Kisah Juru Masak Veteran 45 dan Harapannya di Hari Pahlawan

Kisah Juru Masak Veteran 45 dan Harapannya di Hari Pahlawan Rosni dan cucunya ketika ditemui dikediamannya (Covesia/ Arif Putra)

Covesia.com - Perempuan bernama Rosni kelahiran Koto Panjang Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat berkisah singkat tentang perjuangan di masa agresi pasukan Jepang, di tahun 1942. Di masa agresi Jepang, di Pesisir Selatan, banyak rakyat yang ditangkap lalu diculik untuk kerja paksa yang lebih dikenal dengan sebutan romusha.

Wanita kelahiran 1927 itu, dulunya adalah salah seorang juru masak bagi para pejuang 45. Rosni ketika itu baru berusia 15 tahun. 

Wanita seumurannya tentu tidak dapat ikut berperang. Selain karena dia seorang wanita, usianya yang relatif muda, tidak memungkinkan baginya turut terlibat di medan tempur.

Namun, kerena semangat ingin berjuang bersama pasukan kemerdekaan kala itu, dia diembankan tugas yang juga mulia. Menjadi bagian dari juru masak untuk para pejuang.

Dia bertugas menyiapkan makanan bagi para pejuang. 

Sebagai seorang putri daerah, dia adalah salah seorang di antara sedikit gadis-gadis yang ingin ikut dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Ketika ditemui Covesia.com di kediamannya di Koto Panjang, kondisinya sudah sangat lemah. Di usianya yang sudah menginjak 90 tahun itu, dia hanya bisa berbaring.

Namun, ketika berkisah tentang hari-hari di masa perjuangan pra kemerdekaan, Rosni terlihat bersemangat. Dia bercerita, seingatnya, tentang situasi para pejuang kala merebut kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Meski dalam keadaan terbata-bata, dalam guratan senyum, Rosni menceritakan saat di mana dia dan para penjuang harus keluar masuk hutan, untuk bersembunyi dari kepungan pada penjajah.

"Saya terbilang muda waktu itu untuk berjuang. Makanya saya memilih menjadi tukang masak di dapur untuk para pejuang," katanya.

"Kami melewati masa-masa yang mencekam, harus keluar masuk rimba dan membuatkan tempat persembunyian untuk warga. Penjajah seperti tidak kenal lelah membombardir kami," kisahnya.  

Di hari ini, tepat di Hari Pahlawan, Rosni mengatakan, para pejuang sduah sepatutnya dihargai, walau semuanya tidak tertuliskan di sejarah kemerdekaan Indonesia.

"Mereka pantas untuk diingat dan diberi kesejahteraan masa tuanya," sebutnya.

Menurutnya, generasi saat ini tinggal melanjutkan apa yang sudah dibuat para pendahulu, bukan menghancurkan dan merusak apa yang dahulu susah payah diperjuangkan.

Meskipun tidak mampu secara utuh dan detil mencerikan setiap peristiwa demi peristiwa dalam merebut kemerdekaan, namun daya penglihatannya masih cukup bagus.

Dia masih bisa mengenal orang-orang terdekatnya.

Menurut Gadih (40) salah seorang anak Rosni, kondisi Rosni sudah lemah sejak beberapa tahun terakhir.

Namun, Gadih bersyukur karena orang tuanya termasuk dalam daftar nama veteran perang di daerah itu. Rosni mendapatkan uang pensiunan sebagai veteran.

"Setidaknya uang tersebut bisa kami gunakan untuk kebutuhan beliau. Masa-masa muda beliau dihargai, dan di masa tua beliau tidak terpinggirkan," sebut gadih.

Reporter Pesisir Selatan: Arif Putra/ rdk

Berita Terkait

Baca Juga