Inflasi di Kota Padang dan Bukittinggi Alami Penurunan di November 2020 

Inflasi di Kota Padang dan Bukittinggi Alami Penurunan di November 2020  Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wahyu Purnama A, saat persentase pertemuan tahunan Bank Indonesia, Kamis (3/12/2020)(Foto: tangkapan layar)

Covesia.com - Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Wahyu Purnama menyebut inflasi di kota Padang dan Bukittinggi mengalami penurunan di November ini dibanding Oktober lalu. 

"Secara spasial, pada November 2020 Kota Padang mengalami inflasi sebesar 0,52% (mtm) menurun dibandingkan Oktober 2020 sebesar 0,59% (mtm). Sejalan dengan Kota Padang, Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 0,37%(mtm) menurun dibandingkan realisasi Oktober 2020 yang sebesar 0,75%(mtm)," ungkap Wahyu dalam keterangan tertulisnya yang diterima, Jumat (4/12/2020).

Realisasi inflasi Kota Padang menjadikannya sebagai kota dengan nilai inflasi tertinggi ke-4 dari 22 Kota/Kabupaten inflasi di Sumatera dan peringkat ke-18 dari 83 Kota/Kabupaten yang mengalami inflasi di Indonesia. 

Sementara itu untuk Kota Bukittinggi, tercatat menjadi kota dengan peringkat ke-10 inflasi tertinggi di Kawasan Sumatera serta peringkat ke-34 secara nasional.

Dijelaskan Wahyu secara tahunan pergerakan harga pada November 2020 menunjukkan inflasi sebesar 1,67% (yoy) atau meningkat dibandingkan realisasi Oktober 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,90% (yoy). 

Nilai inflasi tahunan Sumatera Barat ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi inflasi Kawasan Sumatera sebesar 1,49%(yoy) dan realisasi nasional sebesar 1,59%(yoy).

Secara tahun berjalan 2020 (s.d November 2020) realisasi inflasi Sumatera Barat sebesar 1,44% (ytd) atau meningkat dibandingkan Oktober 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,92% (ytd) namun masih lebih rendah dibandingkan dengan realisasi inflasi tahun berjalan pada November 2019 sebesar 1,61% (ytd).

Inflasi Provinsi Sumatera Barat pada November 2020 terutama berasal dari inflasi kelompok transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,24%(mtm).

Inflasi pada kelompok ini terutama disebabkan oleh peningkatan harga komoditas angkutan udara dengan andil sebesar 0,22%(mtm). Peningkatan tarif angkutan udara didorong oleh pola tahunan yang cenderung meningkat menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan Tahun Baru 2021 yang pada tahun ini diperpanjang sebagai pengganti cuti bersama lebaran serta didorong oleh penyelenggaraan event MTQ Nasional ke-28 di Sumatera Barat yang secara langsung meningkatkan permintaan masyarakat.

Kelompok lain yang turut menyumbang inflasi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil inflasi sebesar 0,23%(mtm). Adapun komoditas yang menyumbang inflasi pada kelompok ini yaitu daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, dan ayam hidup dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,13%; 0,12%; 0,08%; 0,03%%mtm. 

Komoditas daging ayam ras dan ayam hidup mengalami kenaikan harga yang disebabkan oleh peningkatan permintaan masyarakat dan terbatasnya pasokan. 

Hal ini dorong pula oleh kenaikan harga jagung sebagai bahan utama pakan ayam sehingga mendorong kenaikan harga lebih lanjut. Curah hujan yang tinggi sebagai dampak dari fenomena La Nina juga turut mendorong kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah dan bawang merah. Curah hujan yang tinggi mempengaruhi produksi dan distribusi cabai merah dan bawang merah, sehingga terjadi keterbatasan pasokan di masyarakat. Sebagian hasil panen bawang merah yang disimpan sebagai benih juga menjadi penyebab keterbatasan pasokan di berbagai wilayah.

Upaya pengendalian inflasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat antara lain  Melakukan monitoring bahan pangan strategis secara berkala melalui pemantauan harga di tingkat pedagang besar maupun eceran.

Kedua, pemantauan pasokan secara berkala di tingkat pedagang maupun distributor untuk memastikan ketersediaan pasokan mencukupi kebutuhan.

Ketiga, pelaksanaan operasi pasar murah menjelang HBKN dan Tahun Baru 2021 di 6 (enam) lokasi di Kota Padang. Ke empat, Koordinasi dan komunikasi antar anggota TPID dalam merumuskan strategi pengendalian inflasi sesuai dengan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, Komunikasi Efektif). 

Kelima, Keikutsertaan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) TPID 2020 pada tanggal 20 Oktober 2020. Berdasarkan hasil TPID Award 2020, 

Kedepan, diharapkan sinergi dan koordinasi TPID Provinsi, TPID Kabupaten/Kota di Sumatera Barat dengan Pemerintah Pusat dapat terus ditingkatkan dalam rangka pengendalian inflasi daerah terutama di tengah pandemi Covid-19.

(ila/don)

Berita Terkait

Baca Juga