Skandal Pegawai BRI Tilap Dana Nasabah, LIPI: Kejahatan Kerah Putih Luar Biasa dan Masif

Skandal Pegawai BRI Tilap Dana Nasabah LIPI Kejahatan Kerah Putih Luar Biasa dan Masif Ilustrasi- Tersangka penggelapan dana.

Covesia.com- Bank BRI kini diterpa masalah besar, yakni dua pegawainya diduga melakukan penggelapan dana nasabah milyaran rupiah.

Salah seorang oknum Karyawan Bank BRI Payakumbuh, Sumatera Barat, AG (32) ditahan karena diduga menggelapkan dana nasabah miliaran rupiah untuk bermain judi online.

Sebelumnya, diakhir Januari lalu Polisi juga telah membekuk oknum Pegawai Teller Bank BRI Toddopuli, Makassar, Rika Merdekawati (28) yang menilap milyaran uang nasabah.

Rika melakukan pencurian uang para nasabah dengan cara menggunakan dua slip penyetoran. Pelaku mencuri dengan cara menggunakan dua slip. Satu slip dipakai antara pelaku dan nasabah, satu slip disetor ke pihak Bank.

Rika meraup keuntungan dari kejahatan menilap uang senilai 2,3 Milyar, dari 47 nasabah dan dari 50 buku rekening.

Baca: Tilap Uang Hingga Miliaran, Begini Modus Oknum Karyawan BRI Cabang Payakumbuh Beraksi

Terkait kasus ini, Peneliti Ekonomi dan Perbankan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Eko Nugroho mengatakan, kejahatan kerah putih khususnya berkaitan dengan bisnis keuangan efeknya luar biasa dan dalam waktu singkat akan masif. 

Kejahatan Kerah Putih (White Collar Crime) merupakan suatu tindak kecurangan yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja pada sektor pemerintahan maupun sektor swasta, yang memiliki posisi dan wewenang untuk dapat mempengaruhi suatu kebijakan dan keputusan.

"Kejahatan kerah putih ini khususnya berkaitan dengan bisnis keuangan adalah luar biasa efeknya, dan eskalasinya dalam waktu singkat akan masif," kata dia saat dihubungi Covesia.com, Sabtu (18/5/2019).

Menurut dia, problem di bisnis finansial itu berkaitan dengan risiko moral (moral hazard), baik pada tataran pelaku penyedia layanan keuangan atau pun pengguna. 

Pengawasan internal selamanya tidak akan sempurna dan selalu akan ada celah, karena problema asimetris tadi. 

Kendati demikian, tegas dia, bidang pengawasan dunia perbankan tetap perlu ditingkatkan. "Karena itu preventif sebenarnya harus menjadi tekanan pengawasan dan kontrol yang akan dlakukan perbankan," ujar dia.

Baca juga: Dana Nasabah BRI Ditilep untuk Judi Online, Peneliti LIPI: Moralitas Pegawai Perlu Diperbaiki

Sedangkan untuk mengantisipasi efek jera, selain kejahatan ini dapat digolongkan kejahatan korupsi, pelaku atau tersangka juga harus dituntut untuk melakukan pengembalian penuh kerugian dana nasabah.

Ia juga berharap agar Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bisa lebih mengawasi aliran dana ke pegawai perbankan.

"Sebenarnya  ini jg bisa menjadi ranah pengawasan PPATK untuk semua pegawai bisnis keuangan," tutur dia.

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga