PKM Dosen UNP, Pembinaan Penggerak PKK Tanjung Baru sebagai ''Income Generating Agent'' Keluarga

PKM Dosen UNP Pembinaan Penggerak PKK Tanjung Baru sebagai Income Generating Agent Keluarga Foto: Dok.Covesia/ Doni Syofiadi

Covesia.com – Indonesia, sampai saat ini masih menjadi salah satu dari tiga negara terbesar penghasil kakao di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana. Komoditi unggulan ini menjadi salah satu sektor hasil perkebunan, dengan potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya pertanian yang berlimpah dan permintaan domestik yang menjanjikan. 

Menurut data badan pusat statistik, sepanjang 2018 nilai ekspor lemak dan minyak kakao indonesia mencapai 824,05 juta dolar amerika. Indonesia telah menjadi penyuplai bahan baku kakao terbesar ketiga di dunia. Di masa depan, Indonesia diharapkan bisa menjadi negara unggulan eksportir barang jadi, bukan lagi semata eksportir bahan baku kakao.

Sementara itu, upaya peningkatan nilai produk juga perlu dilakukan terutama pada sektor hulu di tingkat petani. Petani tidak saja hanya menjual biji kakao tapi lebih dari itu, petani dan kelompok penggerak ekonomi kerakyatan di daerah sentra kakao, bisa menghasilkan produk olahan dengan nilai jual lebih tinggi. 

Peningkatan ekonomi di tingkat petani, saat ini tidak semata bergantung kepada peran pemerintah. Kelompok pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK), bisa menjadi motor utama penggerak ekonomi khususnya pada daerah sentra kakao. 

Salah satu daerah penghasil kakao di Sumatera Barat, berada di Kecamatan Tanjung Baru Kabupaten Tanah Datar.  Rata-rata setiap kepala keluarga di Kecamatan Tanjung Baru memiliki kebun kakao dengan luas beragam. 

Kakao yang dihasilkan dari daerah ini, sebagian besar masih dijual ke pengepul dalam bentuk biji. Sementara,  hanya sedikit sisanya yang diolah, itu pun masih belum dimaksimalkan menjadi produk siap konsumsi. 

Perwakilan petani kakao Tanjung Baru, Erinaldi mengatakan sebagian besar dari petani kakao di daerah itu masih menjual biji mentah kakao. Dengan harga jual yang fluktuatif, mengakibatkan pendapatan petani sering di luar harapan, terutama saat harga jual rendah. 

“Umumnya masyarakat di sini menjual biji mentah kakao. Kadang mendapatkan harga naik, kadang turun. Saat harga turun inilah risiko bagi petani,” ungkap Eri.

Mengingat potensi kakao yang cukup menjanjikan di daerah itu, tim dosen dari Universitas Negeri Padang (UNP mengadakan kegiatan pengabdian kemitraan masyarakat dalam bentuk pelatihan kepada kelompok PKK Kanagarian Tajung Alam dan Kanagarian Barulak. 

Kegiatan yang dipusatkan di aula Kantor Camat Tanjung Baru, digelar pada Minggu (15/9/2019) yang dibagi ke dalam dua sesi yakni materi dan praktik. Fokus pelatihan ditujukan kepada kaum ibu anggota PKK dalam mengolah bahan baku dari biji kakao. 

Pelatihan dimulai dengan pembekalan materi tentang konsep pemasaran produk kuliner UMKM berbahan baku biji kakao olahan.  

Menurut pemateri motivasi wirausaha, Whyosi Septrizola, SE., MM., para ibu PKK perlu membangun konsep berwirausaha sehingga bahan baku biji kakao kering dapat diolah ke berbagai produk siap konsumsi dengan nilai jual yang lebih tinggi. 

Sementara itu, pemateri bidang strategi pemasaran, Astra Prima Budiarti, SE., BBA (Hons)., MM., menerangkan, pemilik kebun kakao di Kanagarian Tanjung Alam dan Barulak harus berusaha membuat inovasi produk sehingga bisa memberi keuntungan finansial lebih baik.  

Menjual biji kakao saja tidak akan mendatangkan pendapatan lebih besar kepada ibu-ibu anggota PKK yang ingin membantu meningkatkan perekonomian keluarga. 

“Ibu-ibu PKK bisa mendapatkan penghasilan lebih dengan adanya inovasi yang mereka ciptakan, misalnya menjual produk dengan nilai jual lebih tinggi,” katanya.

Salah satu bentuk olahan bahan kakao yang mudah dibuat adalah produk kue rumahan. Para ibu PKK bisa memanfaatkan bahan baku yang sudah dimiliki dengan tambahan beberapa modal dan pengelolaan tata usaha yang baik dalam bidang usaha kelas kecil dan menengah (UKM).  

Dalam materi perencanaan usaha makanan dan perhitungan keuntungan usaha, pemateri bidang perencanaan usaha, Megawati, SE., MM., menerangkan bagi ibu-ibu PKK yang ingin memulai usaha di industri makanan perlu mengetahui beberapa hal dasar. 

Megawati menyampaikan, ibu-ibu PKK perlu memahami keunggulan produk olahan kakao yang dibuat. Memberi nama produk yang tepat perlu dilakukan selain dari penggunaan bahan baku, proses pengerjaan dan lainnya.  Selain itu harga produk diusahakan lebih kompetitif dibanding produk sejenis yang sudah beredar.  

“Strategi distribusi dan promosi juga perlu dipahami dengan membangun relasi seperti agen atau toko kue, minimarket bahkan ke tingkat supermarket sekalipun,” sebutnya.

Selanjutnya,  pada tahap awal, ibu-ibu PKK mesti memahami profil konsumen yakni siapa saja target konsumen dari produk olahan tersebut.  

Menurut Megawati, persaingan adalah hal yang tidak dapat dihindari dalam proses berwirausaha. Pelaku UMKM harus memiliki motivasi kuat agar usaha tetap bergerak maju. Setelah produk dikenal, maka upaya mempertahankan konsumen dan memperluas jangkauan pasar perlu dilakukan dengan terus berinovasi, menghasilkan produk kekinian. 

Selain itu,  target dalam setiap kegiatan usaha adalah keuntungan. Pemateri bidang keuangan, Mike Yolanda, SP., MM., mengatakan dalam memulai usaha,  kendala yang kerap ditemukan adalah perihal mengatur biaya produksi dan menetapkan harga jual.  

Menurutnya,  sebelum menentukan harga jual kepada konsumen harus dihitung terlebih dahulu biaya produksi yang dikeluarkan. Menentukan harga jual akan memengaruhi berapa banyak keuntungan yang diperoleh dan kapan bisa balik modal. 

“Dari perhitungan tersebut dapat diproyeksikan dan dikelola laba atau keuntungan yang dinginkan dalam satu bulan hingga tiap tahunnya,” kata Mike.

Potensi perkebunan kakao yang dimiliki sebagian besar warga di Tanjung Baru, perlu dimaksimalkan dengan upaya peningkatan nilai produk,  sehingga bisa menambah pendapatan ekonomi keluarga.  Ibu-ibu PKK di daerah ini bisa berkontribusi dengan cara membuat usaha berupa produksi kue rumahan dengan bahan dasar kakao. 

Dalam kegiatan pengabdian kemitraan masyarakat oleh tim dosen UNP ini, pelatihan yang diberikan tidak saja berupa pembekalan secara teoritis, namun juga secara praktik. Para ibu PKK dilatih cara mengolah biji kakao menjadi produk siap konsumsi berupa kue kotak dengan beberapa jenis seperti pie cokelat, brownis, selai dan puding cokelat.  

“Kami berusaha membuat inovasi dari biji kakao itu dibuat menjadi produk kue dan bisa dijual oleh ibu-ibu PKK untuk dapat meningkatkan pendapatan ibu-ibu di Tanjung Baru,” kata Ezi Anggraini, M.Pd.

Kegiatan Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) oleh dosen UNP, diberi judul peningkatan peranan perempuan sebagai income generating agent keluarga,  melalui pelatihan pengolahan cacao nibs,  menjadi produk bernilai jual pada kelompok PKK Kenagarian Tanjung Alam dan Barulak, Kecamataan Tanjung Baru, Kabupaten Tanah Datar. 

Ketua pelaksana, Rizki Sri Lasmini, SE., MM., menjelaskan program yang dibiayai dari dana Dipa UNP tahun 2019 ini,  bertujuan mengubah pola pikir para ibu PKK, dari menjual bahan mentah kakao kepada menjual produk olahan bahan dasar kakao yang bernilai jual lebih tinggi. 

“Diharapkan melalui program PKM UNP ini, ibu-ibu PKK di Kanagarian Tanjung Alam dan Barulak khususnya bisa termotivasi dan mengimplementasikan pengetahuan yang sudah diperoleh menjadi tindakan riil di bidang usaha produksi olahan kakao,” kata Rizki.

Pada tahap awal, program ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di Kecamatan Tanjung Baru, khususnya di dua kanagaraian Tanjung Alam dan Barulak. 

Perwakilan penggerak PKK Nagari Tanjung Alam, Jusmanidar mengungkapkan pelatihan yang diberikan dari program PKM UNP ini telah membuka wawasan anggota penggerak PKK, tentang kegunaan kakao yang tidak sekadar dijual dalam bentuk biji kering. 

“Selain dapat membantu perekonomian keluarga, pengolahan biji kakao di kelompok PKK bisa berpeluang membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat di sini,” katanya.

Perwakilan petani kakao Tanjung Baru, Erinaldi mengharapkan program tersebut dapat berlanjut hingga dari Kecamatan Tanjung Baru muncul produk-produk olahan kakao yang benilai jual tinggi dan mengangkat perkonomian masyarakat sekitar.  

“Kami masyarakat di sini berharap, setelah dibina, kemudian berkelanjutan, sehingga ada hulu dan hilirnya, bisa menghasilkan suatu produk yang punya nilai jual yang bisa mengangkat perekonomian,” harapnya.

Peningkatan kesejahteraan dan perkonomian masyarakat dapat diwujudkan melalui upaya dan langkah yang tepat. Hal itu dapat dilakukan, salah satunya dengan memaksimalkan peran ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok PKK di daerah dengan potensi pertanian menjanjikan. 

Permintaan pasar, baik lokal maupun ekspor pada saat ini tidak lagi semata berupa komoditi bahan mentah. Produk olahan yang inovatif dan mengikuti perkembangan serta permintaan pasar akan mampu mendatangkan keuntungan lebih besar, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, khusus yang berprofesi sebagai petani kakao. 

Advertorial

Berita Terkait

Baca Juga