Kenapa Orang Bisa Kecanduan Judi Online? Psikolog: Adiksi Digital, Perlu Pencegahan Sejak Dini

Kenapa Orang Bisa Kecanduan Judi Online Psikolog Adiksi Digital Perlu Pencegahan Sejak Dini Psikolog A. Kassandra Putranto

Covesia.com - Lebih dari Rp1 miliar rupiah uang digelapkan oleh salah seorang oknum Karyawan Bank BRI Payakumbuh, Sumatera Barat, AG (32). Mayoritas uang hasil penggelapan itu disebut aparat penegak hukum dihabiskan oleh pelaku dalam permainan judi online.

Menyikapi hal tersebut, apa sebenarnya yang membuat seseorang menjadi kalap sehingga lose kontrol saat bermain judi online?

Psikolog A. Kassandra Putranto menyampaikan bahwa fenomena ini lebih disebabkan perilaku menyimpang dari oknum itu sendiri.  Hal itu dikarenakan oleh ketergantungan dari yang bersangkutan atas judi online.

"Adiksi game, adiksi porn dan adiksi gadget kerap disebut adiksi digital, kerap dihubungkan dengan perubahan fungsi otak akibat proses belajar dan kebiasaan yang buruk" tutur Kassandra kepada covesia.com, Minggu (19/05/2019).

Lebih jauh Kassandra menjelaskan, perilaku negatif yang telah mencandu itu juga diperparah oleh gangguan dari diri pelaku dalam memproses informasi, terutama pada bagian sistem perhargaan dalam otak yang gagal  menciptakan rasa senang secara alami.

"Mereka memiliki gangguan  memproses informasi, terutama pada bagian sistem penghargaan dalam otak yang gagal menciptakan rasa senang secara alami, kecuali dengan kegiatan adiksi digital mereka" jelasnya.

Ia menambahkan, sebagai akibat, si pelaku akan merasakan suatu ketergantungan. Yang mana si pelaku seakan tak lagi memiliki cara untuk menghibur diri, dalam arti kata mencari sesuatu hal yang menyenangkan selain dengan kebiasaan buruknya itu.

"Sebagai akibatnya, tidak ada kegiatan Yang menyenangkan bagi mereka selain kegiatan adiksi digital nya" terang Kassandra.

Terkait hal tersebut Kassandra menilai perlu dilakukan pencegahan sejak dini, terutama kepada anak-anak sehingga generasi yang akan datang bisa terbebas dari pengaruh negatif yang bisa merusak masa depan generasi itu sendiri.

"Solusinya lebih baik pencegahan daripada pengobatan. Mencegah sejak Dini agar anak mengembangkan gaya hidup dan otak Yang sehat," ia menambahkan.

Sebelumnya, uang hasil korupsi dan penggelapan yang dilakukan oleh salah seorang oknum Karyawan Bank BRI Payakumbuh, AG (32) diduga telah habis digunakan. Mayoritas, uang tersebut dihabiskan dalam permainan judi online.

Kepala Kejaksaan Negeri Payakumbuh, Nur Tamam SH melalui Kasi Intelijen, Nazif Firdaus dan Kasi Pidana Khusus, Satria Lerino mengatakan, saat penyidikan, AG mengaku uang hasil penggelapan dan korupsi dana Bank BRI digunakan untuk keperluan pribadi dan judi online. Namun, mayoritas uang tersebut digunakan di meja judi.

“Uang yang digelapkan dan dikorupsi lebih dari satu miliar rupiah. Mayoritas habis untuk judi online,” ujar Nazif Firdaus kepada wartawan, Kamis (16/5/2019).

Ia juga mengatakan judi online ini menggunakan jasa transaksi perbankan. Baik untuk membayar deposit sebagai modal judi maupun penukaran uang hasil judi yang nantinya akan masuk ke rekening AG.

“Judi onlinenya, memakai jasa transaksi perbankan dan langsung berinteraksi dengan rekening AG tersebut,” katanya lagi.

(adi/adi)


Berita Terkait

Baca Juga