Indonesia Diperkirakan Bisa Jadi Produsen Utama Baterai Lithium untuk Kendaraan Listrik

Indonesia Diperkirakan Bisa Jadi Produsen Utama Baterai Lithium untuk Kendaraan Listrik Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Penasihat Khusus Bidang Kebijakan Inovasi dan Daya Saing Industri Kemenko Bidang Maritim, Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai bahwa Indonesia bisa menjadi pemain atau produsen utama baterai lithium untuk kendaraan listrik di dunia.

"Nyawa kendaraan listrik adalah teknologi baterai. Dan Indonesia bisa menjadi pemain utama baterai lithium karena kita memiliki bahan baku utamanya," ujar Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam seminar Indonesianisme Summit bertema "Kendaraan Indonesia Masa Depan" di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Ia mengemukakan lithium adalah unsur logam yang selalu ada dalam baterai. Beberapa lokasi potensial di Indonesia yang terdapat material lithium di daerah Sumatera. Namun, itu memang masih perlu dilakukan survei lebih rinci.

Ia menambahkan logam lain yang sangat penting adalah nikel dan kobalt, sementara mangan dapat menggantikan nikel.

Indonesia, lanjut dia, saat ini hanya memasok bahan baku nikel dan kobalt untuk industri negara Iain dalam bentuk bijih dan "nickel matte".

"Pemerintah diharapkan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mengembangkan baterei menggunakan nikel dan kobalt yang tersedia. sebesar 48-60 persen komponen baterei kendaraan listrik merupakan logam nikel," katanya.

Dengan demikian, ia menambahkan nikel Indonesia menjadi komoditi yang sangat strategis untuk dikembangkan.

Dalam kesempatan itu, Satryo Soemantri Brodjonegoro juga mengatakan, dengan Indonesia mengembangkan teknologi baterai kendaraan listrik maka harga jual bisa lebih ditekan mengingat komponen baterai menyumbang sebesar 25-40 persen dari biaya total kendaraan listrik.

"Pola pikir kita harus berubah, sumber daya banyak di Indonesia. Banyak, tetapi harus diolah dulu," katanya.

Kendati demikian, Satryo mengatakan pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik di Indonesia terbuka ruang terjadi kegagalan, diharapkan tidak akan berujung pada pemidanaan.

"Jangan nanti penelitinya kalau gagal dipidana, gagal pasti, tidak mungkin langsung mulus karena kita bikin sesuatu yang baru di mana kemungkinan gagal pasti ada," ucapnya.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga