Pengamat: Penumpasan Teroris Bukan Hanya Tugas Polisi

Covesia.com- Pentingnya penanganan terorisme secara komprehensif, tidak hanya tugas kepolisian semata.

Menurut Pengamat Intelejen Susaningtyas Nefo Handayani Kertapati, hal ini tak terjadi di Indonesia. Buktinya, setiap kali terjadi penumpasan teroris selalu diwarnai dengan aksi yang menyudutkan kepolisian karena tewasnya para teroris.

“Tewasnya target operasi merupakan isu yang selalu mencuat dalam penyergapan terhadap terduga atau tersangka teroris,” ujar wanita yang biasa disapa Nuning Kertapati kepada covesia,com di Jakarta, Selasa (6/1/2015).

Seolah, tambah Nuning, operasi penyergapan memang didesain untuk menewaskan, bukan menangkap, para tersangka. Padahal, institusi yang paling dirugikan dengan tewasnya tersangka adalah polisi, karena memutus mata rantai dan menutup pintu bagi polisi untuk menguak agenda maupun mengurai jaringan mereka.

“Ironis memang, polisi yang melindungi masyarakat justru menjadi bulan-bulanan di saat berhasil menangkap para pelaku teror tersebut,” kata Nuning.

Padahal kita tahu, tambah Nuning, doktrin ekstrim yang digenggam oleh para tersangka teroris. Kematian justru merupakan puncak ultima dari doktrin mereka. Tak heran jika mereka justru dengan gigih menyongsong kematian, dengan memberikan perlawanan dan tidak mau menyerah.

Tentu tidak adil jika teroris yang sengaja ‘bunuh diri’ demi meraih ‘surga’ yang mereka yakini, namun polisi yang harus menanggungnya.

Perdebatan semacam ini sebenarnya tidak perlu karena hanya menguras energi dan kontra produktif. Kita justru tergiring terlalu jauh, melenceng dari substansi persoalan sebenarnya.

Diskursus ini seakan justru menjadi bunker perlindungan bagi para teroris. Jangankan sampai ke akar-akarnya, baru sampai ranting saja orang telah ribut. “Inilah yang justru menyebabkan gelora terorisme tak kunjung padam,” tandas Nuning. (jon/cal)

0 Comments

Leave a Comment

7 + seventeen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password