6 Orang Bersaksi dalam Sidang Korupsi Alkes Mentawai

Padang – Sidang lanjutan dugaan korupsi
pengadaan alat kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai tahun 2012, yang
sempat tertunda pada Senin (3/11), dilanjutkan dengan menghadirkan enam
saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU). Di hadapan
persidangan, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Padang Hakim
Jamaluddin di Padang, Kamis (6/11/2014), meminta agar para saksi yang merupakan
rekanan pengadaan memberikan kesaksian yang jujur.

“Kalian
rekanan dan panitia pengadaan kongkalingkong, maka terjadi kasus korupsi
ini. Coba saja kalian jujur dan bekerja seusai Tupoksi masing-masing,
pasti kasus ini tidak akan muncul,” kata Jamaluddin, menanggapi
keterangan yang disampaikan tiga saksi awal di hadapan persidangan.

Ketiga saksi itu adalah Direktur PT Graha Syifaa Mandiri Ikhwan
Algamdiar, Direktur CV. Zahamra Andre Erfrinaldo, dan Direktur CV Sinar
Kasih Indah Reynold Oktavinato. Ikhwan merupakan rekanan
pengadaan alat kedokteran umum puskesmas, Reynold selaku rekanan
mengadakan alat kesehatan dasar puskesmas, dan Andre selaku rekanan
untuk mengadakan alat kesehatan dasar puskesmas pembantu dan Poskesdes.

Dimana pengadaan alat kedokteran umum memiliki pagu anggaran
sebesar Rp789 juta, alat kesehatan dasar Puskesmas Rp647 Juta, dan alat
kesehatan dasar puskesmas pembantu dan Poskesdes Rp688 Juta. Dari pemeriksaan ketiga saksi terungkap, selaku pihak rekanan dalam
mengadakan tiga macam item alat-alat kesehatan mereka tidak mampu
mengadakan sesuai dengan kontrak.

Diakui saksi Andre, selaku
rekanan dirinya tidak mampu mengadakan alat kesehatan sesuai nilai
kontrak. Sedangkan saksi Reynold dan Ikhwan, mampu mengadakan alat
kesehatan sesuai kontrak, namun setelah masa kontrak habis. “Kalian itu semuanya sama saja, rekanan dan panitia sama-sama mencari
keuntungan atas proyek ini. Proyek dari uang masyarakat,” katanya.

Selain tiga rekanan itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan
Negeri Tuapejat juga menghadirkan tiga orang saksi lainnya yakni Meta
Soneta, Henny Febrianti, dan Fatmawati. Ketiga saksi ini merupakan tim
verifikasi. Ketiganya mengaku dalam pengadaan tersebut
memang bermasalah, karena tidak bekerjanya rekanan sesuai dengan dokumen
pengadaan proyek.

Sesuai dalam dakwaan JPU negara telah mengalami kerugian keuangan sebesar Rp737 Juta dalam kasus tersebut. Dalam sidang yang digelar tersebut, saksi Reynold merupakan saksi
mahkota. Hal itu dikarenakan Reynold, adalah terpidana dalam kasus yang
sama.

Reynold, telah dijatuhi vonis oleh majelis hakim
selama selama empat tahun penjara, denda Rp200 Juta, subsider tiga bulan
penjara, serta uang pengganti sebesar Rp 42,6 Juta, subsidair enam
bulan penjara. Sedangkan saksi Andre juga berstatus
tersangka dalam kasus pengadaan alat kesehatan Mentawai, namun berkas
kasusnya belum dilimpahkan ke pengadilan.

Sidang dugaan
korupsi pengadaan alat kesehatan Mentawai 2012 itu dibagi dalam dua
berkas. Dimana empat terdakwa yang merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dinas kesehatan daerah itu dalam satu berkas, sedangkan satu rekanan
dalam berkas lainnya.

Keempat terdakwa itu adalah Kepala
Dinas Kesehatan Warta Siritoitet, Kabid Sarana dan Prasarana Gidion
Sinambela, mantan Kasi Sarana Prasarana Germinus, dan staf Dinas
Kesehatan Firdaus. Sedangkan rekanan adalah Terdakwa Rizal Efendi.(ant/cal)

0 Comments

Leave a Comment

eight − four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password