Ini Dia Tujuh Poin Alasan Penolakan Film Senyap oleh LSF

Covesia.com – Lembaga sensor Film (LSF) menyatakan bahwa film Senyap (The Look of Silence) besutan Sutradara Joshua Oppenheimer “Ditolak Seutuhnya” untuk dipertontonkan kepada khalayak umum.

Hal tersebut ditegaskan karena dianggap tidak sesuai dengan asas, tujuan dan fungsi perfilman yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perfilman serta di indikasi mengarahkan penonton untuk bersimpati pada PKI dan ajaran komunisme.

Dalam surat pernyataannya No. 04/DCP.NAS/TLK/LSF/XII/2014, tertanggal 29 Desember 2014, LSF sedikitnya menuangkan Tujuh poin alasan Penolakan diantaranya, Film Senyap yang dibuat oleh orang asing Joshua Oppenheimer, tidak sesuai dengan asas, tujuan dan fungsi perfilman yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perfilman.

Selain itu, film Senyap secara naratif mengisahkan tentang pembantaian orang-orang PKI di Sumatera Utara, otentisitas dan objektivitasnya dari aspek jurnalistik ini sangat diragukan, karena yang melakukan wawancara terhadap pelaku adalah anak kandung seorang PKI.

Dijelaskan, Sumatera Utara yang menjadi setting peristiwa yang digambarkan dalam film Senyap adalah daerah yang masyarakatnya sangat heterogen. Pada tahun 1946 pernah terlibat konflik, pertentangan antara kaum bangsawan dengan rakyat jelata pada masa revolusi 45, telah menimbulkan revolusi sosial, yang dulu dikenal sebagai Sumatera Timur.

Secara tersirat film Senyap dianggap mengarahkan penonton untuk bersimpati pada PKI dan ajaran komunisme yang dapat menimbulkan keterangan sosial-politik dan melemahkan ketahanan nasional.

Film ini dianggap bersumber dari histories recite (sejarah sebagaimana dikisahkan) bukan sebagai histories realite (sejarah sebagaimana terjadi). Bahkan, film ini juga memperlihatkan anakronisme dari kisah yang dibangun dan merupakan snapshot (fragmen) yang mengandung tujuan tertentu. (baca juga: Tidak Ada Pihak yang Dirugikan Pada Cerita Film Senyap)

Subtansi film ini dibangun berdasarkan pengalaman pribadi individu yang terlibat peristiwa pembunuhan tersebut. Karena itu, unsur kejahatan tereduksi ke dalam pengalaman individual yang sangat terbatas. Jika ditelisik dari segi pendidikan, film ini tidak dapat diterima, karena tampilan visual yang disuguhkan dapat menanamkan sikap dan perilaku kebencian yang berkelanjutan di kalangan generasi muda. Secara ekstrim menceritakan pembantaian orang-orang PKI dengan kata-kata sarkastik “pencungkilan mata”, leher ditebas, lidah disilet”.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dalam hal ini sangat menyayangkan dengan adanya pelarangan pemutaran Film Senyap tersebut. Kontras beranggapan (baca: KontraS Sayangkan Pelarangan Pemutaran Film Senyap)

(*/and/zik)

0 Comments

Leave a Comment

nineteen + 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password