Neil Bantleman Diberi Grasi, Ibu Korban Kasus JIS: Berarti Dia Akui Perbuatan

Neil Bantleman Diberi Grasi Ibu Korban Kasus JIS Berarti Dia Akui Perbuatan Dok. Guru Jakarta International School (JIS) Neil Bentleman memberikan keterangan kepada wartawan usai pembacaan vonis kasus kejahatan seksual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (2/4/15). Foto: Antara

Covesia.com - Terpidana kasus pencabulan siswa JIS, Neil Bantleman, bebas setelah mendapatkan grasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ibunda salah satu korban, Theresia, yakin itu berarti Neil mengakui perbuatannya. 

Theresia baru mengetahui soal bebasnya Neil Bantleman ini dari pemberitaan media. Dia masih menunggu penjelasan dari pemerintah soal alasan pemberian grasi ini. 

"Kalau memang dia dikasih grasi, berarti untuk dapat grasi kan perlu pengakuan. Berarti dia mengakui perbuatannya. Syarat untuk grasi kan mengakui perbuatannya dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Ya sudah kalau dia mengakui, saya nggak minta apa-apa kok," kata Theresia seperti dilansir detikcom, Jumat (12/7/2019). 

"Sebagai orang tua korban, kalau dia mengakui ya kita bersyukur. Berarti kita nggak salah," tambahnya. 

Tapi, Theresia mempertanyakan pernyataan Neil Bantleman di media Kanada, CBC. Dalam pernyataan itu, Neil tetap membantah melakukan sodomi kepada siswa di JIS.

"Kalau kita baca, dia tidak mengakui. Lho bagaimana? Orang dia sudah mendapat grasi kan berarti dia sudah mengakui," ujar Theresia. 

Theresia yakin Presiden Jokowi tak mungkin memberikan grasi tanpa pengakuan bersalah dari Neil Bantleman. Dia meminta Neil Bantleman tidak membuat pernyataan berbeda di publik. 

"Jangan sudah mendapat grasi lalu di luaran bilang tidak mengakui, tidak bersalah," katanya. 

Bersama kuasa hukumnya, Theresia berniat meminta penjelasan pemerintah soal grasi Neil Bantleman ini pekan depan. Dia menyebut orang tua korban lainnya saat ini sudah tidak berada di Indonesia. 

Pada April 2015, PN Jaksel menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Neil. Vonis itu dianulir oleh Pengadilan Tinggi Jakarta pada Agustus 2015. Baru menghirup udara bebas beberapa bulan, Neil kembali harus menghuni penjara. Sebab, pada Februari 2016, MA memutuskan Neil bersalah dan menghukum Neil untuk menghuni penjara 11 tahun lamanya.

Neil Bantleman sendiri pernah mengajukan peninjauan kembali (PK) pada 2017 namun ditolak oleh Mahkamah Agung. Pada tahun 2018, Neil lalu mengajukan grasi ke Presiden Joko Widodo. Grasi Neil Baintleman lalu dikabulkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 19 Juni 2019. Neil lalu bebas 2 hari setelahnya dan pulang ke Kanada.

Di Kanada, Neil Bantleman membuat pernyataan tertulis yang dimuat di media setempat. Neil menyatakan dia tidak bersalah. 

"Lima tahun lalu, saya dituduh secara tidak benar dan dihukum atas kejahatan yang tidak saya lakukan dan tidak pernah terjadi," kata Neil Bantleman dalam keterangannya seperti dilansir media Kanada, CBC. 

Bila merujuk pernyataan Menkum HAM, Yasonna Laoly, grasi dapat diberikan bila terpidana mengaku salah. Hal itu pernah disampaikan Yasonna terkait terpidana kasus terorisme Ustaz Abu Bakar Ba'asyir.

"Kalau mau grasi, harus dimohonkan yang bersangkutan, berarti mengaku salah," kata Yasonna saat ditanya wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/3/2018).

Menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 22 Tahun 2002 tentang Grasi, grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden.

Kendati pemberian grasi dapat mengubah, meringankan, mengurangi, atau menghapuskan kewajiban menjalani pidana yang dijatuhkan pengadilan, tidak berarti menghilangkan kesalahan dan juga bukan merupakan rehabilitasi terhadap terpidana.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga