Ekonom: Kurs Rupiah Bisa Melamah ke Rp13.000

Jakarta – Ekonom senior Raden Pardede menilai

jika pemerintah salah mengambil respon kebijakan dalam mengantisipasi

tantangan ekonomi global pada 2015, maka kurs rupiah dapat melemah

hingga Rp13 ribu, atau jauh meninggalkan perkiraan pemerintah di APBN

2015 sebesar Rp11.900/dolar.

Pemerintah dan Bank Indonesia

perlu menggunakan bauran kebijakan moneter, fiskal, dan juga struktural,

agar tantangan global, yakni normalisasi ekonomi Amerika Serikat dan

pemulihan negara-negara maju lainnya, tidak membuat rupiah tepuruk, kata

Raden dalam sebuah seminar di Jakarta, Senin (3/11/2014). “Kita

cenderung bergantung pada moneter. Harusnya ada stabilisasi dari

kebijakan moneter, dan ada campuran kebijakan,” ujar dia.

Saat ini, menurut dia, Indonesia berada dalam fase ekonomi menghadapi

tantangan hebat di depan, atau yang dia analogikan sebagai “angin

kencang”. Angin ini datang setelah di 2008, Indonesia

mendapat “angin sejuk” yang membuat roda perekonomian melaju. Pada 2008,

Indonesia mendapat berkah setelah AS menggelontorkan stimulus, dan juga

harga komoditas global yang melambung.

Sedangkan di 2015,

ujar Raden, “angin kencang” itu utamanya akan dihembuskan oleh paket

normalisasi kebijakan ekonomi AS yakni penghentian gelontoran stimulus,

dan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, The Fed. Ilustrasinya, jika Bank Sentral AS atau The Fed menaikkan suku bunga

dari 0,25 persen sesuai skenario awal hingga 1,375 persen, maka investor

yang menanamkan modalnya di Indonesia akan memindahkannya ke Negeri

Paman Sam.

Dengan begitu, ujar Raden, cadangan devisa

Indonesia akan terkuras, karena tertekan oleh permintaan dolar AS yang

masih dibutuhkan untuk impor. “Sehingga kurs rupiah akan terus melemah,” ujar dia. Selain AS, negara-negara maju lainnya, juga mulai menunjukkan pemulihan ekonomi, meskipun belum begitu stabil.

Raden menuturkan, bauran kebijakan diperlukan, agar dari sisi

moneter, rupiah dapat terus kuat, dan dalam sisi fiskal serta kebijakan,

negara memiliki Anggaran yang kebal, dari tekanan-tekanan. Salah satu caranya, sumber pembiayaan untuk defisit Anggaran dan program

pemerintah misalnya, harus diupayakan berasal dari dalam negeri, dengan

diversifikasi pasar keuangan. “Perlu ada protokol manajemen krisis memang,” ujarnya.

Dengan berbagai upaya pemerintah dan otoritas moneter, Raden masih

memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di 2015 berada pada

rentang Rp 12.200-Rp 12.700 per dolar AS. Lebih lanjut,

Raden menyayangkan terlenanya Indonesia ketika gejala positif dari

melambungnya harga komoditas pada 2008. Iklim positif itu, tidak

ditindaklanjuti dengan upaya penguatan industri manufaktur untuk

menguatkan barang bernilai tambah. “Kita tidak menggenjot

ekspor manufaktur, terlena sama ‘booming’ komoditas. Tapi penyesalan

memang selalu datang terlambat,” ucap Raden.

Wakil Ketua

Komite Ekonomi Nasional 2009-2014 ini memaparkan beberapa proyeksi

ekonomi makro di 2015, antara lain, pertumbuhan ekonomi berkisar 5,2

persen-5,5 persen, setelah subsidi BBM dikurangi. Sementara,

dampak kenaikan harga BBM membuat inflasi berada di level 6,5

persen-7,5 persen. Kenaikan harga BBM juga akan mendorong suku bunga

acuan Bank Indonesia di level 7,5 persen sampai 8,5 persen, serta

penurunan defisit transaksi berjalan menjadi 2,5 persen dari Produk

Domestik Bruto (PDB).(ant/cal)

0 Comments

Leave a Comment

4 × 4 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password