Beredar Ikan Kering Mengandung Pestisida, Produsen di Mentawai: Kami Olah Ikan dengan Cara Sederhana

Beredar Ikan Kering Mengandung Pestisida Produsen di Mentawai Kami Olah Ikan dengan Cara Sederhana Tumpukan ikan kering di lapak pedagang di Pasar Raya Padang. Foto: Covesia/ Primadoni

Covesia.com - Dinas Pangan Sumatera Barat sedang menangani peredaran dan produksi ikan kering yang dilakukan oleh para produsen di Kabupaten Pasaman Barat, yang ditemukan mengandung pestisida. Temuan itu diperoleh setelah uji laboratorium terhadap sejumlah sampel ikan kering dari seluruh daerah di Sumbar, termasuk sampel dari beberapa produsen dan agen di Pasaman Barat.  

“Ada temuan terbaru kami soal ikan kering asal Pasaman Barat. Para produsen melakukan pengawetan tidak lagi dengan formalin. Tetapi menggunakan pestisida. Ini sangat berbahaya bagi kesehatan yang mengkonsumsinya,” kata Kepala Dinas Pangan Sumbar Efendi di depan Dewan Ketahanan Pangan Kota Payakumbuh di Hotel Bundo Kanduang, Padang Tiakar, Rabu (5/12/2018).

Menyikapi ini, pengolahan ikan asin di Mentawai menjelaskan sejumlah keterangan terkait bagaimana cara mereka berproduksi. 

"Cukup sederhana hanya dengan ditaburi garam," ujar Azni salah seorang pengusaha ikan asin di Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara, kepada Covesia.com Kamis (6/12/2018).

Dia telah bergelut dalam pengolahan ikan asin selama 20 tahun. Ia mengatakan, proses pembuatannya tidak menggunakan tawas.

“Ikan yang kita beli sisiknya dibersihkan kemudian dibelah, lalu direndam dalam wajan sampai darah ikan habis selama kurang lebih 10 menit. Baru kemudian disusun dalam baskom dan ditaburi garam setiap barisnya. Dibiarkan semalaman, besok pagi dituang,” urainya. 

Dia meyebutkan, garam yang digunakan garam kasar. Kemudian, ikan asin ditukar airnya berulang kali. Lalu, perut ikan dibersihkan menggunakan brus. 

Pengeringan ikan asin dilakukan saat terik matahari memakan waktu selama 1,5 hari. Jika cuaca mendung, ikan asin ditutupi agar tidak berulat.

"Penggaraman ikan 20 kg membutuhkan garam kasar sebanyak 5 kg," sebutnya.

Sementara itu jenis ikan yang diolah semua jenis ikan karang kecuali ikan todak. Sementara ikan asin yang paling digemari masyarakat yakni ikan asin dari jenis ikan gabus dan kerapu.

Harga penjualan 1 kg ikan asin jenis gabur, gole-gole, dan kerapu seharga Rp110 ribu per kg. Sementara harga ikan asin biasa berkisar Rp80 ribu per kg. Untuk pemasaran, ia lakukan di rumah.

Azni mengatakan bahwa keuntungan per kilogram ikan asin yang terjual bisa mencapai rata-rata Rp15 ribu per kg. 

Ia berharap jika ada bantuan dari pemerintah, dapat membuat gudang penyimpanan ikan asin dan alat pengeringan ikan. 

“Selama ini, ikan asin hanya disimpan di dalam rumah,” katanya.

Kontributor Mentawai: Kornelia Septin Rahayu

Berita Terkait

Baca Juga