Kasus Siswi SD Diperkosa 9 Temannya, Ini Komentar Ketua Komnas PA

Kasus Siswi SD Diperkosa 9 Temannya Ini Komentar Ketua Komnas PA Ilustrasi- (pixabay)

Covesia.com- Kasus siswi kelas 5 SD di Tolitoli, Sulawesi Tengah yang diperkosa oleh sembilan bocah laki-laki terdengar sangat miris. Sembilan pelaku pun terbilang masih dibawah umur.

Pemerkosaan yang dilakukan oleh sembilan bocah berusia 10- 15 tahun ini dilakukan secara bersama diberbagai tempat  dan waktu yang berbeda sejak Februari 2018.

Menanggapi kasus ini, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menyatakan bahwa anak usia dibawah 12 tahun sebagai pelaku tindak pidana kekerasan seksual dan kekerasan fisik di Indonesia terus saja meningkat.

Menurutnya, pelaku kekerasan seksual bukan hanya dilakukan oleh anak secara sendiri-sendiri tetapi juga dilakukan secara bergerombol. "Berbagai kasus kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini telah menjadi fenomena yang sangat menakutkan dan sudah diluar akal sehat kemanusiaan kita," kata Arist dalam keterangan tertulisnya kepada Covesia.com, Kamis (9/8/2018).

Lebih jauh Arist menjelaskan bahwa para pelaku tindak pidana yang dilakukan anak anak umumnya dilakukan oleh mereka yang berasal dari keluarga menengah bawah.

Jika dibandingkan dengan laporan 2017, menurut Arist, dari pusat data dan informasi Komnas Anak, pelaku tindak pidana kekerasan seksual Januari- Juni 2018, dari 896 kasus pelanggaran terhadap anak ditahun 2018 ditemukan 16% pelaku tindak pidana kekerasan seksual dan kekerasan fisik itu justru dilakukan oleh anak-anak yang berusia masih dibawah 12 tahun.

Angka ini terus meningkat jika dibanding tahun 2017, dimana dari 2.726 kasus pelanggaran hak anak ditahun 2017 ditemukan 14% pelaku kejahatan kekerasan atau tindak pidana kekerasan seksual dan fisik itu dilakukan oleh anak-anak berusia dibawah 14 tahun.

Menurut Arist, pada umumnya mereka melakukan tindakan kekerasan fisik maupun kekerasan seksual terinspirasi dari tayangan-tayangan media sosial yang mereka konsumsi utamanya merajalelanya dan sangat mudahnya diakses tayangan -tayangan pornografi dan pornoaksi.

"Tidak jarang pula mereka secara bergerombol bersama dengan orang dewasa melakukan tindak pidana kejahatan seksual setelah mengkonsumsi, menonton serta menyaksikan tayangan-tayangan pornografi yang sangat mudah diakses melalui media sosial", jelasnya.

Arist meminta agar penanganan tindak pidana kekerasan seksual yang dilakukan anak dibawah 12 tahun terhadap A (11) siswi kelas 5 SD di Kabupaten Tolitoli ditangani dengan UU RI Nomor : 11 Tahun 2012 tentang Sistim Peradilan Tindak Pidana Anak (SPPA). Ini dilakukan melalui  pendekatan keadilan restorasi (restorative justice) dan dengan mengedepankan penyelesaian tindak pidana  menggunakan pendekatan diversi (diluar pengadilan).

 (jon)

Berita Terkait

Baca Juga