Harga Gambir dan Sawit di Pessel Anjlok

Harga Gambir dan Sawit di Pessel Anjlok Ilustrasi

Covesia.com - Harga Komoditi Tandan Buah Segar (TBS) Sawit dan getah gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) terus anjlok semenjak awal bulan ramadhan lalu hingga saat ini.

Saat ini harga komoditi tandan buah segar (TBS) Sawit di daerah itu hanya berharga Rp500 hingga Rp400 per-kilogram. Sedangkan harga komoditi getah gambir hanya Rp.18.000 per kilogram.

Salah seorang petani kelapa sawit di Kampung Rawang, Kecamatan Sutera Annas (45) mengatakan, anjloknya harga kelapa sawit di daerahnya terjadi semenjak awal bulan ramadhan 2019 lalu.  

"Sebelumnya, harga kelapa sawit Rp800 perkilo sekarang hanya Rp400 perkilo, anjloknya harga tersebut dua kalilipat dari sebelumnya,"ungkapnya

Padahal menurutnya, ia sangat berharap dalam bulan ramadhan dan menjelang memasuki hari raya idul fitri harga kelapa sawit di daerahnya naik.

"Harganya terusan anjlok, padahal kami sangat berharap harga hasil tani kami naik menjelang datangnya hari raya idul fitri. Tapi malah terus turun,"ujarnya 

Sementara itu, seorang petani gambir di Kecamatan Sutera, Ipal (48) mengatakan, harga getah gambir siap olah di daerahnya, hanya Rp.18.000 per-kilogramnya. Dan harga tersebut bertahan semenjak awal tahun 2019.

"Harga getah gambir kami tidak pernag naik harganya. Padahal kami sangat mengharapkan harga getah gambir bisa sedikit naik dari harga sebelumnya, eh..tapi malah beransur-ansur turun daru sebelumnya Rp 20.000 perkilogranya,"sebutnya 

Menurutnya, semenjak harga gambir terusan anjlok, dirinya bersama petani lain banyak, mengalih profesi menjadi nelayan. Sebab, ia mengaku dengan harga sedemikian tidak mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

"Mungkin sekrang lahan getah gambir kami sudah dipenuhi dengan semak-semak. Soalnya, sudah tidak dapat diurus. Karna untuk membersihkan dan memupuknya kami tidak memiliki biaya. Ditambah saat ini kami terpaksa harus melaut untuk mencari tambahan uang demi kebutuhan sehari kami,"ujarnya

Lanjutnya, anjloknya harga hasil tani miliknya, sangat berbanding terbalik dengan kebutuhan pokok saat ini. Pasalnya, beberapa bahan pokok di daerahnya serba mahal dan naik.

"Ya, kami sebagai kepala keluarga merasa tidak diuntungkan, soalnya, apa apa sekarang yang akan di beli mahal sedangkan hasil pendapatan kami dari bertani tidak seberapa,"pungkasnya

Terkait anjloknya, dua hasil komuditi tersebut, juga dapat dirasahkan oleh salah seorang pedagang siap saji yang berada di pasar tradisional Surantih Kecamatan Sutera Rani (30) 

Menurutnya, semenjak harga kelapa sawit dan getah gambir di daerahnya anjlok, penghasilannya berdagang tidak seperti biasanya. Sebab, orang yang mau berbelanja kepasar hana membeli kebutuhan pokoknya saja.

"Sebelum harga sawit dan getah gambir murah,  satu hari saya berjualan bisa berpenghasilan Rp500 ribu. Sedangkan saat ini saya hanya bisa dapat Rp250 ribu. Dan dagangan saya juga kerab tidak habis,"katanya

Jadi, untuk itu ia berharap dua harga komoditi itu kembali normal harnya. Sebab, jika harga dua komuditi itu harganya normal, masyarakat pasti sering kepasar dan membeli dagangannya.

"Biasanya masyarakat kita ramai kepasar dan berbelanja jaualan saya, sekarang sudah sepih. Habisnya, ekonomi masyarakat rata-rata disini kebanyakkan petani. Selain sebagai nelayan, tapi kayaknya lebih banyak petani dari pada nelayan,"tutupnya

Kontributor Pessel: Indra Yen

Berita Terkait

Baca Juga