasus itu.

Wellinda berharap, agar Presiden dan Kapolri membantu suaminya dalam membongkar mafia perdagangan manusia.

Ia sangat berharap ada keadilan bagi suaminya, yang ditahan karena dugaan penganiayaan.

“Saya sangat berharap Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Kapolri Jenderal Sutarman bisa membantu suami saya dalam melawan dan membongkar jaringan mafia perdagangan manusia di NTT,” kata Wellinda kepada Wartawan, Minggu (23/11/2014).

Wellinda menyebutkan, apa yang dilakukan suaminya itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan banyak orang di Nusa Tenggara Timur.

Suaminya Rudy tengah berusaha mengungkap jaringan mafia perdagangan manusia di daerahnya, termasuk melaporkan atasannya yang dia anggap terlibat dalam kasus itu.

Menurut Wellinda, suaminya yang seorang anggota polisi aktif saja diperlakukan seperti itu, apalagi warga biasa yang ingin membongkar jaringan mafia tersebut, ujarnya.

Ia mengatakan, setelah menjalani masa tahanan di Polda NTT, kondisi fisik dan mental suaminya berubah drastis.

“Sepertinya dia lagi beban pikiran menghadapi kasus ini secara sendirian,” ujar Wellinda.

Ia berharap, kasus tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar suaminya juga bisa membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, dan ia juga meyakini suaminya Brigadir Rudy telah menjalankan tugasnya dengan baik dan benar.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda NTT menetapkan Rudy sebagai tersangka dalam kasus dalam kasus penganiayaan terhadap Ismail Pati Sanga (30), warga Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (29/10/2014) silam.

Penganiayaan terjadi ketika Ismail dijemput Rudy dan beberapa rekannya di Kelapa Lima, Kota Kupang. Rudy meminta Ismail memberitahukan keberadaan Tony Seran, rekan Ismail, yang diduga merupakan anggota jaringan perdagangan manusia. Ismail mengaku tidak tahu sehingga terjadi cekcok antara dia dan Rudy. Rudy kemudian memukul dan menendang dada Ismail.

Namun Rudy membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu. Brigadir Rudy Soik, yang menjadi penyidik pada Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda NTT itu mengadukan atasannya, Direktur Krimsus Polda NTT Komisaris Besar Polisi MS ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) di Jakarta pada 19 Agustus 2014.

Brigadir Rudy Soik menganggap atasannya Kombes MS secara sepihak menghentikan penyidikan kasus calon TKI ilegal yang sedang ia tangani.

Rudy juga mengatakan, kasus calon TKI ilegal itu terjadi pada akhir Januari 2014. Ketika itu, ia bersama enam rekannya di Ditreskrimsus Polda NTT menyidik 26 dari 52 calon TKI yang diamankan karena tak memiliki dokumen.

Terkait laporannya ke Komnas HAM, Rudy menyatakan siap dipecat jika aduannya terbukti direkayasa. Namun, jika komandan yang terbukti bersalah, maka dia meminta masyarakat dan pemerintah untuk menghukum pelaku.

Rudy juga meminta Polda NTT untuk tidak memperlakukan dirinya seperti musuh bagi polisi, karena bagaimanapun juga dirinya saa ini masih anggota polisi yang aktif.(jmb)

0 Comments

Leave a Comment

twenty − 15 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password