BNPB: La Nina Terdeteksi, Waspadai Banjir Dan Longsor

BNPB La Nina Terdeteksi Waspadai Banjir Dan Longsor Ilustrasi, Rumah warga di Solok Selatan terendam banjir akibar curah hujan yang tinggi, 8 Februari 2016 lalu. (Covesia Foto/Andri Mardiansyah/16)

Covesia.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana merilis, berdasarkan catatan akhir Agustus 2016 lalu, BMKG mendeteksi munculnya fenomena La Nina. Walau masih lemah namun diprediksi bakal bertahan hingga awal tahun 2017 mendatang.

Rilis BNPB, bersamaan dengan La Nina, terjadi fenomena Dipole Mode negatif sejak Mei 2016 lalu, yang diprediksi bertahan hingga November 2016, dan kondisi anomali suhu muka laut yang hangat disekitar perairan Indonesia.

"Kondisi demikian akan menyebabkan tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat. BMKG juga memperkirakan musim kemarau basah akan berlangsung sampai dengan September di sebagian besar wilayah Indonesia,"sebut, Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Jumat (2/9).

Dijelaskan Sutopo, Pulau Jawa, Sulawesi bagian timur, Papua bagian tengah dan Kalimantan serta Sumatera bagian selatan diprediksi akan mengalami kenaikan curah hujan hingga 200 persen.

Kombinasi antara La Nina, Dipole Mode, dan anomali suhu muka air laut yang hangat telah memberikan dampak signifikan meningkatnya bencana di Indonesia saat ini.

Catatan yang ada lanjutnya, pada periode ini dari Januari hingga September 2016, terdapat 1.495 kejadian bencana di Indonesia yang menyebabkan 257 orang meninggal dunia, 2,86 juta orang menderita dan mengungsi, dan ribuan rumah rusak. Lebih dari 95 persen dari bencana tersebut adalah bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh cuaca.

Longsor adalah jenis bencana yang paling mematikan saat ini. Hingga saat ini sudah terdapat 323 kejadian longsor yang menyebabkan 126 orang meninggal dan 18.655 jiwa menderita dan mengungsi.

Sedangkan untuk banjir terdapat 535 kejadian dengan dampak 70 orang meninggal dan 1,94 juta jiwa menderita dan mengungsi akibat banjir.

Hal ini juga terjadi pada periode La Nina sebelumnya seperti tahun 2010 dan 2011, Indonesia mengalami curah hujan di atas normal, terutama di Pulau Jawa, Maluku, Sulawesi, Sumatera bagian selatan,Kalimantan dan Papua yang menyebabkan hujan lebat dan lebih tinggi daripada curah hujan normal sehingga meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor.

Selama periode La Nina dengan intensitas sedang tersebut bencana banjir dan longsor akan meningkat. Dibandingkan dengan kejadian bencana pada tahun 2015, jumlah korban meninggal dan hilang pada tahun 2016 mengalami peningkatan 54 persen dari 167 (2015) menjadi 257 (2016).

Secara keseluruhan jumlah kerusakan 2016 mengalami peningkatan dibandingkan 2015. Diprediksi dampak bencana 2016 akan terus meningkat hingga akhir tahun nanti.

Sebaliknya meningkatnya curah hujan memberikan dampak positif yaitu menurunnya jumlah kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan. Daerah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian Selatan dan sebagian Kalimantan yang biasanya kekeringan. Saat ini intensitas kekeringan sangat kecil.

Untuk itu, BNPB menghimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaannya dari ancaman banjir dan longsor terkait adanya peningkatan curah hujan.

(aan)

Berita Terkait

Baca Juga